Yuk Mengenal Indonesian Cycads Community 1

Wadah pencinta tanaman anggota famili Cycads.

Terik sinar matahari yang menyengat tidak mengurangi semangat dan minat 9 anggota ICC (Indonesian Cycads Community) untuk belajar cara mengawinkan encephalartos. Selama ini, hampir tidak ada penggemar tanaman itu yang sukses menyerbukkan bunga jantan ke bunga betina.

Masalah lain, banyak cycads koleksi anggota ICC jarang berbunga. Karena itulah, ketika ahli cycads di Nongnooch Tropical Garden, Thailand, A Anders J. Lindstrom dan staf mengajarkan dan mempraktekkan caranya, semua menyimak dengan serius.

Anders Lindstrom (baju jingga), pakar cycads dari Nongnooch Tropical Garden, Thailand.
Anders Lindstrom (baju jingga), pakar cycads dari Nongnooch Tropical Garden, Thailand.

Kunjungan belajar ke Negara Gajah Putih itu hanya salah satu kegiatan ICC. Para anggota ICC juga rutin bertukar pikiran dan berbagi ilmu dalam memelihara tanaman koleksi melalui sosial media. Kegiatan berburu dan berguru dilakukan saat anggota memiliki waktu senggang di antara sejumlah aktivitas sehari-hari.

Menurut kolektor tanaman hias di Jakarta Barat, Andy Darmawan, ICC dibentuk 3 tahun silam di Lapangan Banteng. Jakarta Pusat. Tujuan awalnya sekadar untuk saling mengenal, bersilaturahmi, dan berkumpul.

Ajang belajar

Seiring semakin terjalinnya keakraban di antara mereka, para anggota ICC saling berbagi ilmu dan pengetahuan. Setelah komunitas nyata dibentuk, selanjutnya mereka membuat komunitas sejenis dan bernama sama di dunia maya.

Saat ini jumlah anggota ICC 1.447 orang dari berbagai daerah di Indonesia. Menurut Andy, anggota komunitas meliputi penggemar cycads, berupa zamia, sikas, encephalartos, dion, microzamia, dan palem-paleman. Tanaman-tanaman itu disebut juga keluarga cycads.

Belajar budidaya dan perkawinan tidak dilewatkan anggota ICC di Nongnooch Tropical Garden
Belajar budidaya dan perkawinan tidak dilewatkan anggota ICC di Nongnooch Tropical Garden

Secara kelembagaan, ICC belum memiliki badan hukum. Ketua dan struktur organisasi pun belum ada. Namun, mereka sepakat menunjuk Andy Darmawan sebagai koordinator. Andylah yang mengkoordinir anggota dalam setiap kegiatan. Contohnya dalam kunjungan ke Thailand.

Ia menangani hampir semua hal, termasuk menghubungi pencinta tanaman di Thailand untuk dikunjungi. Andy memang kerap berkunjung ke Thailand sehingga mengenal banyak pemilik nurseri tanaman di sana.

Baca juga:  Juragan Sayur dari Cianjur

“Melalui ICC anggota dapat bertemu langsung atau lewat media sosial, berbagi pengetahuan dan pengalaman. Media sosial juga mempermudah komunikasi antaranggota,” ungkap Hendra Taufik, kolektor di Jakarta Barat. Maklum, anggota terus bertambah karena anggota yang bergabung semakin banyak.

Meski anggota kerabat palem-paleman itu relatif mudah dipelihara, tetapi ilmu tentang tanaman itu sendiri tidak banyak yang menguasai, terutama masalah perbanyakan. Kerabat palem, terutama encephalartos, memang terkenal paling sulit diperbanyak baik secara generatif maupun vegetatif.

Berburu bersama

Kegiatan nyata yang juga sering dilakukan anggota ialah melakukan anjangsana ke kolektor di berbagai daerah. Contohnya Bandung dan Malang. Pada kunjungan ke 2 kota itu, belasan anggota ICC menyambangi kediaman kolektor.

Akhir November 2017 lalu, beberapa anggota ICC berkunjung ke Thailand. Selain berburu koleksi langka, mereka juga berguru ilmu di Nongnooch Tropical Garden.

Manajer sekaligus kurator tanaman Nongnooch, Anders J. Lindstrom, dengan piawai menjelaskan koleksi palem-paleman di sana yang mencapai 600 spesies. Ia juga menjelaskan berbagai hal, seperti karekteristik beberapa jenis-jenis encephalartos. Lindstrom dan asistennya juga mempraktikkan cara penyerbukan bunga encephalartos dari bunga jantan ke bunga betina.

Berburu koleksi acara paling diminati
Berburu koleksi acara paling diminati

Sehari sebelumnya, mereka berburu tanaman koleksi ke kebun milik Narong Chatthongkham, pensiunan jenderal penggemar tanaman di Provinsi Lukbori itu mengoleksi aneka cycads mutasi. Dengan semangat menggebu-gebu, anggota ICC berburu koleksi terbaik yang akan mereka boyong pulang.

Kolektor asal Kabupaten Bogor, Cen Mutan seolah tak ada letihnya mencari tanaman idaman di setiap sudut kebun. Narong memang membiarkan rombongan mencari tanaman apa saja di kebun itu dengan harga bersahabat.

Meski demikian, kegiatan berkumpul ICC tidak serutin komunitas lain. Pasalnya, komunitas ini lebih condong kepada hobi ketimbang bisnis. Sulit untuk mendapatkan keuntungan dalam waktu singkat sebab pertumbuhan tanaman juga sangat lambat.

Baca juga:  Burung Cinta Paling Cantik

Kalau pun bisa, keuntungan dari hasil budidaya mungkin baru bisa dinikmati setelah 10 tahun. Namun demikian, tanaman ini cukup menarik dikoleksi sebab kepemilikan terbatas dan harganya pun stabil. Seiring waktu, ukuran bonggol tanaman bertambah dan harga pun meningkat.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments