Durian janda alias DA-07J rasanya nyaris sempurna. Durian janda paling istimewa di Sumatera Utara.

Nama durian janda membangkitkan penasaran Sunardi, kolektor durian lokal di Sumatera Utara. Ia pun melacak durian legendaris di Langkathulu, Kabupaten Langkat, Provinsi Sumatera Utara. Ia dan tim memang acap kali bertandang ke berbagai sentra untuk mendapatkan durian lokal unggul baru. Dari kegiatan eksplorasi yang telah dijalani sejak 1998. Sunardi mendapat 17 durian unggul lokal.

Daging durian janda tebal mencapai 1-1,5 cm
Daging durian janda tebal mencapai 1-1,5 cm

Pagi itu, dengan mengendarai mobil pick up, tim yang terdiri dari Sunardi, Bang Awie, penggemar durian lokal yang menjadi penunjuk jalan, dan 4 anggota staf nurseri Mulia Tani, bergerak menuju Langkathulu. Daerah yang dituju sebuah desa di pinggir kawasan Bukit Lawang yang merupakan tempat penangkaran orangutan. Untuk mencapai target yang berjarak 35-40 km dari Kota Binjai, tim melewati Desa Padangcermin, Kecamatan Selesai, Kabupaten Langkat.

Tanah durian

Ketika memasuki kawasan Bukit Lawang, perjalanan mulai menguras tenaga dan adrenalin. Harap mafhum jalanan dari bebatuan menanjak cukup terjal. Setelah itu tim melewati hamparan perkebunan karet dan kelapa sawit milik masyarakat. Kondisi itu membuat Sunardi ragu dengan rute perjalanan perburuan itu. Ketika puncak kebosanan mulai melanda, perlahan-lahan pemandangan mulai berubah. Di kiri dan kanan jalan terlihat pohon jenis lain, termasuk durian.

Bahkan ada pohon durian yang dahannya mengarah ke bahu jalan dan sarat buah bergelantungan. Tim berhenti sejenak dan mengamati puluhan pohon durian yang semuanya berbuah lebat. Saking banyaknya pohon durian yang tumbuh di daerah itu sehingga terlontar pujian dari Sunardi, “Ini tanah durian.”

Pohon-pohon tumbuh tidak beraturan menandakan Durio zibethinus itu tumbuh secara alami. Beberapa pohon diperkirakan berumur ratusan tahun lantaran berbatang cukup besar, diameter 1-2 pelukan orang dewasa. Namun, karena lokasi target utama, durian janda masih berjarak setengah jam perjalanan, tim pun segera berangkat.

Setengah jam kemudian tim tiba di lokasi tumbuh durian janda. “Yang mana pohon durian janda?“ tanya Sunardi. Awie yang menjadi pemandu menunjuk salah satu pohon durian setinggi 30 m, diameter 60 cm.

Baca juga:  Kelaci Kacang Lezat

Kondisi tanaman sehat, meski berumur puluhan tahun. Di dahannya bergelayut ratusan buah sebesar bola kaki dan siap panen. Kami pun berharap ada buah segera jatuh agar bisa mencecap durian paling terkenal di Langkat itu. Namun, betapa kecewanya tim ketika penjaga kebun, Sugeng, berkata “Mohon maaf durian ini sudah ditebas oleh orang Medan.” Menurut penjaga kebun itu, pelanggan membeli buah secara borongan sejak bunga muncul seharga Rp15-juta.

Rasa sempurna

Artinya kalau ada buah jatuh, pekebun tidak bisa lagi menjual. Mendengar ucapan Sugeng, seluruh anggota tim kehilangan semangat. Semula tim membayangkan bisa mencicip durian tersohor di Langkat itu, apalagi pohonnya sudah di depan mata. Karena segala rayuan tidak mempan, dengan rasa kecewa kami pun pamitan lalu meninggalkan lokasi. Sepanjang jalan Sunardi berpikir keras untuk menemukan cara agar bisa mencicip durian janda.

Tinggi pohon 30 cm dengan kondisi sehat
Tinggi pohon 30 m dengan kondisi sehat

Tiba-tiba penangkar buah sejak 1998 itu menghentikan kendaraan, seraya turun dan menuju ke sebuah rumah penduduk. Ia menemui pemilik rumah dan menanyakan seluk-beluk durian janda. Tanpa disangka empunya rumah, Sembiring, ternyata masih kerabat si pemilik durian idaman. Menurut Sembiring, masyarakat menyematkan nama janda ke durian itu lantaran pemilik pohon seorang janda. Harapan kami untuk bisa merasakan durian janda kembali terbuka.

”Bagaimana caranya agar kami bisa mencicipi durian janda walaupun satu pongge saja?” tanya Sunardi memohon. Dengan logat Batak yang kental Sembiring berjanji mengusahakan mendapat buahnya dalam dua hari. Sesuai perjanjian, dua hari kemudian, tim kembali mendatangi rumah Sembiring di Langkathulu.

Sembiring menyambut tim di depan rumahnya. Ia lalu bergegas mengambil satu buah durian itu dari dalam rumah. Penampilan si janda tidak meyakinkan, berukuran kecil, bobot berkisar 1,5 kg. Dengan hati-hati durian janda itu dibelah.

Sunardi dan Awie di bawah pohon durian yang dahannya menjorok ke jalanan
Sunardi dan Awie di bawah pohon durian yang dahannya menjorok ke jalanan

Begitu terbelah penampilan daging durian sungguh luar biasa menarik. Warnanya kuning terang seperti kunyit tua. Satu juring hanya berisi satu pongge berukuran 9-10 cm. Begitu digigit, tekstur daging terasa halus dan kering. Dagingnya tebal, mencapai 1-1,5 cm, meski bijinya juga besar. Rasanya perpaduan manis dan pahit yang sangat pas, seolah-olah diramu sendiri. Menurut Sembiring, biasanya bijinya 80-90% kempis.

Baca juga:  Ingin Menanam Pohon Maple? Begini Caranya

Serta-merta Sunardi memberi nilai delapan untuk kualitas janda. Nilai itu ia berikan pada rasa manis dan pahit seimbang. Berdasarkan kriteria yang ditetapkannya, rata-rata durian koleksinya nilainya hanya 7. Bahkan, setelah mendapat informasi tambahan bahwa daya tahan durian itu mencapai 2 hari 3 malam tanpa retak, nilainya pun bertambah menjadi 8,5. Itulah nilai tertinggi dari durian unggulan lokal versi Sunardi.

“Sudah belasan tahun saya melestarikan durian lokal unggul, khususnya wilayah Binjai dan Langkat, baru kali ini merasakan durian nyaris sempurna rasanya,” ungkap Sunardi, Dari 17 varian durian lokalnya yang ia kumpulkan sejak 1989, varian terbaik ialah loved dengan nilai 8. Menurut

Dr Ir Mohamad Reza Tirtawinata, MS, ahli durian di Bogor, daging buah pada durian berbiji besar bisa ditingkatkan lewat budidaya yang tepat. Biji tidak mengempis, tetapi ukuran buah dan daging lebih tebal sehingga persentasi daging yang dikonsumsi lebih besar.

Bila tidak ada yang menebas buah, janda itu dibanderol Rp60.000 per buah. Namun, peluang itu tipis karena tanaman sering diijon penggemarnya dari Medan, Langkat, atau Binjai. Mereka memborong buah saat masih berupa bunga seharga Rp10-juta-Rp15-juta per pohon, tergantung kelebatan bunga dengan risiko ditanggung pembeli. Tidak ingin kehilangan kesempatan, Sunardi pun langsung melakukan negosiasi dengan pemilik pohon untuk mendapatkan entris agar durian itu bisa dilestarikan dan dikembangkan melalui sambung pucuk.

Sekali lagi lewat bantuan Sembiring, pemilik pohon pun sepakat. Maklum, durian itu sudah sering diperbanyak secara generatif, tetapi hingga sekarang tak satu pun yang mewarisi sifat unggul induknya. Akhirnya, terbayar sudah rasa penasaran pada si janda. Tiga bulan kemudian, setelah berhasil menyambung entres menjadi bibit, Sunardi menepati janji membagi bibit durian janda kepada pemilik pohon. Karena risih dengan sebutan janda, Sunardi pun mengganti namanya menjadi DA-07J.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d