Produksi lateks menurun setelah umur 15 tahun

Produksi lateks menurun setelah umur 15 tahun

Produksi pohon karet tua meningkat 200%.

Sebanyak 2.600 pohon karet tua itu merana. Daun pohon berumur seperempat abad itu meranggas. Sejak setahun  silam,  produksi total lateks hanya 0,1 kg per pohon per bulan. Idealnya pohon renta itu masih menghasilkan 0,3 kg per pohon sebulan. Kondisi itu yang menyebabkan  Thobari Hadna, bagian kontrol internal perkebunan karet Kalimas, Semarang, masygul. “Perusahaan sampai hampir tutup karena produksi terus merosot,” ungkap Thobari.

Thobari urung menebang Hevea brasiliensis berumur  25 tahun itu setelah mendapat informasi teknologi RIGG-9 pada Oktober 2013. RIGG merupakan kepanjangan Rubber Improvement by Gas from Getas itu temuan  Akhmad Rouf SP MP, Ir H Setiono MP, dan Dr Hananto Hadi MS pada 2010. Mereka periset di Balai Penelitian Getas, Salatiga, Jawa Tengah. Angka 9 menunjukkan jumlah keunggulan teknologi itu seperti meningkatkan produktivitas, aplikasi mudah, dan aman bagi tanaman.

Produksi lateks naik 200% pascainjeksi gas etilen

Produksi lateks naik 200% pascainjeksi gas etilen

Meningkat 200%

Thobari menginjeksikan 60—80 mg gas etilen per pohon. Frekuensi pemberian 10 hari sekali. Ia menghilangkan kulit luar sekitar 2 cm x 2 cm, memasang aplikator—terdiri atas selang, tabung gas, dan penginjeksi, menancapkan sedalam 2 mm ke jaringan kulit atau floem, lalu menginjeksikan etilen. Dua hari pascainjeksi, penyadap bisa mulai menyayat alur sadap. Pada penyadapan pertama pascainjeksi, getah menetes hingga 24 jam pascapenorehan alur sadap.

Padahal jika menggunakan stimulan cair yang lebih dulu beredar di pasaran, getah berhenti menetes 8—10 jam setelah sadap. Sementara tanpa stimulan getah berhenti menetes 4 jam kemudian. Dalam satu tahun, Thobari hanya menginjeksi selama 8 bulan. Sisanya  untuk  mengistirahatkan tanaman.  RIGG-9 menjadi solusi penurunan produksi pohon karet tua seperti di kebun Thobari. Teknologi itu mendongkrak produksi karet tua melalui injeksi gas etilen. Pada periode  November 2013—Februari 2014,  Thohari menuai 3.556 kg lateks dari 2.600 pohon karet tua.

Baca juga:  Master Muda Ikan Hias

Bandingkan dengan produksi pohon tanpa injeksi, hanya 1.508 kg. Artinya produksi meningkat 236%. Selain itu, ia juga menginjeksi 1.760  pohon karet klon GT 1, berumur 32 tahun.  Dari Desember 2013—Januari 2014 produksi lateks  dengan sistem injeksi 3.029 kg. Padahal tanpa injeksi hanya 579 kg.  Kadar karet kering yang dihasilkan 25%. “Selain produksi lateks meningkat, injeksi etilen juga menghemat tenaga kerja,” ujar Thobari. Awalnya untuk populasi 2.600 pohon, ia menggunakan 7 pekerja. Kini ia hanya perlu 3 orang. Sebab, pola penyadapan yang semula  2 hari menjadi 4 hari sekali.

Bagaimana gas etilen mendongkrak produksi lateks? Menurut Akhmad Rouf, etilen di  jaringan floem meningkatkan sintesis lateks dan menunda pembentukan jaringan sumbat pembuluh lateks. Prosesnya, etilen menaikkan  pH sel tanaman (sitosol) sehingga memicu aktivitas beberapa enzim dan senyawa penting yang berperan dalam proses biosintesis lateks. Etilen juga meningkatkan pasokan air di sekitar bidang sadap melalui ekspresi gen ekuaporin dan mempertahankan stabilitas lateks selama lateks mengalir. Itu berpengaruh terhadap lama aliran dan waktu pembekuan sumbat pembuluh darah. “Lateks lebih lama mengalir sehingga produksi meningkat,” kata Rouf.

Akhmad Rouf SP MP, peneliti RIGG-9 dari Balit Getas

Akhmad Rouf SP MP, peneliti RIGG-9 dari Balit Getas

Karet tua

Dr Thomas Wijaya dari Pusat Penelitian Karet Bogor menjelaskan, teknologi injeksi gas etilen untuk meningkatkan produksi lateks tergolong baru dan belum banyak digunakan di Indonesia. Menurut Thomas, teknologi itu idealnya dilakukan pada tanaman tua berumur lebih dari 15 tahun. “Tanaman berumur kurang dari 15 tahun bakal stres jika diinjeksi etilen,” kata Thomas. Musababnya jaringan tanaman belum mampu menolerir kehadiran bahan asing dalam pembuluh floem.

Menurut Akhmad Rouf pohon yang bisa diinjeksi RIGG-9 harus berumur minimal 15 tahun, terawat baik dengan pemupukan teratur, memiliki tajuk rapat, tidak meranggas, dan tidak mengalami kering alur sadap. Syarat lain,  keliling batang minimal 60 cm, dan kadar karet kering (KKK) ketika aplikasi minimal 25%. Kadar karet kering menggambarkan kualitas karet yang dihasilkan. Semakin rendah KKK, berarti lateks semakin encer karena kadar airnya tinggi.  “Aplikasi dihentikan apabila KKK pohon 20%,” ujar Rouf.

Baca juga:  Media Tanam Sukulen

Ketika Thobari menginjeksi pohon tua,  kondisi tanaman meranggas. Namun, Thobari tetap memberi perlakuan karena ia siap menanggung risiko terburuk: pohon mati. Namun, faktanya produksi kembali menjulang.  Sementara  Thomas menyarankan penghentian  perlakuan jika kadar karet kering kurang dari 25%.  Menurut Thomas, teknologi RIGG-9, membuat pekebun cukup menyadap 1/4 lingkar batang. Umumnya lingkar sadap karet mencapai setengah lingkar batang. Dengan injeksi etilen, hasil sadapan dari seperempat lingkar batang hampir menyamai pohon biasa yang disadap hingga setengah keliling batang. Otomatis itu berarti umur ekonomis mencapai dua kali lipat.

Meski peningkatan produksi tinggi, biaya pemasangan  RIGG-9 ekonomis, Rp1.700 per pohon. Dengan kondisi harga karet seperti saat ini Rp20.000—Rp25.000 per kg, kenaikan produksi 21,5 gram per pohon per sadap mampu menutup biaya itu.  Thobari berencana memperluas penerapan teknologi itu. Saat ini baru 20% dari luas total (400 ha). “Rencananya akan kami perluas hingga 33% luas kebun,” ujar Thobari.  Aplikasi gas etilen efektif mendongkrak produksi lateks tanpa menyebabkan tanaman mati atau menurunkan produksi. Syaratnya kesehatan tanaman terjaga dengan pemupukan teratur. (Desi Sayyidati Rahimah)

cover 1234.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d