Kontes 8 ikan hias eksotis di ajang Nusantara Aquatic (Nusatic) 2016.

Arwana milik Abraham Saiya mendapat Grand Champion.

Arwana milik Abraham Saiya mendapat Grand Champion.

Total 18 juri internasional berdiskusi untuk menentukan grand champion 13th All Indonesia Koi Show 2016. Keputusan mereka koi taisho shanshoku sepanjang 85 cm milik Henry Usman menjadi grand champion. Meskipun ukurannya lebih kecil daripada para pesaingnya yang rata-rata 90–111 cm, ikan milik Usman memikat perhatian dewan juri. Menurut juri asal Blitar, Jawa Timur, Agus Riyanto, koi itu layak jawara.

Koi milik Henry Usman peraih grand champion 13th All Indonesia Koi Show 2016.

Koi milik Henry Usman peraih grand champion 13th All Indonesia Koi Show 2016.

Riyanto mengatakan, ikan memiliki perpaduan tubuh dan warna yang bagus. Juri dari Asosiasi Pencinta Koi Indonesia (APKI) itu mengatakan, kelebihan lain ikan juara terletak pada warna putih yang sangat bagus. “Warna putihnya kinclong, pola juga bagus, secara keseluruhan layak menjadi grand champion,” kata Agus. Perawat koi itu, Kiki Sutarki, menuturkan, ikan berasal dari galur tetua yang juga bagus.

Pakan alami
Menurut Kiki perpaduan antara perawatan dan genetis ikan sangat berpengaruh. Faktor pemilihan galur tetua ikan sangat perlu diperhatikan jika ingin menghasilkan ikan jawara. Adapun untuk mengoptimalkan warna, pemilik Samurai Koi Center itu kerap memuasakan ikan sepekan menjelang kontes. Kiki mengatakan, pemberian pakan dan nutrisi untuk meningkatkan warna sebulan menjelang kontes pun mengoptimalkan warna ikan.

“Menjaga suhu di kisaran 23°C juga penting untuk adaptasi bagi ikan yang baru datang dari luar negeri,” kata pehobi sejak 1991 itu. Kontes lain pada perhelatan Nusatic 2016—akronim Nusantara Aquatic—adalah kontes arwana. Pada gelaran itu, klangenan milik Abraham Saiya pehobi asal Jakarta itu sukses mendapat gelar grand champion. “Saya tak menyangka dapat juara, ibaratnya seperti vini vidi vici, saya ikut, berlomba, dan akhirnya menang,” kata pehobi sejak 1996 itu.

Penyerahan piala bergilir 13th All Indonesia Koi Show 2016.

Penyerahan piala bergilir 13th All Indonesia Koi Show 2016.

Menurut Sriyadi juri asal Jakarta, klangenan milik Saiya memang layak menjadi jawara. “Performa dan fisik ikan memang sesuai kriteria penilaian, semuanya serasi” kata pehobi sejak 2003 itu. Adapun kriteria penilaiannya meliputi warna, tubuh, penampilan dan gaya renang, kumis dan mulut, mata, dayung, serta ekor. Menurut Ampi—panggilan akrab Abraham Saiya—pemberian pakan alami mengoptimalkan performa ikan.

“Pakan seperti kodok kecil atau ulat sutra membuat ikan lebih aktif dan menunjukkan performa optimal dibandingkan dengan pakan pelet,” papar Ampi. Pria yang memiliki penangkaran arwana di Pontianak, Kalimantan Barat, itu mengatakan, pH air harus dijaga pada kisaran 6,5—7. “Pemeliharaan arwana gampang-gampang susah, jika perawatan kurang sesuai ikan pun tidak akan optimal,” katanya.

Louhan

Dewan juri 13th All Indonesia Koi Show 2016.

Dewan juri 13th All Indonesia Koi Show 2016.

Kontes lou han pun memeriahkan gelaran Nusatic. Klangenan milik Budi Triyono, pehobi asal Jakarta, sukses meraih gelar grand champion. “Ini adalah gelar grand champion perdana,” katanya. Menurut juri asal Surakarta, Jawa Tengah, Agus Triono, keuggulan lou han yang berumur 15 bulan terlihat dari tampilannya yang menarik dan indah dibandingkan yang lain.

Baca juga:  Kontes Durian: Juara di Tapal Batas

“Dari anatominya, bentuk kepala, mutiara, marking, hingga ketahanan fisik semua bagus,” kata juri sejak 2010 itu. Menurut Bobid—panggilan akarab Budi Triyono— perawatan sehari-hari justru berpengaruh terhadap kualitas ikan. Salah satunya rutin ganti air minimal sekali tiap pekan. Selain itu pemberian pakan alami seperti udang dapat meningkatkan performa ikan. “Menjelang kontes, pemberian pakan khusus warna disarankan, agar warna ikan optimal,” kata pehobi sejak 2004 itu.

M Rafiq, panitia sekaligus pembawa acara ACI 3.

M Rafiq, panitia sekaligus pembawa acara ACI 3.

Menurut panitia kontes, Hendrik Lesmana, setidaknya 300 ikan dari total 100 peserta turut berpartisipasi dari seluruh daerah di tanahair. Pria 37 tahun itu mengatakan, gelaran kali ini terdiri dari 42 kelas dan dinilai oleh 3 orang juri dalam negeri. “Dua juri dari Surakarta, Jawa Tengah, dan seorang juri dari Bandung, Jawa Barat,” paparnya. Menurut Hendrik, harapan dari diselenggarakan kontes ini adalah agar louhan lebih banyak dikenal dikalangan masyarakat Indonesia.

Kontes lainnya yang tak kalah bergengsi pada ajang Nusatic adalah kontes diskus. Diskus jenis leopard milik Injaaz, pehobi asal Qatar, berhasil mendapat gelar grand champion. Tiga juri asal Jakarta, Beni Herman, Alvin Surya, dan Agoesman Deli sepakat memberikan gelar grand champion karena diskus milik Injaaz memiliki kelebihan pada corak dan kesolidan warna. Total nilai leopard itu 266.

Grand champion lou han milik Budi Triyono.

Grand champion lou han milik Budi Triyono.

Pehobi diskus lain yang juga turut berbahagia adalah Gunadi. Pehobi asal Palu, Sulawesi Tengah, mendapat juara kesatu kelas solid blue kategori senior. Menurut pria yang baru pertama kali mengikuti kontes senior itu, perawatan diskus serba sulit. Satu bulan menjelang kontes, pria yang berprofesi sebagai distributor sepeda motor itu harus memisahkan satu ikan per akuarium agar diskus terbiasa.

Gunadi juga mengganti air akuarium setiap hari agar tidak ada bakteri. Diskus miliknya mendapat nutrisi berupa cacing es 3 kali sehari, vitamin B-kompleks dan vitamin C 3 kali sehari. “Berbeda dengan diskus kelas junior yang diberi makan 5 kali sehari. Pakannya pun harus selektif, cacing tidak boleh kotor,” kata pehobi sejak 1980-an itu. Menurut panitia kontes diskus, Henky, total 120 ikan berpartisipasi pada kontes itu.

Cupang peraih best of the best (BOB), milik Eric Tiu asal Filipina.

Cupang peraih best of the best (BOB), milik Eric Tiu asal Filipina.

Panitia menyediakan total 10 kelas, yakni 6 kelas senior, 2 kelas junior, dan 2 kelas baby. “Bagi para penggemar diskus, acara Nusatic bagus dan menarik. Untuk jual beli mereka menaikkan harga hingga 200%. Misal harga Rp1.000.000, jika menang kontes menjadi Rp3.000.000,” katanya.

Baca juga:  Jamur Lezat Lawan Kanker

Betta
Cupang milik Eric Tiu, pehobi asal Filipina, berhasil mendapat gelar best of show (BOS). Menurut lima juri cupang Ishizu Hiroki (Jepang), Ize Mob (Brunei), Park Li (Malaysia), Garry Ching (Filipina), dan Mulyadi (Indonesia), Betta imbelis milik Eric memiliki kelebihan pada fisik yang khas, tulang ekor terlihat panjang dan kuat. Sekilas, siripnya terlihat seperti layar yang sobek.

Diskus juara milik Injaaz, peserta asal Qatar.

Diskus juara milik Injaaz, peserta asal Qatar.

Menurut perawat ikan itu, Ferry Luhur, perawatan cupang dengan pemberian pakan berupa kutu air, cacing belatung, dan bintik nyamuk. Pria asal Bandung, Jawa Barat, itu mengganti air minimal 3 hari sekali. “Jika kondisi air baik, optimasi pH air pun baik. Hal tersebut dapat memicu keindahan warna tubuh ikan cupang,” katanya. Pehobi lain yang koleksinya sukses mendapat gelar grand champion adalah Yudie Martino.

Pehobi sejak 2014 itu rutin mengganti air akuarium 3 hari sekali. Untuk melatih mental cupang miliknya, Yudi membuka sekat antara akuarium, supaya cupang bergaya. Ahmad Rifai, panitia kontes cupang Nusatic menuturkan kontes sebagai ajang promosi. untuk menarik minat masyarakat. Menurut Mulyadi, juri kontes, cupang dilihat dari tubuh, warna, bentuk sirip dan kecepatan gerak tubuh.

Maskoki milik Ferry Wijaya meraih predikat terbaik.

Maskoki milik Ferry Wijaya meraih predikat terbaik.

Selain itu, yang menarik pemilik ikan pemenang mendapat piala presiden, dengan total hadiah untuk para juara sebesar Rp20.000.000, sertifikat, dan medali. Adapun ikan mas koki jenis oranda super jumbo milik Ferry Wijaya menjadi grand champion. Menurut juri maskoki, E J Sauw Khim, kelebihan ikan jawara itu tubuhnya yang besar, sehingga kedua ikan Ferry Wijaya masuk pada kelas oranda super jumbo.

Menurut Ferry perawatan intensif pada pemberian pakan. Pakan maskoki harus berkualitas tinggi. Ia memberi pakan 4 – 5 kali sehari. Kualitas air harus dalam kondisi prima. Ia 5 tahun mengikuti kontes. Ikan oranda super jumbo miliknya baru berumur setahun lebih. Ferry pun selektif dalam memilih ikan, “Pilih maskoki dengan genetik bagus,” tutur Ferry.

Akuaskap karya Agung Wijaya, peraih grand champion.

Akuaskap karya Agung Wijaya, peraih grand champion.

Menurut Dani, anggota panitia kontes maskoki, harga koki kelas baby berkisar antara Rp200.000 – Rp500.000, kelas senior Rp500.000–Rp1.500.000. Maskoki bertahan hingga umur 10 tahun. Namun, untuk mengikuti kontes hanya bertahan 3 tahun. Lewat tahun ketiga, biasanya fisik maskoki menurun. Kontes Nusatic kali ini menghadirkan 158 ikan maskoki.

Akuaskap
Kontes Indoscapersrace juga meramaikan gelaran Nusatic 2016. Pada ajang itu, Agung Jaya, perancang akuaskap asal Jakarta berhasil mencuri hati dewan juri. Mengusung tema “di luar logika” sukses mendapat gelar grand champion. “Konsepnya mengeksekusi perpaduan antara dunia air, alam, dan angan,” kata Agung. Agung membutuhkan waktu 7 jam untuk memodifikasi tank gex 900 menjadi sebuah mahakarya yang luar biasa.

566_-47“Semula saya tidak yakin bisa memenangi gelar grand champion, karena even yang diselenggarakan bersifat terbuka, baik master atau yang berjiwa seni boleh ikut,” katanya. Agung menambahkan, perancang akuaskap peringkat 6 dunia pun turun. “Sebelumnya saya agak pesimis melihat peta persaingan,” katanya. Namun, Agung menyingkirkan 75 pesaing lain dan layak mendapat gelar grand champion. (Muhamad Fajar Ramadhan & Marietta Ramadhani /Peliput:Imam Wiguna, Risty Mirsawati, Rachmania Putri, Selma Fajriati)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d