Yang Gosong Tetap Elok 1
Rangkaian arang bertema Nature’s Organized Chaos karya Peny Zulandari berasal dari bongkahan-bongkahan arang kayu dan tempurung kelapa

Rangkaian arang bertema Nature’s Organized Chaos karya Peny Zulandari berasal dari bongkahan-bongkahan arang kayu dan tempurung kelapa

Bongkahan arang berwarna hitam legam itu menjadi cantik dengan paduan aneka bunga.

Arang lazimnya sebagai bahan bakar. Masyarakat memanfaatkan barang gosong itu untuk memanggang daging. Sementara di Jepang, arang digunakan sebagai penghangat air dalam acara minum teh. Namun, di tangan para perangkai bunga, arang menjadi bahan utama untuk membuat rangkaian berkelas.

Peny Zulandari, perangkai bunga di Jakarta Selatan, terinspirasi untuk mewujudkan sebuah rangkaian bertema Nature’s Organized Chaos. Peny menata bongkahan-bongkahan arang meniru panorama bebatuan gurun di atas nampan kayu berbentuk persegi panjang. Ia memilih tanaman-tanaman sukulen seperti adenium, kaktus, haworthia, echeveria, dan euphorbia sebagai ornamen untuk menguatkan kesan padang pasir. Beberapa daun adenium dibiarkan menguning untuk memberikan kesan alami.

Tantangan

Peny menggunakan dua jenis arang dalam rangkaian itu yakni arang kayu dan tempurung kelapa. Ia memilih arang kayu untuk membuat bukit batuan tiruan. Pasalnya, selain berbentuk bulat, arang kayu bertekstur lebih kasar mirip bebatuan di alam. Sementara itu arang batok kelapa digunakan sebagai dasar rangkaian sebab lebih tipis dan memiliki permukaan halus.

Rangkaian arang karya Yosephine Satiti Rayastuti terinspirasi dari aliran lahar panas letusan gunung berapi

Rangkaian arang karya Yosephine Satiti Rayastuti terinspirasi dari aliran lahar panas letusan gunung berapi

Anggota Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) Cabang Jakarta Selatan itu mula-mula meletakkan plastik bening di permukaan nampan kayu sebagai alas rangkaian. Selanjutnya ia menempelkan arang batok kelapa hingga menutupi permukaan nampan. Untuk membuat bukit batu, Peny memanfaatkan cobek plastik, menempatkan dengan posisi terbalik di sudut kiri nampan, lalu meletakkan kaktus beserta pot di atas cobek itu. Selanjutnya, ia menutup tubuh cobek dengan bongkahan-bongkahan arang kayu secara acak.

Baca juga:  Hutan Mini di Rumah Hom

Wanita berkulit putih itu juga membuat kontur bukit dengan ketinggian yang berbeda di beberapa sudut rangkaian sehingga permukaan rangkaian terlihat dinamis. Kemudian, ia menancapkan adenium, kaktus, haworthia, echeveria, dan euphorbia di antara tumpukan arang batok kelapa. Peny menimbun dahulu akar pakis sebagai media tanam sebelum tanaman diletakkan lalu menyisipkan celosia merah dan kuning untuk memberi warna rangkaian.

Yang menarik, ia menambahkan lumut basah pada rangkaian, padahal lumut jarang ada di gurun. “Lewat rangkaian saya ingin bercerita bahwa kehidupan itu memiliki dua sisi yakni kering dan basah alias sedih dan bahagia,” katanya. Kehidupan yang kering diwakili dengan kehadiran arang dan tanaman-tanaman sukulen, sedangkan kehidupan yang basah diwakil oleh lumut.

Menurut Lucia Raras, ketua Dewan Perwakilan Cabang (DPC) IPBI Jakarta Selatan, arang jarang digunakan sebagai elemen merangkai bunga. Maklum, sosoknya kurang menarik. “Justru itu merupakan sebuah tantangan bagi para perangkai untuk melahirkan ide kreatif,” kata Raras. Para perangkai dituntut menampilkan arang menjadi sebuah rangkaian yang menarik.

Alam Liar

Ratna Sandhi Heru menampilan sebuah pemandangan alam liar lewat arang balok kayu yang berpadu dengan beragam jenis bunga

Ratna Sandhi Heru menampilan sebuah pemandangan alam liar lewat arang balok kayu yang berpadu dengan beragam jenis bunga

Bukti arang  kayu  sumber ide diperlihatkan oleh Yosephine Satiti Rayastuti dan Ratna Sandhi Heru, keduanya di Bintaro, Tangerang Selatan, Banten. Yosephine menghadirkan arang balok kayu dalam rangkaian bertema erupsi vulkanik. Untuk membuat manekin gunung  ia memanfaatkan balok kayu dari pohon tumbang. Pipin—sapaannya—lantas memahat bagian tengah balok kayu itu membentuk sebuah cekungan yang memanjang. “Cekungan itu ibarat jalan bagi lahar panas,” katanya.

Balok kayu terpahat itu lantas dibakar selama 30 menit. Setelah kayu terbakar sempurna, wanita berusia 51 tahun itu mengoleskan minyak goreng menggunakan kuas supaya kayu mengilap alami. “Jangan menggunakan minyak tanah sebab berbau,” katanya. Selanjutnya, ia meletakkan sebuah tempurung yang terbentuk dari kumparan rotan di bagian kiri atas balok kayu sebagai tempat munculnya lahar. Pipin memilih ornamen berkelir menyala seperti mawar merah, mawar jingga, dan celosia kuning yang disusun memanjang ke bawah menyerupai aliran lahar. Ia juga menambahkan daun patahtulang, monstera, dan amaranthus di puncak rangkaian yang mewakili gambaran sebuah hutan.

Baca juga:  Kontrol Kutu Daun

Sementara itu, Ratna Sandhi Heru menampilkan sebuah rangkaian berkesan alam liar khas hutan tropis. Ia menghias balok arang kayu itu dengan aneka bunga berwarna ungu seperti  phalaenopsis ungu, agapanthus ungu, gomprena ungu, dan statis ungu. “Ungu simbol pengharapan,” katanya. Ia mempertajam simbol itu dengan membuat pola rangkaian yang cenderung ke atas.

Ratna sengaja mengeksplorasi akar phalaenopsis agar kesan liar semakin nyata. Begitu juga dengan daun-daun anggrek yang dibiarkan tetap menempel pada batang phalaenopsis. “Bunga-bunga berwarna ungu itu berguna untuk menimbulkan sebuah pemandangan liar tapi lembut,” katanya. Di tangan para perangkai bunga itu arang bukan hanya berfungsi sebagai penghasil bara, tapi bisa menjelma menjadi rangkaian cantik. (Andari Titisari)

Arang Tampil Cantik

Untuk membuat rangkaian arang cukup mudah. Ikuti langkah drg Novembriati, perangkai bunga di Jakarta Selatan, berikut ini:

  1. Siapkan bahan dan alat seperti potongan arang kayu, wadah cekung dari anyaman bambu, lem, selotip, dan gunting
  2. Selimuti bagian bawah wadah menggunakan selotip. Lumuri arang kayu menggunakan lem lalu tempelkan pada wadah
  3. Pasang floral foam sebagai bantalan bunga
  4. Hiasi dengan aneka bunga

532_29

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments