Ekowisata kunang-kunang di Bali

Dahulu masyarakat kerap menjumpai kunang-kunang di halaman rumah. Seiring berjalannya waktu satwa nokturnal itu sulit dijumpai karena alih fungsi lahan dan polusi cahaya. Melihat pertunjukan cahaya kunang-kunang menjadi hiburan sekaligus petualangan yang menyenangkan terutama untuk masyarakat perkotaan. Atas dasar itulah Apni Tristia Umiarti dan Made Sukana menyediakan jasa wisata kunang-kunang sejak 2010.

Kunang-kunang merupakan serangga secil yang dapat memancarkan cahaya saat malam hari, cahaya yang redup dan berkedip-kedip. Hewan nokturnal ini memamerkan cahaya demi mencari pasangan. Firefly (nama lain kunang-kunang) menyukai tempat yang lembab. Makanan kunang-kunang adalah cairan tumbuhan, cacing maupun serangga lain. Serangga bertubuh lunak ini telah menjadi daya tarik tersendiri bagi banyak wisatawan,

“Keluar di malam hari dan menikmati kunang-kunang di habitat aslinya merupakan pengalaman yang tak terlupakan,” kata Profesor Sara Lewis dari Tufts University.

Melalui bendera CV Baliedu Tours And Travel, Apni dan Made mengantarkan wisatawan dalam dan luar negeri menikmati keeksotisan cahaya kunang-kunang di Bali. Keduanya berharap tur kunang-kunang menumbuhkan kesadaran masyarakat untuk menjaga habitat kumbang yang terdiri dari 2.000 spesies itu.

Kunang-kunang juga bisa menjadi sarana pembelajaran anak-anak agar mendekatkan diri ke alamMade Sukana

Menurut peneliti kunang-kunang dari Tufts University, Massachusetts, Amerika Serikat (AS), Prof Sara Margery Lewis PhD, di negaranya dan negara lain wisata kunang-kunang pun berkembang pesat. Banyak orang berkutat dengan kehidupan modern dan sangat sedikit aktivitas yang bersentuhan dengan alam. Oleh karena itu menyaksikan pertunjukan cahaya kunang-kunang salah satu solusi keluar dari rutinitas itu.

kunang-kunang,firefly,produksi cahaya sendiri pada kunang-kunang
proses produksi cahaya sendiri pada kunang-kunang

Masyarakat Amerika Serikat memiliki beberapa tempat melihat kumbang yang ukuran jantannya lebih kecil daripada betina itu. Lokasinya antara lain DuPont State Forest dan Great Smoky Mountains, keduanya di North Carolina. Ekowisata kunang-kunang juga berkembang di Jepang, Thailand, dan Malaysia.

Baca juga:  Seminar Ilmiah Binahong

Pramesa mendukung ekowisata kunang-kunang asalkan memegang prinsip ekowisata yang bertujuan untuk konservasi, menguntungkan komunitas lokal, berkelanjutan, dan meningkatkan kesadaran masyarakat.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d