Volvaria Tanah Rawa 1
Kepala dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, dan peternakan, kabupaten Karawang, kadarisman

Kepala dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, dan peternakan, kabupaten Karawang, kadarisman

Sentra padi sekaligus sentra jamur merang dengan berbagai olahan.

Ada gula ada semut, ada sawah ada jamur merang. Itulah Karawang yang menjadi lumbung padi nasional. Kepala Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Karawang, Kadarisman, menuturkan pengembangan jamur merang Volvaria volvaceae amat potensial. Musababnya, Karawang terkenal sebagai sentra padi. Kadarisman menjelaskan, satu ha sawah menghasilkan 5 ton gabah kering panen dan 5 ton jerami kering. Padahal Kabupaten Karawang memiliki 94.000 ha sawah.

Penanaman padi di Karawang rata-rata 2 kali per tahun sehingga terdapat 940.000 ton jerami. Jerami itulah yang digunakan sebagai media tanam jamur merang. Kadarisman mengungkapkan pada 2013 Karawang memiliki 2.600 kumbung jamur merang dengan luas rata-rata 28 m2 per kumbung. Dengan luasan itu, rata-rata pekebun dapat memanen 1,5 kuintal merang per siklus atau sekali budidaya selama 35 hari. Dalam setahun, petani dapat membudidayakan 8—10 kali di sebuah kumbung. Artinya, ada sekitar 3,9-juta ton merang segar per tahun tahun yang diproduksi petani Kerawang.

kumbung stirofoam

kumbung stirofoam

Kumbung stirofoam

Saat ini sentra budidaya jamur merang di Karawang tersebar di Kecamatan Cilamaya Wetan, Cilamaya Kulon, Jatisari, Kotabaru, Purwasari, dan Cikampek. “Sementara daerah pengembangan jamur merang ada di Tempura dan Lemahabang,” kata Kadarisman. Para petani mulai beralih menggunakan kumbung stirofoam meski kumbung bilik bambu juga masih digunakan. Menurut petani di Cilamaya, Kabupaten Kerawang, Katim Indrawan, kumbung stirofoam meningkatkan produksi jamur.

Ia mempunyai 5 kumbung, sebagian menggunakan stirofoam, yang lain bilik bambu. Ukuran kedua jenis kumbung itu sama, yakni 6,5 m x 4 m. Katim mengatakan  produksi kumbung stirofoam lebih tinggi 50 kg dibandingkan dengan kumbung bilik bambu. Produksi menjulang itu karena kumbung stirofoam mampu menjaga suhu pada kisaran 32—34oC dan kelembapan di atas 80%. Selain itu kumbung stirofoam lebih awet, tahan hingga 5 tahun; kumbung bilik bambu, 2 tahun.

Baca juga:  Pijahkan Ikan Dewa

Inovasi lain di sentra itu adalah mengolah jamur merang untuk meningkatkan nilai tambah, terutama jamur berkualitas rendah. Jamur bermutu rendah pada akhirnya  tetap dijual dengan harga tinggi setelah pengolahan. Pengolahan jamur sekaligus untuk mengantisipasi harga jual rendah akibat pasokan berlebih. Koperasi Serba Usaha Tunas Karya di Desa Gempolkolot, Kecamatan Banyusari, Kabupaten Karawang, Provinsi Jawa Barat, misalnya mengolah jamur menjadi rendang.

olahan jamur merang

olahan jamur merang

“Selain rendang, kami juga memproduksi naget, mi, pepes, roti, dan sup instan jamur merang,” kata Tani Suryadinata, ketua Koperasi Serba Usaha Tunas Karya. Suryadinata menuturkan olahan naget, rendang, dan pepes jamur merang tahan simpan maksimal 45 bulan dalam lemari pendingin. “Jika tidak disimpan dalam lemari pendingin maka hanya tahan sebulan,” kata ketua gabungan kelompok tani (gapoktan) Barokah itu. Saat ini produksi ketiga olahan jamur merang memang masih berskala kecil.

Olahan jamur

Suryadinata mengolah jamur menjadi beragam penganan sejak 2013 sehingga belum dikenal di pasaran. “Memasarkan produk baru yang belum dikenal konsumen memang memerlukan waktu. Untuk itu saat ini kami hanya memproduksi berdasarkan permintaan,” ujar petani jamur merang sejak 2008 itu. Produksi naget, misalnya, hanya 150 bungkus dengan isi masing-masing 12 naget per pekan. Ia menjual naget Rp8.000 per bungkus.

Sementara produksi rendang jamur merang baru 20 bungkus sepekan. Harga satu bungkus rendang berbobot 250 gram itu Rp20.000. Untuk pengembangan pasar, Suryadinata pun bekerja sama dengan salah satu pasar swalayan. Ia harus memperbaiki penampilan kemasan olahan jamur agar sesuai standar. Contohnya, menampilkan merek, logo halal, dan logo buang sampah pada tempatnya.

Jamur merang memang salah satu jenis komoditas hortikultura potensial di Karawang.  Namun, masih banyak petani mendapatkan modal dari tengkulak. Akibatnya, tengkulak menekan harga jamur merang. Petani mendapatkan harga jual lebih rendah—selisih harga hingga Rp5.000 per kg—dibandingkan harga di pasaran. Suryadinata mengungkapkan kelompok taninya terdiri dari 70 anggota dengan total kumbung 217 buah. “Dari 70 anggota, hanya 10 anggota yang memiliki kumbung dari modal sendiri,” ujarnya. Sekitar 85% kumbung di Kecamatan Banyusari merupakan milik tengkulak.

Baca juga:  Manjakan Para Penarik Kail

Untuk meningkatkan kesejahteraan petani merang salah satu caranya dengan membentuk koperasi. Suryadinata dan rekan yakin koperasi dapat memutus ketergantungan petani pada tengkulak. Sebab, koperasi dapat membantu pemasaran produk dan memberikan modal kepada anggotanya. (Rosy Nur Apriyanti)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments