Varietas Sambiloto Pertama

Varietas Sambiloto Pertama 1

Varietas baru sambiloto pertama, sambina 1 yang produktif hingga 10 ton per hektare.

Sambina 1 varietas baru sambiloto.

Sambina 1 varietas baru sambiloto.

Masyarakat India menyebutnya mahatikta bermakna raja pahit, mengacu pada citarasanya yang sangat pahit. Itu lantaran kandungan senyawa aktif andrographolid yang mencapai 1,84%, yang memenuhi standar farmakope herbal Indonesia 0,64%. Semua bagian tanaman seperti daun, batang, bunga, dan akar, terasa sangat pahit. Bagian yang paling sering digunakan sebagai bahan ramuan obat tradisional adalah daun.

Kitab Ayurveda menyebutnya kalamegha atau awan gelap. Itulah sambiloto yang multikhasiat. India memang menjadi tanah leluhur sambiloto. Menurut data spesimen di Herbarium Bogoriense di Bogor, Jawa Barat, sambiloto ada di Indonesia sejak 1893. Meski pahit, jangan muntahkan sambiloto. Sebab, di balik rasa pahit terkandung faedah besar antara lain sebagai antikanker, mengatasi hepatitis, dan anti inflamasi.

Produktif

Ir Gusmaini MSi Peneliti muda, di Balai Penelitian Rempah dan Obat (Balittro) Bogor.

Ir Gusmaini MSi Peneliti muda, di Balai Penelitian Rempah dan Obat (Balittro) Bogor.

Balai Penelitian Tanaman Obat dan Rempah (Balitro) merilis varietas sambiloto Adrographis paniculata itu baru bernama sambina 1. Nama sambina akronim dari sambiloto Indonesia. Itulah varietas sambiloto pertama di Indonesia. Sosok tanaman perdu itu amat khas setinggi 31—82 cm. Penampang batangnya berbentuk persegi dan batang berwarna hijau.

Warna daun bagian atas hijau, bagian bawahnya hijau keputihan. Panjang daun sambiloto sambina 1 sekitar 7,8—13 cm dan lebar daun 2,5—4 cm. Menurut pemulia varietas sambina 1, Ir. Sri Wahyuni, tingkat keragaman sambiloto rendah. Balitro menangani tanaman asli Asia tropis itu dari proses budidaya hingga pascapanen. Namun, ia tidak sampai menguji kandungan biofarmaka.

Keunggulan varietas sambina 1 produksi tinggi 5,08—10,37 ton segar per ha pada saat musim hujan. Adapun produksi pada musim kemarau anjlok, hanya 0,66–2,83 ton per ha. Bandingkan dengan produksi sambiloto non-sambina 1 rata-rata yang hanya 3 – 3,5 ton segar per ha pada musim hujan dan 300 kg segar per ha pada musim kemarau. Menurut Gusmaini untuk mengatasi rendahnya produksi dengan penggunaan bakteri endofit.

Baca juga:  Budidaya Nila Dongkrak Produktivitas 2 Kali Lipat

Beberapa bakteri endofit yang mempunyai kode isolat, seperti 20-BB, 90-AA, dan 20-CD memberikan pengaruh nyata terhadap produksi segar tanaman sambiloto, baik bobot segar batang, daun, maupun bobot segar herba. Pemberian bakteri endofit mampu meningkatkan produksi segar herba sambiloto berkisar 57,76—102,59% dan peningkatan bobot kering herba berkisar 25 – 82,81% saat berumur 14 MST. Peningkatan produksi herba tersebut merupakan dampak dari peningkatan pertumbuhan.

Sambina 1 mampu beradaptasi dengan baik di dataran rendah sampai medium dengan ketinggian optimum hingga 700 meter di atas permukaan laut (dpl). Peneliti budidaya sambiloto dari Balittro, Ir Gusmaini M Si mengatakan bahwa sambina 1 cepat tumbuh dan berdaun lebat. Tanaman anggota famili Acanthaceae itu siap panen pada umur 12—13 pekan. Kandungan andrographolid tertinggi ada pada daun.

Hasil seleksi
Ketersediaan air tanah, jenis tanah, suhu udara, dan intensitas sinar matahari mempengaruhi kuantitas bahan aktif atau metabolit sekunder tanaman obat. Untuk menyimpan agar tahan lama, kering anginkan atau jemur daun sambiloto di bawah sinar matahari. Pengeringan dalam oven bersuhu suhu maksimal 60°C. Jika daun terlalu kering mempengaruhi kadar andrographolide.

Penelitian sambina 1 di Cimanggu, Bogor, Jawa Barat.

Penelitian sambina 1 di Cimanggu, Bogor, Jawa Barat.

Pada umur 14 pekan, bunga muncul penuh atau mekar. Itu terjadi lantaran cuaca panas, tanaman memperoleh banyak sinar matahari. Sambiloto cocok ditanam pada suhu 32–35°C. Bunga sambiloto berwarna putih keunguan, berbentuk jorong yaitu bulat panjang dengan pangkal dan ujung lancip. Untuk menghasilkan benih yang akan digunakan sebagai biji pada penanaman selanjutnya, sambiloto harus dibiarkan tumbuh sampai berbunga mekar.

Sambina 1 berbunga pada umur 4 bulan pascatanam. Bunga tumbuh dari ujung batang atau ketiak daun, berbentuk tabung, berukuran kecil, warnanya putih keunguan. Bunga sambiloto tumbuh sekitar dua pekan atau satu bulan setelah panen daun, sedangkan pada batang hanya sedikit. Jika sudah muncul bunga, daun akan mengecil sehingga pertumbuhan batang lebih dominan dan akan lebih besar.

Baca juga:  Sunpatiens Pacar Baru

Mereka menemukan sambiloto tumbuh di berbagai habitat seperti di tegalan, pekarangan rumah, dan hutan. Di Blora, Jawa Tengah, ia menemukan sambiloto di hutan jati. Sementara di Madiun, Jawa Timur, sambiloto banyak terdapat di bawah kaki gunung. Para peneliti kemudian memperbanyak benih dan menyeleksi yang menghasilkan lima klon harapan.

Varietas baru
Menurut Gusmaini dalam penelitian untuk memperoleh varietas baru perkecambahan saat paling sulit dalam perbanyakan sambiloto. Untuk perbanyakan tanaman, Gusmaini menyemai biji sambina 1 dalam bak pasir hingga menjadi kecambah, yakni muncul 2 daun. Ia memindahkan sambina 1 ke dalam polibag yang bermedia tanam berupa campuran tanah dan pupuk kandang.

Bunga sambiloto saat mekar.

Bunga sambiloto saat mekar.

Selang waktu sebulan dan sudah menjadi bibit, ia memindahkan sambina 1 ke lapang. Mereka kemudian menguji sambiloto harapan itu berdasarkan produksi terna dan kadar andrographolid. Wahyuni dan Gusmaini menguji multilokasi di tiga daerah berbeda, yakni Cileungsi, Kabupaten Bogor, berketinggian 120 meter di atas permukaan laut (m dpl), Cimanggu, Kota Bogor (300 m)—keduanya di Provinsi Jawa Barat, serta Jumantoro, Karanganyar (500 m), Provinsi Jawa Tengah.

Hasil uji multilokasi itu menghasilkan satu nomor harapan yang unggul, yakni produksi terna tinggi dan relatif stabil, mencapai 7,1 kg per plot, berjumlah 100 tanaman. Selain itu mutu terna kadar sari larut air relatif tinggi mencapai 25% pada panen musim hujan dan 23,54% pada musim kemarau. Klon itu merupakan hasil seleksi individu di Cimanggu yang unggul, Para periset lalu merilis klon itu menjadi sambina 1 pada 2011.

Buah berbentuk pipih lonjong berwarna kulit cokelat keunguan. Di dalam buah terdapat biji berbentuk biji kotak agak bulat dan berwarna cokelat terang. Penciri utamanya adalah helaian daun tinggi dan perkecambahan benih serempak. Sambina 1 hasil seleksi dari plasma nutfah tanah air. Para periset mengumpulkan plasma nutfah di Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Jawa Barat sejak 2004 menemukan sambiloto. (Marietta Ramadhani)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x