Kolam budidaya udang vannamei skala mini karya SUPM Negeri Ladong, Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) di area Gelar Teknologi Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) 2017 di Bandaaceh.

Kolam budidaya udang vannamei skala mini karya SUPM Negeri Ladong, Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD) di area Gelar Teknologi Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) 2017 di Bandaaceh.

Budidaya udang vannamei di kolam plastik 36 m².

Kolam itu hanya berukuran 9 m x 4 m dengan menggali tanah hingga kedalaman 1 m. Permukaan kolam tanah itu tertutup plastik berbahan plastik polietilen berdensitas tinggi atau high density polyethelene (HDPE) berwarna hitam dengan tebal 0,5 mm. Kolam berisi air hingga ketinggian 60 cm. Menurut pengelola kolam, Safarudin, di dalam kolam itu terdapat 10.000 udang vannamei berumur 90 hari.

Populasi itu tergolong padat, yakni lebih dari 250 ekor udang per m³. Padahal, lazimnya tingkat kepadatan kolam udang kurang dari 100 ekor per m³. Jika hingga panen (umur 100 hari) yang bertahan hidup mencapai 95% atau sekitar 9.500 ekor dan ukuran panen sekilogram terdiri atas 60 ekor, maka dari kolam itu Safarudin memanen 158 kg udang vannamei.

Lahan sempit
Harga udang Penaeus vannamei itu Rp60.000 per kg, maka kolam itu menghasilkan omzet Rp9,48 juta. Itulah kolam mini yang dibangun di area Gelar Teknologi Bidang Perikanan pada ajang Pekan Nasional (Penas) Kelompok Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) 2017 di Kota Bandaaceh, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD). Di permukaan kolam mengambang dua buah kincir berukuran mini.

Adapun di dasar kolam terdapat dua titik aerator yang mengembuskan udara untuk meningkatkan kadar oksigen terlarut dalam air. Kolam itu model tambak udang mini yang diperkenalkan Sekolah Usaha Perikanan Menengah Negeri (SUPMN) Ladong di Acehbesar, NAD. Menurut teknisi pembenihan ikan SUPMN Ladong, Ashabul Kahfi, kolam itu kolam contoh budidaya udang di lahan sempit.

Kolam plastik mini dilengkapi kincir berukuran mini.

Kolam plastik mini dilengkapi kincir berukuran mini.

Harap mafhum, selama ini tambak udang identik dengan hamparan kolam yang luas. Menurut dosen Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Kampus Serang, Provinsi Banten, Dr. Tb. Haeru Rahayu, M.Sc., luas tambak udang biasanya lebih dari 3.000 m². “Untuk membuat kolam sebesar itu perlu biaya investasi tinggi,” tuturnya. Menurut Haeru lebih dari 60% pembudidaya udang bermodal menengah—kecil.

Baca juga:  Gasteria Kian Menawan

Teknologi itu menjadi karya andalan siswa SUPMN Ladong. Sebelumnya para siswa juga berhasil membudidayakan vannamei di kolam plastik seluas 1.000 m². Dari kolam seluas itu para siswa memanen 2,5 ton vannamei. Sejatinya Haeru memperkenalkan teknik budidaya udang di kolam plastik sejak 2009. Teknik itu semula sebagai contoh untuk melatih para peserta didik menjadi tenaga terampil dalam budidaya udang.

Ternyata budidaya udang di empang plastik di lahan sempit memiliki beberapa keunggulan. Salah satunya dalam hal pengelolaan karena petakan tidak terlalu luas, yakni kurang dari 1.000 m². Dengan begitu biaya operasional  selama satu siklus  produksi terjangkau oleh pembudidaya kelas menengah ke bawah. Kualitas tanah juga tidak menjadi faktor pembatas karena konstruksi  tambak berlapis  plastik (HDPE).

Risiko penyakit rendah
Pengendalian penyakit juga lebih mudah. Peternak dapat menekan risiko serangan penyakit  dengan menerapkan tindakan biosekuritas. Caranya dengan mengeringkan dan menjemur kolam selama 3 hari. Pada saat kering lumut dan teritip mudah mengelupas. Untuk membersihkan lumut gunakan sikat plastik untuk membersihkan lumut. Untuk membersihkan teritip gunakan alat keras dan tumpul seperti bilah bambu. Setelah pembersihan selesai, bilas kolam dengan air bersih.

Selanjutnya semprot seluruh bagian kolam dengan larutan kaporit. Untuk kolam 600 m² perlu 7 kg kaporit. Setelah itu keringkan kolam di bawah sinar matahari. Kemudian isi kolam dengan air dari tandon pengendapan melalui pipa ke dalam kolam sampai penuh. Tutup ujung pipa dengan saringan untuk mencegah kotoran masuk ke dalam kolam. Pasang kincir air pada sudut kolam.

Baca juga:  Gelombang Laut Awetkan Ikan

Ikat kedua sisi depan dan belakang kincir air menggunakan tali plastik berdiameter 10 mm. Selanjutnya bentangkan tali dan ikat pada patok yang ada di pematang. Lakukan sterilisasi air kolam dengan melarutkan kaporit teknis berkonsentrasi 60% dengan dosis 50 ppm pada air kolam. Sterilisasi berlangsung 3—4 hari. Selama sterilisasi kincir dalam kondisi hidup. Pada hari ketiga lakukan uji khlorin.

Udang

Udang

Ambil 10 ml sampel air, lalu tetesi dengan chlorin test sebanyak 2 tetes. Jika warna air tidak berubah (bening), maka kandungan klorin netral  dan air siap digunakan untuk budidaya. Tahap berikutnya pemberian probiotik 3 hari berturut-turut sebelum menebar benur. Gunakan prebiotik yang mengandung bakteri Bacillus sp. Larutkan prebiotik dalam air dengan konsentrasi 1 ppm, lalu tebar merata ke seluruh kolam.

Tebar benih yang telah diaklimatisasi. Penebaran benur dilakukan pada saat kondisi cuaca teduh, yaitu pada pagi antara jam 06.00–08.00 atau pada malam hari. Menurut Haeru untuk empang plastik mini yang dibudidayakan sebaiknya udang jenis vannamei. “Pertumbuhan vannamei lebih cepat dan tahan penyakit sehingga dapat dibudidayakan dengan tingkat kepadatan tinggi,” kata Haeru.

Pakan
Vannamei juga memiliki segmen pasar yang lebih fleksibel. “Udang berukuran kecil pun laku dijual,” tambahnya. Sebagai sumber nutrisi, berikan pakan sesuai dengan perkembangan tubuh udang (lihat tabel). Menurut Haeru pemberian pakan lima kali sehari dengan dosis seperti tertera pada tabel. Haeru menuturkan, kombinasi pemberian prebiotik dan pakan dengan dosis dan frekuensi tepat, maka nilai FCR udang vannamei 1,3.

Artinya, untuk menghasilkan 1 kg udang perlu 1,3 kg pakan. Udang anggota famili Penaeidae itu siap panen pada umur 90—100 hari, yakni saat berukuran minimal sekilo isi 65 ekor. Menurut Haeru peternak udang akan mendapatkan laba sekitar Rp44,5 juta setelah mengeluarkan biaya investasi sekitar Rp97 juta dan biaya operasional sekitar Rp51 juta dalam sekali budidaya.

Baca juga:  Jitu Ramal Mutasi Warna

Peternak dapat mencapai keuntungan itu bila luas kolam plastik 600 m² dengan padat tebar benur 200 ekor per m², tingkat kelangsungan hidup udang sekitar 95%, dan FCR 1,3. Pada saat panen ukuran udang sekilogram terdiri atas 65 ekor. Adapun harga jual mencapai Rp50.000 per kg. Lahan sempit terbukti bukan kendala beternak udang asal Meksiko itu. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d