Urban farming di gedung utama Taman Buah Mekarsari, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Urban farming di gedung utama Taman Buah Mekarsari, Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Pertanian perkotaan berperan mencegah banjir di kota besar.

Banjir menjadi momok bagi masyarakat Jakarta. Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana banjir merupakan bencana dengan persentase tertinggi pada tingkat kejadian. Jumlah kejadian bencana, korban, dan dampaknya sampai Agustus 2017 mencapai 33,7%. Bandingkan dengan bencana puting beliung 28,7% dan tanah longsor 26,1%. Bukan hanya Jakarta, kota-kota lain seperti Semarang, Provinsi Jawa Tengah, pun kerap banjir.

Dosen di Departemen Teknik Sipil, Universitas Diponegoro, Ferry Hermawan, S.T., M.T., mengatakan, banjir terjadi akibat debit besar melampaui kapasitas penampang aliran yang mengalami degradasi kapasitas. Itu akibat hasil erosi dari hulu sungai. “Di samping sedimentasi, penurunan fungsi dan kapasitas sungai, serta drainase perkotaan banjir juga karena adanya bangunan-bangunan ilegal di bantaran atau badan sungai,” kata Ferry.

Infrastruktur hijau
Wakil Dekan Riset dan Inovasi Fakultas Teknik Universitas Diponegoro, Dr. Jati Utomo Dwi Hatmoko, S.T., M.T., MM., M.Sc., Ph.D., meneliti salah satu cara menanggulangi banjir di kota besar dengan pendekatan inovatif. Hatmoko menggabungkan antara pengelolaan air dan infrastruktur hijau untuk meniru siklus air secara alami. Ia menyebut inovasi itu blue green infrastructure (BGI) alias infrastruktur hijau biru.

Vertikultur di sepanjang Stasiun Bogor, Provinsi Jawa Barat, untuk penyerapan air hujan.

Penelitian itu bekerja sama dengan Loughborough University, London, Inggris, serta mendapat penghargaan dari Newton Fund. Ferry Hermawan berharap penelitian berjangka waktu 2 tahun itu menjadi solusi untuk menangani banjir di Semarang, Jakarta, maupun kota besar lainnya di Indonesia. Ferry mengatakan, sebagian besar struktur geologi Kota Semarang bagian atas berupa batuan beku.

Menurut Ferry tanah pasir terbentuk dari batuan beku serta batuan sedimen yang memiliki butir kasar dan berkerikil. Tanah pasir mudah menyerap air dan udara, tetapi tidak menahan air. Oleh karena itu, air mudah lolos, mengalir ke tempat yang lebih rendah, yakni wilayah Kota Semarang bagian bawah. Padahal, Kota Semarang bagian bawah sebagai pusat pemerintahan, perindustrian, pendidikan, angkutan atau transportasi, dan perikanan.

Baca juga:  Agar Tampil Kian Elok

Ferry mengatakan, Semarang seperti replika Jakarta yang acap mendapat “kiriman” banjir dari Bogor, Provinsi Jawa Barat. Itu akibat dataran Jakarta lebih rendah. Untuk menanggulanginya, lakukan penghijauan gedung tinggi di Jakarta. Gedung dapat menyerap air hujan melalui atap bervegetasi, fasad hijau eksternal, tanaman di balkon, dan penghijauan dalam ruangan.

Roof garden atau menanam di dak gedung Haryono Suyono Center di lantai tiga yang dilakukan Drs. Fajar Wiryono dan Komunitas Maporina, Jakarta Selatan.

Roof garden atau menanam di dak gedung Haryono Suyono Center di lantai tiga yang dilakukan Drs. Fajar Wiryono dan Komunitas Maporina, Jakarta Selatan.

Harap mafhum tanaman mampu menyerap air (absorpsi) dan melepaskan air ke udara (evaporasi) secara alami. Selain itu tanaman juga memiliki daya serap air 40% sehingga mengurangi beban drainase. Berapa kemampuan gedung bervegetasi “menyerap” air hujan? Sayangnya belum ada data valid. “Belum ada datanya. tapi jika berdasarkan rumus volume, 1 m² mampu menyerap air 1 m3,” kata Ferry.

Dak jadi ladang
Pengelola gedung juga dapat menyimpan dan membersihkan air hujan atau menjadikan sebagai air tanah. Roof garden alias taman atap juga tak berisiko bagi keselamatan penghuninya. Sebab, pembangunan suatu gedung sudah dihitung mulai dari beban manusia, kemampuan menambah beban, hingga arah aliran drainase. Kini ketika pembangunan hunian vertikal menjamur di perkotaan, infrastruktur hijau biru sebuah keniscayaan.

Ferry Hermawan ST., MT  dosen di Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.

Ferry Hermawan ST., MT dosen di Fakultas Teknik, Universitas Diponegoro, Semarang, Jawa Tengah.

Di pucuk gedung nan menjulang itu, pengelola dapat membuat sebuah taman atau memanfaatkannya menjadi ladang pertanian. “Sebab, urban farming di puncak gedung menambah elemen atau media tertentu yang tidak menempel langsung ke gedung atau bangunan, sehingga tidak membahayakan,” kata Ferry.

Pegiat pertanian perkotaan, Charlie Tjendapati, menuturkan urban farming salah satu solusi menanggulangi banjir dan tanah longsor. Masyarakat perkotaan seperti di Jakarta sulit berkebun. Apalagi di Jakarta yang sarat berbagai masalah lingkungan, seperti polusi udara, lahan yang sempit, serta buruknya kondisi tanah. Berkebun bisa dilakukan di lahan kosong, halaman rumah, atap rumah, bahkan balkon.

Baca juga:  Spektakuler Kurma Tropis 3 Tahun Panen

Drs. Fajar Wiryono dari komunitas Masyarakat Pertanian Organik Indonesia (Maporina) memilih dak gedung sebagai lokasi budidaya beragam sayuran. Fajar bersama teman dalam komunitasnya berinisiatif menanam beragam sayuran di dak Haryono Suyono Center, Pancoran, Jakarta Selatan. Dak gedung itu menjadi kebun mini untuk membudidayakan sayuran secara konvensional, hidroponik, dan akuaponik.

Itulah sebabnya di pucuk gedung itu terdapat pipa dan saluran air yang terhubung ke beberapa sistem hidroponik. Untuk keperluan budidaya tanaman itu Fajar dan rekan memanfaatkan air hujan. Dari puncak gedung itu mereka mampu memetik beragam sayuran segar. “Taman ini dibuat agar dapat memetik sayuran sendiri,” kata Fajar.

576_ 122Ruang terbuka hijau
Tjendapati yang juga pekebun sayuran di Jakarta dan Bandung mengatakan, urban farming bisa menjadi solusi mengurangi banjir. Menurut Tjendapati masyarakat tidak perlu membuka lahan pertanian di hutan atau pegunungan untuk bercocok tanam. Mereka dapat memanfaatkan pekarangan atau dak rumah untuk melakukan urban farming. Ia misalnya, memanfaatkan bagian atas Sungai Citepus, Kota Bandung, untuk bercocok tanam.

Di atas aliran air, Tjendapati dan warga Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung, membangun semacam jembatan bambu pada tahun 2015. Di atas jembatan itu mereka bercocok tanam beragam sayuran. Kini sungai lebih bersih dan tidak meluap. “Masyarakat RW 04 Kelurahan Pajajaran, Kecamatan Cicendo, Bandung, tidak membuang sampah ke sungai, karena ada urban farming yang memiliki nilai estetika,” kata Tjendapati.

Charlie Tjendapati melakukan urban farming di atas Sungai Citepus, Kota Bandung, Jawa Barat.

Charlie Tjendapati melakukan urban farming di atas Sungai Citepus, Kota Bandung, Jawa Barat.

Masyarakat merasakan berbagai dampak positif urban farming. Pohon berpengaruh sangat besar terkait kenyamanan di ruang terbuka hijau. Ia juga melakukan urban farming di daerah Rawajati, Pulogadung, dan Kelapagading, semuanya di Jakarta. Masyarakat dapat melakukan pertanian perkotaan di kawasan pemukiman termasuk perkantoran, kampus, rumah tinggal, rumah, dan sekolah.

Pertanian perkotaan diharapkan memperbaiki kualitas lingkungan dalam penyelamatan lingkungan dan pemberdayaan sampah organik yang jumlahnya cukup tinggi, sekaligus membantu menciptakan kota yang bersih. Selain itu, dapat menjadi penampung pupuk kompos organik yang berbahan dasar sampah, yang menjadi salah satu penyebab banjir. Menurut Tjendapati pertanian perkotaan tak harus berskala luas.

Sebab, masyarakat sejatinya dapat memilih beragam teknologi budidaya yang sesuai. Di lahan sempit, misalnya, masyarakat dapat mengadopsi teknologi sederhana dan minimalis seperti vertikultur, tabulampot, atau hidroponik. Kini bercocok tanam memang dapat dilakukan di mana saja, oleh siapa saja, dan kapan saja. Upaya itu sekaligus mencegah banjir (Marietta Ramadhani)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d