Ulat Tentara pun Menyerah 1
Budidaya bawang merah memerlukan pestisida untuk menangani serangan hama.

Budidaya bawang merah memerlukan pestisida untuk menangani serangan hama.

Strategi mengendalikan ulat grayak yang menyebabkan gagal panen hingga 80%.

Ulat Spodoptera litura memusnahkan harapan Damud menuai 18 ton umbi bawang merah di lahan 1 ha. Larva serangga itu meluluhlantakkan 80% dari total populasi bawang pada Agustus 2014. Kerugian petani di Desa Kemukten, Kecamatan Kersana, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, itu mencapai Rp60-juta. Pada musim tanam itu, Damud hanya menuai 4 ton umbi. Petani-petani lain di desanya menghadapi masalah yang sama, produksi anjlok akibat serangan ulat grayak.

Mereka sejatinya berupaya keras mengatasi serangan larva anggota famili Noctuidae itu. Malahan beberapa rekan Damud meningkatkan konsentrasi pestisida sampai 250 ml per 17 liter air. Lazimnya ia hanya melarutkan 20 ml per tangki berkapasitas 17 liter itu. Sayang, upaya itu tak membuahkan hasil. Menurut Darmawan Sandi Susilo, brand manager FMC Agricultural Solutions, produsen pestisida, kegagalan Damud dan rekan karena terlambat menangani serangan.

Ulat grayak bisa menyebabkan gagal panen.

Ulat grayak bisa menyebabkan gagal panen.

Pestisida aman
Sandi Susilo mengatakan untuk mengantisipasi serangan ulat grayak, petani sebaiknya menyemprotkan insektisida 8—10 hari setelah tanam atau ketika terlihat peletakan telur serangga. Imago atau serangga dewasa meletakkan telur berwarna cokelat kekuningan di daun bawang merah. Petani sebaiknya menghentikan penyemprotan paling lambat 3 hari sebelum panen untuk mencegah residu pestisida.

Menurut Zaenal Arifin, peneliti di Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jawa Timur, petani sebaiknya menyemprotkan pestisida ketika serangan organisme pengganggu tanaman mulai terlihat. Pada kasus serangan ulat grayak, petani harus bersiap menyemprotkan pestisida ketika melihat serangan sudah terlihat sebanyak 5% dari luasan lahan. Ulat grayak cepat berkembang pada musim kemarau seperti terjadi di lahan Damud.

Baca juga:  Petik Sendiri Jeruk Dekopon

Itu terkait dengan siklus biologi serangga. Ketika suhu udara meningkat pada musim kemarau, maka siklus hidupnya semakin pendek yang akan mempercepat reproduksi serangga. Telur serangga itu menetas dalam 24 jam, semula 48 jam karena suhu meningkat. Akibatnya populasi meningkat sehingga dampak serangan semakin parah. Menurut Widodo, “Bila serangan sudah dimulai sejak awal musim tanam menyebabkan puso. Karena telur yang menetas segera menyerang bibit bawang merah yang baru saja tumbuh.”

Penyebab lain kegagalan Damud, menurut Sandi Susilo, karena kualitas pestisida yang rendah atau petani salah memilih pestisida. Sandi mengatakan, insektisida untuk mengatasi ulat grayak idealnya mengandung bahan aktif indoksacarb agar lebih efektif. Di pasaran terdapat beragam pestisida berbahan aktif indoksacarb seperti Supernova, Agroace, dan Cropstar Darmawan Sandi Susilo menyatakan pestisida yang baik adalah ramah lingkungan, yakni ramah bagi aplikator, aman atau tidak beracun bagi tanaman.

Jebakan Lampu yang dipasang di lahan bawang merah.

Jebakan Lampu yang dipasang di lahan bawang merah.

Lima tepat
Jika petani sudah menemukan pestisida ramah lingkungan, aplikasikan dalam dosis yang tepat, waktu tepat, cara tepat, sasarannya tepat, dan tepat kualitasnya (lihat boks Lima Tepat). Untuk mencegah resistensi, gunakan pestisida dengan kombinasi atau pengaplikasian berselang.

Sementara itu aplikasi berselang, artinya insektisida yang sama sebaiknya tidak digunakan terus-menerus. Sebab, penggunaan tanpa jeda menyebabkan resurjensi atau peledakan populasi hama. Pada kasus serangan ulat grayak, beberapa insektisida bisa digunakan bergantian antara lain Supernova dan Furadan.

Menurut Damud biaya pengadaan pestisida dalam satu musim tanam mencapai Rp15-juta per ha. Itu demi mengamankan produksi bawang merah. Biaya pestisida itu relatif kecil atau 18,75% dibandingkan total biaya produksi yang kini mencapai Rp80-juta per ha—termasuk biaya sewa lahan. Tanpa pestisida, petani sulit mengatasi serangan hama seperti pengalaman Sulthoni, petani bawang merah di Kecamatan Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.

Dr Ir Widodo, dosen di Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor.

Dr Ir Widodo, dosen di Departemen Proteksi Tanaman Institut Pertanian Bogor.

Ia pernah megalami puso atau gagal panen akibat terlambat menyemprotkan insektisida. Selain itu ia juga mengaplikasikan pestida untuk menanggulangi hama ulat grayak yang sohor dengan sebutan ulat tentara itu. Kegagalan panen pada lahan seperempat bahu atau setara dengan 1.750 m2 menyebabkan kerugian hingga Rp20 juta. Sementara itu, produksi di lahan Danud rata-rata 18 ton per ha. Dengan harga jual Rp 6.600 per kg, omzet Damud mencapai Rp120-juta.

Baca juga:  Usir Ulat Grayak

Cara lain untuk mencegah serangan ulat grayak adalah penggunaan lampu untuk menarik perhatian serangga dewasa yang aktif pada malam hari. Di bawah lampu para petani meletakkan air bercampur solar. Serangga yang mendekat kemudian jatuh di wadah itu. Petani di sentra bawang Brebes, Jawa Tengah, menggunakan jaring untuk melindungi lahan bawang merah.

Ketinggian jaring hingga 4 meter menyesuaikan dengan kemampuan terbang serangga dewasa. Namun, petani harus menginvestasikan hingga Rp3-juta—Rp4-juta untuk melindungi lahan 1 ha. Menurut Damud jaring mampu bertahan hingga 2—3 tahun. (Muhammad Awaluddin)

Lima Tepat

Lima Tepat

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *