Udang vannamei cocok untuk busmetik

Udang vannamei cocok untuk busmetik

Busmetik cara baru budidaya udang dengan aneka kelebihan.

Di bawah rindang pohon kelapa yang berjajar itu, peternak di Desa Sidomulyo, Kecamatan Ngadirojo, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur, memanen udang Vannamei. Tempat yang sebelumnya sawah itu beralih menjadi tambak udang sejak Oktober 2013. Hasil panen perdana mencapai 5,5 ton udang dari 3 kolam masing-masing 600 m2. Artinya produksi udang rata-rata 1,8 ton per kolam.

Udang panen mereka itu hasil penebaran benih oleh mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Bukan tanpa alasan Yudhoyono menghadiri acara tebar benih udang pada Oktober 2013. Itu budidaya udang pertama di tempat kelahiran Yudhoyono. Ukuran kolam berbeda dari kebanyakan peternak. Kolam relatif kecil hanya 600 m2. Bandingkan dengan luas tambak konvensional yang bisa mencapai 3.000 m2.

Dr Tb Haeru Rahayu MSc, penemu busmetik

Dr Tb Haeru Rahayu MSc, penemu busmetik

Skala kecil
Selain itu, teknik budidaya pun baru. Para peternak memanfaatkan plastik high density poly ethelene (HDPE) berwarna hitam untuk menutupi kolam sehingga air tidak langsung mengenai tanah. Masyarakat setempat menyebut pola budidaya itu busmetik—akronim dari budidaya udang skala mini empang plastik, inovasi dosen di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Kampus Serang, Dr Tb Haeru Rahayu MSc.

Teknologi itu hasil kajian empiris sejak akhir 2009 di Program Studi Teknologi Akuakultur Sekolah Tinggi Perikanan. Ide pembuatan busmetik berawal dari keinginan Haeru mencetak peserta didik yang terampil di bidang budidaya udang. Setelah melakukan studi pustaka, Haeru pun menghasilkan busmetik. “Teknologi busmetik pertama di dunia dan di Indonesia,” kata Haeru.

Lalu mengapa mesti beternak udang? Menurut Haeru udang komoditas primadona perikanan yang harganya relatif stabil. Jenis udang yang cocok dengan teknologi busmetik yaitu Vannamei Litopenaeus vannamei. Sebab peternak bisa membudidayakan Vannamei dalam kepadatan tinggi, di atas 100 ekor per m3. Selain itu pertumbuhan udang asal Samudera Pasifik bagian timur itu lebih cepat, lebih tahan penyakit, dan memiliki segmen pasar yang lebih fleksibel.

Baca juga:  7 Cara Budidaya Udang Air Tawar di Aquarium yang Pasti Menguntungkan

“Udang berukuran kecil pun laku dijual,” kata Haeru. Kehadiran busmetik di kabupaten di ujung barat daya Provinsi Jawa Timur itu atas prakarsa dan pembiayaan Yayasan Damandiri. Pembuatan busmetik dipandu teknisi STP serta pendampingan dari Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Pacitan.

Kolam busmetik dilapisi plastik HDPE

Kolam busmetik dilapisi plastik HDPE

Tahan lama
Untuk mengelola busmetik dibentuklah Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) Mulyo Sari yang beranggotakan 11 orang. Mereka membuat 4 kolam masing-masing berukuran 30 m x 20 m. Tiga kolam untuk budidaya, sebuah kolam sebagai tandon air. Menurut Haeru salah satu keunggulan busmetik yaitu ukuran kolam yang relatif lebih kecil daripada tambak konvensional.

Cukup lahan 600—1.000 m2 peternak bisa membudiayakan udang. Lazimnya luas tambak udang konvensional
2.000—5.000 m2. Ukuran kolam yang lebih kecil juga memudahkan perawatan dan pengelolaan kolam. Misal pemberian pakan lebih merata jika dibandingkan beternak di kolam konvensional. Sebab peternak hanya perlu mengelilingi kolam untuk memberi pakan.

Sementara jika mengelola tambak konvensional, peternak tidak cukup memberi pakan dari pinggir kolam. Petugas mesti menaiki sampan untuk memberi pakan di tengah kolam. Pemberian pakan yang merata membuat udang tumbuh serempak. Ukuran kolam kecil juga mengurangi risiko serangan penyakit. Peternak bermodal kecil dan menengah pun mampu membudidayakan udang sistem busmetik. Tidak terbatas pemodal besar.

Menurut Haeru pembudidaya udang bermodal kecil dan menengah cukup tinggi yaitu di atas 60%. Pembuatan 1 modul berisi 4 kolam seperti di Desa Sidomulyo menghabiskan Rp500-juta. “Untuk luasan sama pada tambak konvensional memerlukan dana Rp340-juta,” kata teknisi kolam, Sujud Setiawan SSTPi.

Sujud Setiawan (kedua dari kiri) bersama anggota Posdaya Mulyo Sari, pengelola busmetik

Sujud Setiawan (kedua dari kiri) bersama anggota Posdaya Mulyo Sari, pengelola busmetik

Meskipun begitu peternak busmetik tidak perlu merenovasi kolam. “Kolam busmetik dapat beroperasi hingga 15 tahun,” kata Sujud. Sementara tambak konvensional perlu direnovasi setiap 2—3 tahun. Salah satu pembeda busmetik dengan sistem konvensional yaitu penggunaan plastik. “Plastik berguna mengurangi serangan hama dan penyakit pada udang,” kata Sujud.

Baca juga:  Hari Pangan Sedunia ke-36: Ajang Pameran Produk Unggul

Untung besar
Sujud mengatakan hama dan penyakit mudah tersebar jika salah satu udang terserang hama atau penyakit di kolam tanah. Sujud dan rekan melengkapi masing-masing kolam pemeliharaan dengan 3 kincir air. Kincir air itu berfungsi memasok oksigen terlarut. Udang perlu lebih banyak oksigen terlarut karena kepadatan yang relatif tinggi. Sebelumnya hanya ada 2 kincir yang menyebabkan udang mengambang di permukaan kolam karena kekurangan oksigen. “Kini 3 kincir air sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan oksigen udang,” ujar Sujud.

Pemberian pakan 5 kali sehari

Pemberian pakan 5 kali sehari

Budidaya udang sistem busmetik relatif sama dengan di tambak. Sujud menebar benur berukuran PL-12. Pemberian pakan pabrikan 5 kali sehari. Untuk menjaga kualitas air ia memberikan 500 g probiotik per tambak 2 hari sekali. Pemberian probiotik pada pukul 19.30. Jika pemberian probiotik pada siang maka penguraian kalsium kurang maksimal karena terjadi fotosintesis oleh fitoplankton.

Waktu pemeliharaan udang dengan busmetik kurang lebih 90 hari. Dua hari menjelang panen Sujud menelepon pengepul dari Cirebon, Jawa Barat. Panen terakhir pada Oktober 2014 menghasilkan 2,3 ton udang. Jumlah itu meleset dari target 3,5 ton. Musababnya listrik padam selama 12 jam dan genset rusak. Akibatnya kincir mati sehingga oksigen berkurang dan menyebabkan udang mati.

Panen pada siklus ketiga itu Sujud dan rekan meraih omzet Rp138-juta. Sayang, saat itu mereka merugi. Namun, panen sebelumnya pada Juli 2014 mereka meraup omzet Rp236,8-juta. Dari jumlah itu Sujud dan rekan mendapat laba Rp86,8-juta. Bukan hanya di Pacitan, sebelumnya teknologi itu tersebar lebih dahulu di Ladong (Aceh), Kota Agung (Lampung), Tegal (Jawa Tengah), dan Bone (Sulawesi Selatan).Menurut Ketua STP, Ir Tatang Taufiq Hidayat MS, busmetik memberikan hasil panen yang jauh lebih baik. (Riefza Vebriansyah)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d