Udang Galah Padi (Ugadi) Dan Ekonomi Biru

Udang dapat “ditumpangsarikan” dengan padi untuk intensifikasi lahan

Ada dua hal terkait yang ditawarkan dalam kolom agribisnis kali ini. Udang galah padi (ugadi) dan ekonomi biru. Bersamaan dengan itu di Sleman, Yogyakarta, dan di beberapa pantai Nusa Tenggara Barat, petani-nelayan meluncurkan usaha baru.

Tambak udang galah dipadukan dengan padi. “Setiap satu hektar bisa menghasilkan 1,6 ton udang dan panen 7 ton gabah.” Begitu konsep yang dikembangkan di Lombok Timur dan Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, menegaskan penggabungan sawah dan tambak menciptakan simbiosis udang dan padi. “Budidaya perikanan-sawah itu mengurangi ketergantungan terhadap pupuk dan insektisida.” Demikian prinsipnya sebagaimana dilansir berbagai media hingga pertengahan September 2014.

Ekonomi biru

Saya jadi teringat mendiang kakek, Asmo Martoredjo (1906—1994). Sawahnya tidak luas, tetapi ikannya banyak dan beras produksinya sangat enak. Bukan udang galah yang dikembangkan, tetapi ikan mas dan tambra. Kalau cucunya datang, kakek selalu menjamu makan dengan ikan emas dan nasi paling lezat sedunia.

Waktu itu belum ada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Namun, banyak sawah di Jawa Timur mulai menerapkan padi dengan ikan emas dan bandeng.

Sekarang, kegiatan itu diperluas. Contohnya, pada Juni 2014 KKP menyebarkan 50.000 benih udang untuk 5 hektar sawah di desa Sendangtirto, Kecamatan Berbah, Kabupaten Sleman. Camat Berbah, Tina Hastina, bangga daerahnya menjadi percontohan, bahkan sempat meraih juara III tingkat nasional.

Ugadi Biru

Udang Galah Padi (Ugadi) Biru

Rupanya, para petani di kecamatan itu terbiasa memelihara udang di sawah sejak 2009. Jadi cukup berpengalaman. Pemerintah tinggal membantu dengan varietas bibit padi inpari yang lebih tepat dan jaring pagar keliling untuk pengaman. Dukungan itu dinilai sangat menggairahkan dan memacu semangat petani.

Aktivitas warga Berbah itu termasuk dalam ekonomi biru. Indonesia termasuk pelopor dalam inovasi ekonomi biru. Fokusnya dalam budidaya perikanan. Konsep ekonomi biru mulai diterapkan di 27 negara dan didukung penuh oleh FAO–Organisasi Pangan dan Pertanian, Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Untuk mendorong tumbuhnya ekonomi biru di Indonesia, FAO mengalokasikan hibah US$80-juta setara Rp944-miliar. Sasarannya jelas: perikanan budidaya air-tawar dan lingkungan laut.

Sebetulnya bukan hanya perikanan dan pengembangan produk kelautan yang termasuk kegiatan ekonomi biru. Peternakan dan perkebunan juga dapat dikelola selaras dengan alam dan ramah lingkungan. Contohnya penggabungan kebun nanas dan peternakan sapi di Lampung.

Di sana ada 20.000 hektar yang mengolah 2.000 ton nanas menjadi bermacam produk dan diekspor ke berbagai negara. Kulit nanas itu ternyata cocok untuk makanan ribuan sapi. Kapasitasnya bisa untuk 30.000 ekor, meski laporan terakhir baru tersedia 7.000 sapi.

Dari kotoran sapi dihasilkan biogas yang lumayan besar untuk sumber energi. Biogas diperlukan untuk proses pengolahan, sedangkan limbahnya cocok sekali untuk pupuk perkebunan nanas.

Hasilnya semakin berlimpah. Buah nanas makin besar, sapinya makin gemuk, alamnya makin subur, energi tercukupi dan kebersihan lingkungan terjaga. Jadi, ekonomi biru membuat alam lebih kaya. Pencetusnya, Gunter Pauli dari Belgia.

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x