Budidaya udang vannamei skala rumah tangga di halaman rumah.

Biaya kolam terpal lebih hemat dibandingkan dengan kolam beton.

Biaya kolam terpal lebih hemat dibandingkan dengan kolam beton.

Rudi Hartono memanen 350—540 kg udang vannamei dari lahan 5 m x 10 m. Umur panen 65—80 hari pascatebar. Harga udang mencapai Rp60.000 per kg, maka ia meraup untung mencapai Rp32,4 juta. Uniknya Rudi membudidayakan udang itu di kolam terpal bukan beton. “Waktu awal mencoba, tetangga pesimis. Mana bisa?” ujar peternak udang di Desa Pecinan, Kecamatan Mangaran, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, itu.

Selama ini peternak membudidayakan vannamei di tambak. Itulah sebabnya ketika Rudi panen pada akhir 2017, para tetangga penasaran. Setelah itu mereka mengikuti jejak Rudi membudidayakan udang di kolam terpal. Harap mafhum, untuk membangun kolam beton berukuran 5 m x 10 m, para peternak udang di Situbondo merogoh kocek hingga Rp23 juta.

Batervan

Udang vannamei hasil budidaya menggunakan teknologi batervan akronim dari bak terpal vannamei.

Udang vannamei hasil budidaya menggunakan teknologi batervan akronim dari bak terpal vannamei.

Menurut Rudi, “Kalau pakai terpal biayanya hanya 50% dibanding dengan biaya pembuatan kolam beton. Biaya pembuatan kolam terpal hanya Rp11 juta untuk ukuran 5 m x 10 m setinggi 1,2 m dengan rangka bambu.” Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kabupaten Situbondo bekerja sama dengan Balai Perikanan Budi Daya Air Payau (BPBAP) merilis teknologi itu pada 2017 dengan sebutan batervan, singkatan dari bak terpal vannamei. Sementara penggagas ide itu Ir. Mohammad Abd Rahman, M.Si., sekretaris DKP Situbondo. “Di Situbondo, budidaya udang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi dibandingkan dengan komoditas perikanan lain seperti lele, nila, dan kerapu. Salah satu alasannya karena udang sudah bisa dijual umur 45 hari pascatebar,” ujar Imam Joko Prayogo, S.St.Pi, penyuluh Kabupaten Situbondo.

Balai Benih Udang dan Ikan (BBUI) milik Dinas Perikanan Kabupaten Situbondo semula menguji coba teknologi itu pada 2015. Dengan kolam seluas 100 m x 200 m, udang vannamei tumbuh subur di kolam terpal berair payau. Menurut Imam teknologi batervan cocok untuk masyarakat di daerah pesisir yang menggunakan air payau. Masyarakat pesisir menggunakan sumur bor untuk mendapatkan air payau.

Bupati Situbondo Dadang Wigiarto, S.H., saat mengunjungi peternak udang yang menggunakan teknologi batervan.

Bupati Situbondo Dadang Wigiarto, S.H., saat mengunjungi peternak udang yang menggunakan teknologi batervan.

Sejak 2017 hingga kini, setidaknya ada 4 peternak udang di pesisir Situbondo yang mengadopsi teknologi batervan. Peternak itu pun berhasil memanen vannamei di kolam terpal. “Lalu kami mengundang masyarakat, bupati, hingga anggota dewan untuk menyaksikan teknologi batervan yang sudah diaplikasikan peternak,” kata Imam, lelaki kelahiran 1 April 1988. Dari sanalah, para peternak lain mulai tertarik mengadopsi batervan. Para peternak kini mulai mengadopsi teknologi budidaya vannamei itu.

Baca juga:  Wangi Hoya Sepanjang Hari

Peternak untung

Kolam beton membutuhkan biaya investasi tinggi.

Imam Joko Prayogo penyuluh perikanan di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.

Dari empat peternak itu rata-rata menggunakan lahan seluas 100 m2 untuk membuat 3—4 kolam terpal berukuran 4—5 m x 10—14 m, tergantung posisi lahan. “Kolam itu memanfaatkan lahan pekarangan rumah yang semula tidak produktif. Ada juga peternak yang memanfaatkan lahan bekas kandang sapi. Itu semua untuk mendapatkan keuntungan yang lumayan di pesisir SItubondo,” ujar Imam.

Menurut alumnus Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta itu, peternak tak harus menunggu hingga umur udang 65—80 hari pascatebar seperti yang Rudi Hartono lakukan. Ketika udang baru berumur 45 hari pascatebar dengan feed conversion ratio FCR=1, Litopenaeus vannamei sudah bisa dipanen dan dijual. “Ketika umur 45 hari pascatebar, para peternak sudah bisa memanen 300 kg dari kolam terpal berukuran 5 m x 10 m,” ujarnya.

Hal itu sangat menguntungkan untuk memutar roda perekonomian masyarakat pesisir. Harga udang kini Rp60.000—Rp70.000 per kg, maka keuntungan para peternak batervan mencapai Rp21 juta. “Itu dari satu kolam. Kalau punya dua atau tiga kolam tinggal dikalikan saja,” ujar lelaki asal Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, itu. Menurut Imam biaya produksi atau biaya operasional dalam masa budidaya selama 45 hari dengan FCR 1 mencapai Rp15 juta. Biaya itu meliputi benih, pakan, probiotik, listrik, dan tenaga kerja.

Trubus Edisi Agustus 2018 Highrest.pdf

Kolam beton membutuhkan biaya investasi tinggi.

Menurut Imam peternak udang yang menerapkan teknologi batervan meraup untung bersih Rp6 juta. “Itu belum termasuk biaya tenaga kerja karena kami harapkan bisa dikelola sendiri. Minimal ketika suami kerja di luar rumah, sang istri yang di rumah bisa membantu memberikan pakan udang,” ujar Imam. Namun, meski mengeluarkan biaya tenaga kerja senilai Rp750.000—Rp 1 juta selama 45 hari kerja, peternak masih meraup untung bersih Rp5 juta. (Bondan Setyawan)

Baca juga:  Latih Paruh Bengkok

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d