Ubi Ungu Gempur Kanker 1
Ubijalar ungu kaya antosianin

Ubijalar ungu kaya antosianin

Ubijalar ungu yang banyak beredar di pasar tradisional terbukti ilmiah dan empiris mengatasi kanker. Senyawa antosianin dalam umbi mujarab melawan kanker.

Penyakit maut itu datang memberi isyarat sakit kepala berhari-hari, kejang-kejang, atau muntah tanpa sebab.  Untuk mengatasinya Zafrija Nelli mengonsumsi obat sakit kepala. “Semua obat sakit kepala di warung saya coba dan tidak ada yang manjur,” kata anak ke-3 dari 7 bersaudara itu. Sakit kepala rutin itu minimal sebulan sekali. “Kalau kumat paling cepat 5 hari baru sembuh. Bahkan pernah 2 minggu baru reda,” kata alumnus Fakultas Farmasi Universitas Andalas itu.

Saat di tempat kerja—ketika itu pada Februari 2010 ia bekerja di industri kimia adesif—Nelli kejang-kejang lalu pingsan. Segera rekan-rekan Nelli membawanya ke rumahsakit. Pencitraan resonansi magnetik (MRI) menguak biang keladi penyakitnya 10 tahun terakhir. Sebuah lesi atau benjolan berdiameter 2 cm bersarang di antara batang otak dan otak kecil. Berdasarkan pencitraan itu, dokter spesialis saraf mendiagnosis Nelli mengidap kavernoma, yang tergolong kanker otak, stadium 4.

Nasi ubijalar ungu membantu terapi kanker

Nasi ubijalar ungu membantu terapi kanker

Ubijalar ungu

Tanpa tindakan medis, usia perempuan yang kini berusia 54 tahun itu hanya tersisa setahun dan sewaktu-waktu bisa lumpuh atau buta mendadak. Menurut dr Hardhi Pranata SpS MARS, dokter spesialis saraf di Jakarta, kavernoma alias cavern angioma merupakan pelebaran pembuluh darah otak secara tidak normal. “Kavernoma tergolong kanker primer, artinya kanker yang terjadi lantaran aktivitas abnormal jaringan di tempat jaringan itu berada,” kata Hardhi.

Kavernoma seperti yang Nelli derita biasanya diikuti pendarahan kecil di sekitar lesi. Saat mengering, hemoglobin darah menyisakan zat besi. Sifat besi sebagai penghantar listrik menjadikan terjadinya percikan listrik lemah dari saraf di sekitarnya. Akibatnya penderita kejang-kejang, persis pengalaman Nelli. Dokter merekomendasikan biopsi untuk memastikan kanker yang diidap Nelli. Namun, Nelli menolak karena pengobatan kanker nyaris tidak bisa mengembalikan sepenuhnya kesehatan pasien.

Zafrija Nelli terbebas dari kanker otak stadium 4 berkat konsumsi ubijalar ungu

Zafrija Nelli terbebas dari kanker otak stadium 4 berkat konsumsi ubijalar ungu

Beberapa rekannya yang mengidap kanker tidak pernah benar-benar sembuh setelah pembedahan. Mereka tidak mampu beraktivitas normal apalagi mencari nafkah dan terpaksa hidup dengan bantuan orang lain sampai akhir hayatnya. “Jika itu terjadi kepada saya, siapa yang akan membayar biaya hidup saya? Survivor kanker harus memenuhi 2 syarat: kuat fisik dan kuat finansial. Saya tidak memenuhi keduanya,” tutur Nelli. Ia menolak menjalani pengobatan dan mencari jalan lain untuk mengatasi penyakitnya.

Selang dua pekan setelah terdiagnosis mengidap kanker otak stadium 4, Nelli mengikuti konseling di Pusat Informasi dan Dukungan Kanker (CISC, Cancer Information and Support Center) di Jakarta. Saat itu Adi Kharisma, penganjur konsumsi ubijalar ungu sebagai makanan sehat, menjadi konselor. Adi menganjurkan konsumsi ubijalar ungu sebagai makanan sehat setelah kehilangan 7 anggota keluarga akibat kanker (baca: boks “Setelah 7 Kerabat Wafat” halaman 14).

Dalam sesi konseling itu, Adi menganjurkan terapi kanker dengan konsumsi ubijalar ungu. “Dari 10 orang penderita yang hadir, hanya saya yang mengajukan diri untuk terapi ubijalar ungu,” tutur Nelli. Sejak hari itu Nelli mengubah pola konsumsi. Saat menanak nasi, ia mencampur 4 bagian beras dengan 1 bagian ubijalar ungu yang sudah dikukus. Jika merasa lapar di antara waktu makan, ubijalar ungu menjadi camilan. Setiap hari ia mengonsumsi rata-rata 200 gram ubijalar ungu.

Citra MRI otak Nelli: bulatan putih menunjukkan kavernoma

Citra MRI otak Nelli: bulatan putih menunjukkan kavernoma

Hilang keluhan

Sepekan sekali ia berbelanja ubijalar ungu ke pasar di dekat kediamannya di Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten. Nelli mencuci bersih Ipomoea batatas itu, mengukus, mengupas, lalu melumat hingga menyerupai pasta. Pasta itu ia simpan dalam lemari pendingin untuk diolah sewaktu-waktu. Selain itu ia mengutamakan konsumsi sayuran segar, menghindari makanan hewani, makanan olahan, dan makanan siap saji atau siap konsumsi dalam kemasan. Konsumsi minyak sawit ia ganti dengan minyak kelapa, zaitun, atau minyak kanola.

Tahu dan tempe—yang sohor sebagai makanan sehat—pun ia hindari. “Kita tidak tahu apakah proses pembuatannya benar-benar tanpa bahan kimia. Lagi pula, kedelai impor bahan tahu dan tempe yang dijual di pasar hari ini mungkin dipanen di tempat asalnya setahun lalu. Selain mengandung pengawet, kandungan nutrisi di dalamnya juga sudah habis, hanya menyisakan ampas,” kata Nelli. Sebulan berselang, sakit kepala yang mendera 10 tahun terakhir tidak pernah singgah. Setiap bangun pagi kepala Nelli terasa ringan, semula  berat di kepala belakang.

Baca juga:  Penyuluh Karawang Belajar Hidroponik

Kini, 4 tahun sejak diagnosis kanker, aktivitas Nelli kembali normal tanpa menunjukkan bahwa ia pernah mengidap kanker stadium lanjut. Ia memang belum memeriksakan diri karena merasa keluhan—pusing, muntah, kejang—yang dulu acap menyerang telah hilang. Nelli juga merasa jauh lebih bugar. Yang juga merasakan khasiat ubijalar ungu adalah I Dewa Made Dauh di Kabupaten Gianyar, Provinsi Bali, yang mengidap kanker prostat stadium 4.

Antosianin pada ubijalar ungu juga terdapat dalam daun

Antosianin pada ubijalar ungu juga terdapat dalam daun

Dokter memprediksi usia Dauh yang sebelumnya baru menjalani operasi pengangkatan kanker itu hanya tersisa kurang dari 7 hari. Dauh menderita penyakit itu sejak 1999 setelah 7 tahun mengidap hernia. Kondisi itu membuat putra Dauh, Prof Dr Ir I Made Ngurah Suprapta MSc, yang tengah menempuh program doktor Ilmu Pertanian di Universitas Kagoshima, Jepang, tergerak mencari obat mujarab. “Tindakan medis terbukti gagal menuntaskan kanker,” tutur Suprapta.

Ia menemukan riset yang memuat khasiat minuman fungsional berbahan buah bluberi. Riset itu menyebutkan kandungan antosianin buah Vaccinium corymbosum itu menyembuhkan kanker. Lantaran bluberi tidak tumbuh di tanahair, Suprapta mencari alternatif. Ia ingat masa kanak-kanak, air rendaman beras ketan hitam juga berwarna ungu. Oleh karena itu ia menganjurkan ayahanda mengonsumsi segelas air rendaman 2 sendok makan ketan hitam 2 kali sehari. Hasilnya Dauh bertahan melewati waktu yang diperkirakan dokter.

Valentina Indrajati: Ubijalar ungu bersifat dingin

Valentina Indrajati: Ubijalar ungu bersifat dingin

Terbukti ilmiah

Dua pekan berselang Dauh menghentikan konsumsi karena rasa air rendaman yang tidak enak dan perut terasa panas. Suprapta pun kembali memutar otak. Di benak Suprapta terbayang ubijalar ungu, yang ia yakini juga kaya antosianin seperti buah bluberi. Ia lantas menyarankan Dauh mengonsumsi ubijalar ungu kukus sebanyak 1—2 umbi setiap hari. Selang 3 pekan, Dauh menunjukkan kemajuan pesat. Ia bisa berjalan kembali meski tertatih-tatih.

Suprapta lantas meminta Dewa Putu Chandra, kerabatnya yang ahli radiologi, untuk memeriksa Dauh dengan sinar-X.  Ajaib! Sel kanker di organ reproduksi Dauh lenyap tak berbekas. I Dewa Made Dauh akhirnya meninggal pada 2005 akibat serangan jantung, bukan karena kanker prostat stadium 4. “Sejatinya kandungan antosianin ubijalar ungu juga mempertahankan kinerja dan mencegah kerusakan otot jantung. Sayang, ayah saya berhenti mengonsumsi 3 bulan sejak terbebas dari kanker,” ungkap guru besar Universitas Udayana itu.

Membaiknya kondisi Zafrija Nelli dan I Dewa Made Dauh sejalan dengan riset ilmiah I Wayan Sumardika, Agung Wiwiek Indrayani, dan I Made Jawi dari Fakultas Kedokteran Universitas Udayana. Riset yang  berkolaborasi dengan Dewa Ngurah Suprapta dari Fakultas Pertanian Univesitas Udayana itu membuktikan ubijalar berefek sitotoksik  atau menghambat pertumbuhan sel kanker.  Ubijalar sekaligus berkhasiat antiperbanyakan sel kanker

Dr dr I Made Jawi MKes: Antosianin mencegah kerusakan organ akibat radikal bebas

Dr dr I Made Jawi MKes: Antosianin mencegah kerusakan organ akibat radikal bebas

Mereka menguji dengan kultur sel kanker payudara T47D. Pada uji sitotoksik, mereka memberikan ekstrak ubijalar ungu dengan 11 variasi konsentrasi, mulai dari 500 ug/ml sampai 10.000 ug/ml. Semua konsentrasi menunjukkan efek sitotoksik terhadap kultur sel kanker. Bahkan 2 konsentrasi tertinggi, 9.000 dan 10.000 ug/ml, menunjukkan efek sitotoksik terhadap 100% kultur sel kanker. Pengujian kemampuan antiproliferasi atau antiperbanyakan  sel kanker pun menunjukkan hasil memuaskan. Mereka memberikan 3 dosis ekstrak: 500 ug/ml, 1.000 ug/ml, dan 2.000 ug/ml.

Pengamatan kemampuan antiperbanyakan mereka lakukan pada 24 jam, 48 jam, dan 72 jam. Dosis tertinggi, 2.000 ug/ml menunjukkan kemampuan antiperbanyakan tertinggi, sekitar 40%. Namun, mereka tidak mengamati mekanisme intraseluler yang terjadi. Cara kerja antosianin menghambat pertumbuhan dan perbanyakan sel kanker pun belum terungkap. Riset lebih menarik dilakukan Soyoung Lim di Universitas Yonsei, Seoul, Korea Selatan. Lim menguji kemampuan antikanker ubijalar ungu asal International Potato Center di Peru.

Ia menggunakan kultur sel kanker kolon SW480. Periset itu menggunakan ekstrak ubijalar ungu dan membandingkan dengan peonidin glukosida, jenis antosianin yang lazim terkandung dalam anggur merah. Hasilnya, ekstrak ubijalar ungu terbukti manjur menghambat pertumbuhan dan memperpendek umur sel kanker. Itu lantaran ekstrak ubijalar menghentikan duplikasi sel di fase G1 atau fase perbanyakan. Sel kadung mengeluarkan tenaga untuk memperbanyak diri, tetapi di tengah jalan proses itu dihentikan. Efeknya bukan hanya sel gagal berduplikasi, tapi juga kehabisan tenaga dan mati.

Khasiat ubijalar ungu membuat produk olahan ikut naik daun

Khasiat ubijalar ungu membuat produk olahan ikut naik daun

Cegah stres oksidatif

Baca juga:  Sapi Sasra Andalan Sragen

Menurut Hardhi Pranata, antosianin melawan kanker dengan menghambat aktivitas mitokondria sel kanker. Anggota tim dokter Kepresidenan itu mengatakan, sel kanker tumbuh sangat cepat lantaran mempunyai mitokondria yang 10 kali lebih aktif ketimbang sel normal. Mitokondria ibarat “baterai” yang memasok energi untuk aktivitas sel kanker. Dengan kapasitas “baterai” lebih besar, keruan saja perkembangan dan aktivitas berkali-kali lipat sel normal.

Tenaga besar itu membuat sel kanker mampu bertahan terhadap pereaksi ligan pembawa perintah bunuh diri alias apoptosis jalur ekstrensik dari sel berdekatan. “Itu menyebabkan sel kanker seolah tidak ada matinya,” kata Hardhi. Kerusakan di mitokondria menyebabkan “raksasa liar” itu tidak berkutik dan akhirnya mati kelaparan.

Menurut Dr dr Anak Agung Gde Wiraguna SpKK, ubijalar ungu yang mengandung antosianin memperbaiki peredaran darah dan menyeimbangkan sistem hormonal. Itulah sebabnya ia selalu merasa berstamina prima, tidak mudah jenuh, dan tidak mudah lelah. Hingga kini, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada Yogyakarta itu rutin mengonsumsi jus ubi ungu setiap hari. Menurut dosen Jurusan Kimia Universitas Negeri Yogyakarta, Prof Dr Nurfina Aznam  antosianin—dijuluki demikian lantaran warna cyan alias ungu gelap dalam pH netral—sejatinya pigmen warna yang terdapat dalam semua tanaman tingkat tinggi.

Buah bluberi kaya antioksidan

Buah bluberi kaya antioksidan

Tanaman tingkat tinggi maksudnya semua jenis tanaman selain alga, cendawan, jamur, dan tumbuhan paku. Di laboratorium, ilmuwan menciptakan lebih dari 500 turunan antosianin dengan memvariasi gugus pengganti di ketujuh ikatan nonjenuh yang terletak di tepi rantai.  Menurut Dr dr I Made Jawi MKes, farmakolog di bagian Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, antosianin memiliki struktur dasar dengan 3 ikatan fenol tak jenuh yang menyediakan proton untuk menangkap radikal bebas.

Itu menjelaskan kemampuan mencegah terjadinya stres oksidatif—kerusakan akibat kekurangan oksigen—dalam sel. Efek selanjutnya, semua kerusakan sel akibat stres oksidatif, antara lain  kerusakan organ dalam seperti hati, otak, ginjal, pankreas, sampai mutasi sel yang memicu kanker pun menyingkir. Tidak cukup sampai di sana, daya antioksidan antosianin juga melindungi selubung endotelium yang melapisi dinding kapiler pembuluh darah.

Kerusakan dinding kapiler pembuluh darah menyebabkan terbentuknya plak yang memicu hipertensi. Pada 2013 silam, Jawi melakukan uji klinis terhadap 17 responden usia lanjut pengidap tekanan darah tinggi. Ia memberikan kapsul berisi ekstrak ubijalar ungu dicampur kaptopril—obat sintetis penurun tekanan darah. Awal pengujian, rata-rata tensi responden 160/95. Selang sebulan, tensi responden rata-rata turun menjadi 140/80 mmHg (baca: “Musuh Baru Hipertensi” halaman 16).

Herbalis di Kotamadya Bogor, Jawa Barat, Valentina Indrajat, mengatakan, kandungan antosianin ubijalar ungu bersifat “dingin”. Artinya cocok untuk penyakit yang berhubungan dengan pencernaan, peredaran darah, dan sistem pembuangan. “Kanker berhubungan dengan pencernaan atau peredaran darah sehingga bisa disembuhkan dengan konsumsi ubijalar ungu,” tutur Valentina. Ia tidak meresepkan ubijalar untuk para pasiennya, hanya menganjurkan. Bagi para pasien konsumsi ubijalar ungu untuk mengatasi sel kanker adalah cara terenak untuk segera bugar.(Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Bondan Setiawan, Desi Sayyidati Rahimah, Kartika Restu Susilo, dan Rizky Fadhilah)

cover 1234.pdfAdi Kharisma menganjurkan konsumsi makanan sehat setelah kehilangan ayah, mertua, dan 4 kerabat lain akibat kanker. Pada 2000, sang ayahanda berpulang akibat kanker. Berikutnya menyusul kedua mertua, paman sampai akhirnya ibunda tercinta pun meninggal pada 2002, semua akibat kanker. Itu membuatnya miris sekaligus ngeri. “Bisa jadi berikutnya saya yang dibunuh kanker,” tutur pria berusia 54 tahun itu.
Ia lantas berburu makanan “musuh” kanker sejak 2006. Dari berbagai literatur, Adi memilih makanan berwarna hitam, biru, dan ungu. “Warna-warna itu menggambarkan kandungan racun. Tapi bukankah dalam dosis tertentu racun adalah obat?” tutur ayah 2 anak itu. Melalui diskusi dengan Prof Dr Ir I Made Ngurah Suprapta MSc dan Dr dr I Made Jawi MKes di Universitas Udayana, Bali, pilihannya jatuh kepada ubijalar ungu.

Sejak 2006, ubijalar ungu menjadi asupan harian. Pagi hari ia minum segelas jus ubijalar ungu, lalu malamnya makan nasi yang dicampur ubijalar ungu. Sejak itu, Adi merasa terlahir kembali. Tubuhnya selalu bugar. “Kulit lentur, luka cepat pulih, dan darah terasa sangat lancar,” ungkap anak ke-7 dari 9 bersaudara itu. Ia juga tidak pernah sakit: ia menderita flu terakhir kali 15 tahun silam.
Ia lantas menjadi penganjur konsumsi sekaligus produsen berbagai olahan ubijalar ungu. Kegigihan itu membuatnya diganjar penghargaan internasional sebagai aktivis pangan lokal dari Terra Madre, forum internasional pengolah pangan lokal di Turin, Italia. Terra Madre diselenggarakan oleh Dewan Pangan Italia dan sebuah lembaga nirlaba di Italia. Rahasia sehat Adi membawanya memperoleh pengakuan dunia. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *