Ubah Hambar Jadi Legit 1

Ketika pekebun lain gagal panen, Nauval Firdaus justru memetik berton-ton durian. Citarasa buah juga lebih lezat dan lebih manis.

Durian monthong, rasanya jadi lebih manis

Durian monthong, rasanya jadi lebih manis

Para pekebun durian di Indonesia menghadapi masalah rendahnya produksi. Pada musim berbuah 2013, curah hujan tinggi sehingga pohon-pohon di kebun gagal berbuah karena bunga rontok. Celakanya, produksi sedikit, sebagian besar pun rasanya hambar sehingga mengecewakan konsumen. “Durian lokal yang berkualitas baik tinggal 10—20%” ungkap Tatang Halim, pemasok buah-buahan di Jakarta. Tatang kerap mengunjungi sentra durian di berbagai wilayah untuk mencari buah terbaik.

Dari buah yang sedikit itu, Kebun Makarim Farm salah satu penghasil durian enak. Menurut pemiliknya, Nauval Firdaus, buah dari kebun itu lebih manis, lebih kuning, dan produksinya lebih banyak. Karena itulah, pada Februari 2014 saya dan teman-teman dari komunitas Maniak Durian tertarik mengunjungi kebun di Desa Pulurejo, Kecamatan Ngoro, Kabupaten Jombang, Jawa Timur, itu. Di kebun seluas 5 ha itu tumbuh pohon-pohon durian yang tengah berbuah lebat. Beberapa pengunjung menggelar tikar di bawah pohon durian sambil mencicip raja buah pilihannya. Menurut, Nauval Firdaus kebun durian itu memang dibuka untuk umum.

Selain mencicip di tempat, pengunjung dapat membawa pulang durian dengan membayar Rp20.000—Rp25.000 per buah. Wajar bila hasil panen dari kebun itu selalu ludes di tempat tanpa sempat dibawa ke pasar.

Produksi 240 ton

Penulis dan Nauval Fidaus, pengelola Makarim Farm

Penulis dan Nauval Fidaus, pengelola Makarim Farm

Penataan kebun itu rapi dengan jarak antartanaman 10—11 m. Tajuk tanaman saling bertemu yang menandakan umur pohon dewasa, berkisar 15—30 tahun. Luas area durian sekitar 1 ha—area lain untuk budidaya tebu—dengan populasi 75 pohon berbagai varietas lokal dan introduksi. “Saya tidak tahu jumlah varietas karena ketika dibeli kondisinya sudah seperti ini,” tutur Nauval Firdaus yang akrab dipanggil Bobby itu. Di sebuah pohon berumur 30-an tahun, masih menggantung 80 buah.

“Ini buahnya tinggal 40—50% saja karena sudah dipanen selama 2 minggu. Saat buahnya masih kecil banyak juga yang kami kurangi karena beberapa pohon dahannya patah akibat kebanyakan buah,” ungkap Bobby. Total produksi buah rata-rata lebih 160 buah. Jika bobot buah rata-rata 2 kg, maka setiap pohon menghasilkan 320 kg. Artinya dari total 75 tanaman, maka potensi produksinya setara 24 ton per hektar.

Baca juga:  Panen Padi Organik

Produktivitas 24 ton itu luar biasa tinggi karena rata-rata produksi durian secara nasional hanya 12—15 ton per ha. Setelah puas berkeliling kebun, saatnya mencicip buah yang sejak tadi mengundang selera saya dan kawan-kawan dari Maniak Durian. Nauval menyodorkan 10 varietas: silumut, monthong, petruk, sitokong, bajul, dan beberapa tak bernama. Namun, dari tampilannya saya yakin itu bukan jenis lokal.

Salah satu durian andalan Makarim Farm, warna daging kuning keemasan dan kesan umaminya lama di kerongkongan

Salah satu durian andalan Makarim Farm, warna daging kuning keemasan dan kesan umaminya lama di kerongkongan

Kami mulai mencicip monthong. Begitu tercecap di mulut, sontak kami tercengang karena manisnya terasa sekali, melebihi durian di pasar swalayan. Setelah satu per satu durian dicicip, kami berkesimpulan rasa durian di kebun itu rata-rata manis dan pahitnya terasa dominan. Di antara 10 durian, ada satu varian tanpa nama. Kami menyebutnya durian nauval. Dagingnya kuning keemasan dan rasanya, wow! Perpaduan manis, lembut, pulen, dan umaminya terasa lengket di kerongkongan.

Sayang pohonnya hanya satu dan panen lebih dahulu dibanding yang lain sehingga kami hanya mendapat satu buah. “Panen tahun ini ada peningkatan kualitas daripada tahun lalu,” kata Nauval. Bahkan pohon yang tahun lalu tidak berbuah, sekarang mulai berbuah. Rasanya pun rata-rata lebih manis dan warna dagingnya lebih kuning. Beberapa pohon yang tahun lalu di dagingnya ada bercak hitam sekarang sudah normal. Yang lebih penting, walaupun diterpa hujan terus-menerus, bunga tetap jadi buah. Bahkan perlu penjarangan untuk mengurangi jumlah yang berlebihan.

Pupuk fermentasi

Kebun itu dibeli ayah Bobby, H. Cholid Makarim, pada 2011 dari pemilik seorang pensiunan pegawai pertanian. Kondisi tanaman saat itu sebagian besar tidak prima. Banyak dahan dan ranting kering sehingga hasil panen rendah. Tindakan pertama yang dilakukan ialah penyehatan tanaman. Nauval memberikan pupuk berimbang dan menerapkan perawatan berkonsep konservasi agroekosistem. Ia memberi 100—200 kg pupuk kotoran kambing fermentasi per pohon pada 2013.

Selain itu ia juga memberikan 5—10 kg kapur pertanian, kombinasi pupuk N, P, dan K 3—5 kg per pohon. Setiap tanaman juga memperoleh pupuk boron sekitar 50 g. Pemupukan itu dilakukan 3 kali, yaitu pada: April, Juli, dan November. Dosis sesuai diameter batang. Pohon berdiameter 30 cm misalnya, mendapatkan 5 kg. Semua pupuk diberikan dengan menaburkan secara merata di bawah pohon karena tajuk sudah saling menutupi.

Baca juga:  Madu Hijau Tanpa Pecah

Pemupukan dengan menggali lubang di sekeliling tanaman menyebabkan banyak sekali akar durian sebesar jempol kaki putus. Penyiangan rumput dan gulma menggunakan mesin potong rumput. Ia menghindari penggunakan cangkul karena bisa merusak akar serabut durian di permukaan tanah. Nauval kerap memanfaatkan serasah daun tebu sebagai mulsa untuk menekan pertumbuhan rumput.

Alumnus Universitas Surabaya (Ubaya) itu juga mengomposkan bekas pangkasan daun dan ranting durian kemudian menaburkannya di bawah pohon. “Dengan cara itu kondisi tanah jadi lebih gembur,” ujar Nauval sambil mengambil segenggam tanah yang remah di bawah pohon dan menunjukkan pada kami sebagai bukti. Dengan kenyataan itu, ia menyesal menebang 15 pohon duriannya tahun lalu, sebelum sempat memberikan perlakuan seperti di atas. Durian itu ditebang agar dapat di sambung dengan varietas musang king. Sampai sekarang hasil top working masih kecil dan belum berbuah. Bahkan, sebagian gagal tumbuh.

“Seandainya dulu diperlakukan seperti yang sekarang ini, mungkin banyak pohon dapat diselamatkan,” ujar pria 37 tahun itu. Dari pengalaman itu, ia mendapat ilmu agar tidak tergesa-gesa memvonis durian jelek lalu mengambil tindakan frontal sebelum mencoba memperbaiki dengan pemupukan dan perawatan yang sesuai. Dari sekian varietas, hanya durian bajul yang belum tampak mengalami perubahan nyata dengan perlakuan yang diberikan. Selain itu tingkat kepulenan rata-rata buah masih belum maksimal. Namun kini, buah apkir kurang dari 30%, dan ia berharap dengan perlakuan yang kontinu kualitas buah membaik.

Sejak 2 tahun terakhir, Nauval juga menambah koleksi duriannya dengan menanam varietas-varietas unggul dari berbagai daerah dan introduksi. Misal durian kharisma, sumber, D-24, matahari, tawing, kanyao, dan MO. Jenis baru yang ditanam dengan jumlah cukup banyak ialah musang king. (Panca Jarot Santoso, peneliti durian di Badan Litbang Pertanian, Kementrian Pertanian)

FOTO:

  1. Dengan perlakuan khusus, durian ‘sakit’ kembali berbuah lebat
  2. Durian monthong, rasanya jadi lebih manis
  3. Salah satu durian andalan Makarim Farm, warna daging kuning keemasan dan kesan umaminya lama di kerongkongan
  4. Penulis dan Nauval Fidaus, pengelola Makarim Farm

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *