Tuna untuk Kapsul 1
Tuna sirip kuning menghuni laut Indonesia sehingga ketersediaan kulit tuna relatif melimpah.

Tuna sirip kuning menghuni laut Indonesia sehingga ketersediaan kulit tuna relatif melimpah.

Kulit tuna bahan baku gelatin untuk membuat cangkang kapsul.

Lazimnya industri hanya mengambil daging tuna sirip kuning dan membuang kulit yang mencapai 5—10%. Jika bobot tuna sirip kuning rata-rata 30 kg, maka limbah mencapai 1,5—3 kg. Selama ini industri memanfaatkannya sekadar bahan baku pakan ternak dan kerupuk ikan. Limbah tuna melimpah di daerah sentra pengolahan ikan seperti di Bitung, Sulawesi Utara, dan Makassar (Sulawesi Selatan). Volume produksi tuna pun meningkat menjadi 167.800 ton pada 2015 dari semula 112.796 ton pada 2014.

Trubus Juni 2018 Highrest.pdf

Kulit tuna sirip kuning berpotensi menjadi bahan baku terbaik gelatin.

Limbah terbuang seperti kulit itu sangat potensial sebagai sumber gelatin. Penulis dan tim berhasil mengolah kulit tuna sirip kuning menjadi gelatin sesuai standar Gelatin Manufacturers Institute of America (GMIA) dan mengaplikasikannya menjadi bahan baku cangkang kapsul. Selama ini cangkang kapsul lazimnya terbuat dari gelatin atau zat yang terbuat dari tulang atau jaringan hewan mamalia terutama sapi dan babi. Tentu saja pemanfaatan cangkang kapsul gelatin kedua satwa itu terbatas karena bertentangan dengan ajaran Islam dan Hindu. Dengan kata lain inovasi kapsul dari gelatin tuna bisa menjadi alternatif kapsul halal.

Kadar kolagen

Kekhawatiran lain mengonsumsi produk bergelatin mamalia yakni munculnya penyakit Bovine Spongiform Encephalopathy (BSE) atau penyakit sapi gila. Gelatin diperoleh dengan mengonversikan kolagen alami dalam kulit dan tulang. Sifat khas gelatin yaitu dapat berubah bentuk dari sol atau cairan kental ke jeli (gel) dan sebaliknya (reversibel), mengembang dalam air dingin, membentuk film, mempengaruhi viskositas suatu bahan, dan melindungi sistem koloid.

Baca juga:  Pemecah Andal Batu Ginjal

Pemanfaatan gelatin dalam industri farmasi sangat terkenal sebagai pengikat pada tablet dan bahan cangkang kapsul keras dan lunak. Cangkang kapsul berperan sebagai medium penyimpan obat agar masuk ke dalam tubuh. Pembuatan cangkang kapsul lazimnya memerlukan gelatin yang berasal dari kulit dan tulang sapi atau babi. Selama ini Indonesia mengimpor gelatin dari mancanegara seperti Tiongkok, Thailand, Australia, Brasil, Bangladesh, dan Selandia Baru.

Selain bidang farmasi, gelatin juga sangat bermanfaat dalam industri pangan sebagai pengental, emulsifier, dan penstabil seperti pada perusahaan produsen agar-agar, permen, es krim, dan kue.Sementara penggunaan gelatin dalam bidang nonpangan meliputi industri fotografi, kosmetik, dan farmasi.

Kapsul gelatin tuna sirip kuning kreasi para periset gelatin ikan tuna dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Kapsul gelatin tuna sirip kuning kreasi para periset gelatin ikan tuna dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Selain kulit, gelatin dapat berasal dari sisik dan tulang. Meski begitu kandungan kolagen dalam kulit dan sisik lebih tinggi dibandingkan dengan tulang. Kelebihan lain gelatin berbahan kulit ikan yakni waktu pembuatan relatif cepat. Sementara proses produksi gelatin dari sisik dan tulang lebih lama karena mesti melalui beberapa perlakuan. Tahapan pembuatan gelatin dari kulit tuna dalam proses paten. Yang pasti hasil akhir ekstraksi dalam penelitian itu berupa gelatin cair yang lantas dikeringkan menggunakan mesin khusus dan pada suhu tertentu.

Unggul

Lazimnya gelatin di pasaran berasal dari mamalia terutama sapi.

Lazimnya gelatin di pasaran berasal dari mamalia terutama sapi.

Lalu peneliti menganalisis gelatin kulit tuna sirip kuning itu berdasarkan rendemen, pH, kekuatan jeli, viskositas, gugus fungsional, bobot molekul, dan komposisi asam amino. Rendemen gelatin berbahan kulit tuna mencapai 17—23%. Artinya 1 kilogram kulit tuna menghasilkan 170—230 gram gelatin. Gelatin itu juga sesuai standar dunia yang mengacu pada GMIA.

Baca juga:  Desa Stroberi

Kekuatan jeli gelatin kulit tuna sirip kuning yaitu 1789,55 gf. Angka itu menunjukkan gelatin kulit tuna lebih kuat daripada gelatin komersial yang hanya berkekuatan 256,6 gf. Nilai viskositas gelatin hasil penelitian pada 2017 itu 104,2 Cp, lebih besar daripada gelatin komersial yakni 44,5 Cp. Sementara asam amino utama dalam gelatin kulit tuna yaitu glisin dan prolina. Sejatinya gelatin mengandung 9 dari 10 asam amino esensial, kecuali triptofan.

Oleh karena itu, gelatin menjadi bahan multiguna di berbagai industri. Penelitian pembuatan cangkang kapsul dari kulit tuna terus dikembangkan. Hasil penelitian mengungkapkan gelatin kulit tuna sama baiknya dengan gelatin konvensional. Jumlah gelatin tuna yang digunakan untuk membuat cangkang kapsul pun lebih sedikit dibandingkan dengan gelatin konvensional. Artinya pembuatan cangkang kapsul berbahan kulit tuna lebih ekonomis dan efisien. Selain itu daya hancur cangkang kapsul kulit tuna dalam tubuh lebih cepat ketimbang produk konvensional.

Pemanfaatan gelatin sangat luas seperti pada pembuatan agar-agar.

Pemanfaatan gelatin sangat luas seperti pada pembuatan agar-agar.

Dengan kata lain tubuh pasien lebih cepat menyerap obat dalam cangkang kapsul itu. Tim periset juga mengujicobakan gelatin pada pangan dan nonpangan. Tim peneliti pun masih mengeksplorasi cara produksi dan manfaat gelatin aktif—turunan lain dari gelatin—untuk manusia. Pengolahan gelatin dari kulit tuna mengurangi keraguan umat muslim dan Hindu untuk mengonsumsi produk bergelatin. Kulit tuna lain seperti bluefin tuna dan albakor pun berpotensi diproduksi menjadi gelatin. (Dr. Mala Nurilmala, S.Pi. M.Si., dosen di Departemen Teknologi Hasil Perikanan/Direktur EMBRIO, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor, juga alumnus University of Tokyo, Jepang)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *