Muhamad Yusron Ismail meraup laba dari perdagangan buah dan bibit tanaman.

Muhamad Yusron Ismail meraup laba dari perdagangan buah dan bibit tanaman.

Semula membuka lapak di tepi trotoar, kini Muhammad Yusron Ismail mengebunkan 2 ha jambu biji getas sekaligus memasok 5 ton buah per pekan.

Langkah agribisnis Muhamad Yusron Ismail bermula dengan menawarkan jambu biji getas merah kepada teman-teman kuliahnya. Namun, penjualannya hanya sedikit. Itulah sebabnya ia menggelar terpal di trotoar tepi jalan sekitar area kampus di Jember, Provinsi Jawa Timur, untuk menjual jambu biji merah. Cara itu berhasil, penjualannya mencapai 200 kg sehari. Suatu hari, saat berjualan di trotoar, kekasih Yusron melintas bersama beberapa temannya.

Teman sang kekasih, bernada melecehkan, berbicara sambil menunjuk Yusron. “Mungkin karena malu, pacar saya, Novianti Cahya Indah Sari, tidak mengaku kalau kami pacaran,” kata Yusron mengenang. Alumnus Pesantren Nurul Jadid, Paiton, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, itu tidak sakit hati. Novianti Cahya Indah Sari yang kini menjadi istrinya justru mendukung “karier” Yusron di bidang agribisnis.

Permintaan tinggi

Tujuh tahun berselang, Yusron memasok 5 ton buah setiap pekan untuk memenuhi permintaan 4 pedagang besar di Jember, Mojokerto, Tulungagung, dan Sidoarjo, semua di Provinsi Jawa Timur. Lima ton buah itu terdiri atas 70% jambu getas merah. Sisanya—masing-masing 10%—terdiri atas jambu kristal, belimbing, dan jeruk. Pemuda itu mengirimkan dengan 12 mobil bak terbuka miliknya.

Permintaan jambu getas merah tinggi dan stabil.

Permintaan jambu getas merah tinggi dan stabil.

Yusron masih turun tangan untuk mengontrol kebun atau mengantarkan buah pesanan koleganya. Biasanya ia mengirimkan pesanan buah setelah matahari terbenam. “Itu mengurangi risiko kerusakan buah akibat paparan panas di perjalanan,” kata Yusron. Ia baru kembali ke rumah pukul 20.00—21.00. Pasokan jambu getas berasal dari kebun sendiri seluas 2 ha. Kebun berlokasi di Kabupaten Jember yang tersebar di 8 lokasi.

Pemuda kelahiran 16 Oktober 1991 itu menanam lebh dari 3.000 pohon jambu getas sejak 2013. Kini umur pohon berkisar 1—4 tahun. Jambu berbuah sepanjang tahun tanpa musim. Di umur 8 bulan tanaman mulai berbuah menghasilkan 1—1,6 kg buah per pohon per 2 bulan. Menurut Yusron produksi cenderung meningkat seiring pertambahan umur pohon. Pada umur 2 tahun, misalnya, produksi mencapai 2—2,8 kg per pohon per 2 bulan.

Untuk mengelola kebun seluas itu Yusron mempekerjakan 23 orang yang berasal dari Jember dan Probolinggo. Tenaga kerja itu juga melakukan pemanenan, penyortiran, dan pembungkusan buah menjelang kirim. Penanaman bibit di lahan pun menjadi tugas mereka. Ayah satu anak itu menjual buah jambu getas merah berbobot 300—400 gram per buah kepada pedagang besar.

Baca juga:  Dunia yang Lebih Baik

Yusron berpeluang menggelembungkan omzet jika mampu memenuhi permintaan jambu itu. “Sampai sekarang pun banyak permintaan getas merah tidak saya layani,” ujar Yusron. Musababnya, tidak semua lancar membayar. Penundaan pembayaran keruan saja mengganggu perputaran modal. Itu sebabnya ia hanya bekerjasama dengan 4—5 orang mitra. Permintaan saat ini baru memenuhi 40—60%.

Bisnis bibit

Menyortir dan membungkus buah dengan plastik sebelum pengiriman.

Menyortir dan membungkus buah dengan plastik sebelum pengiriman.

Permintaan tinggi karena konsumen mengkonsumsi getas merah yang kaya vitamin C dan antioksidan itu dalam bentuk segar maupun olahan seperti jus. Itulah sebabnya Yusron sampai sekarang masih terus memperluas penanaman untuk memenuhi tingginya permintaan. Sebagai sentra jeruk, di Jember banyak kebun jeruk yang terbengkalai akibat hantaman banjir jeruk impor. Petani enggan merawat kebun karena harga anjlok.

Yusron mengambil alih kebun-kebun nonproduktif itu untuk menanam jambu getas merah dan jambu kristal. Kini ia menyewa kebun di 8 lokasi dan masih terus bertambah untuk memenuhi permintaan. Pada Agustus 2017, ia menjual mobil sedan yang lebih sering terparkir di rumah untuk membeli lahan. “Kalau mau pergi, naik motor atau mobil bak terbuka saja,” katanya sembari tertawa. Lagi pula, menyimpan mobil adalah investasi yang buruk karena harganya semakin turun.

Adapun pasokan buah lain, yakni jambu kristal, belimbing, dan jeruk berasal dari para petani mitra. Meski tak memiliki kebun ketiga buah itu, Yusron mampu mengelola pasokan setiap hari karena membeli dari tanaman milik masyarakat. Ia menyeleksi buah itu dengan kriteria tertentu, misalnya bobot dan rasa secara acak. Menurut Yusron 95% pasokan dari pohon milik masyarakat memenuhi syarat.

Halaman rumah dimanfaatkan sebagai lokasi pembibitan.

Halaman rumah dimanfaatkan sebagai lokasi pembibitan.

“Yang kurang bagus dijual kepada pembuat minuman di sekitar kampus di Jember. Menurut Yusron saat kemarau, permintaan buah meningkat 30—40%. Sumber pendapatan lain Yusron adalah bisnis jual beli bibit tanaman buah. Jambu biji merah, jambu kristal, srikaya jumbo, durian musang king, dan berbagai jenis tanaman buah lain.

Setiap bulan ia menjual minimal 2.000 bibit jambu kristal—jenis jambu minim biji berdaging renyah itu. Ternyata, meski lebih dari 11 tahun hadir di Indonesia (baca Gemerlap Kristal Asal Taiwan, Trubus September 2006), jambu kristal masih mempunyai banyak peminat. Yusron sampai menyewa sebidang lahan di sentra pembibitan tanaman buah di Jawa Barat, khusus untuk memperbanyak bibit jambu kristal.

Baca juga:  Gula Nontebu Merintis Pasar

Di sana ia menempatkan seorang anak buah untuk belajar memperbanyak bibit. Ditambah penjualan bibit tanaman buah lain, penjualan dalam sebulan antara 4.000—5.000 bibit tanaman buah. Untuk itu ia memiliki beberapa mobil bak terbuka. Sebagian melayani pengiriman rutin, lainnya untuk mengumpulkan buah dari pekebun, atau Yusron gunakan sendiri.

Faktor kepercayaan

Bibit jambu yang baru tanam di antara pohon jeruk.

Bibit jambu yang baru tanam di antara pohon jeruk.

Usaha dalam bidang apa pun memerlukan modal. Namun, modal tidak melulu berupa uang. Ketika merintis bisnis bibit tanaman, Yusron mengandalkan kemurahan hati pemilik bibit untuk meminjamkan barang dagangan. Pinjaman bermodal kepercayaan itu segera ia lunasi begitu bibit terjual. Tidak semua bibit itu dijual, sebagian ia simpan untuk diperbanyak sendiri. Selisih yang seharusnya menjadi laba Yusron gunakan untuk memperbanyak bibit. Dengan cara itulah akhirnya ia mempunyai ribuan bibit tanaman siap jual.

Modal serupa juga Yusron gunakan untuk menyewa lahan. “Modal besar jelas saya tidak punya. Saya cuma mengandalkan kepercayaan,” ungkapnya. Pemilik lahan memperoleh bagian 40% nilai panen selama masa sewa. Tentu saja, 8—11 bulan pertama sejak mulai menyewa, Yusron tidak membayar apa pun karena belum ada panen. Hitungannya, Yusron dan pemilik lahan sama-sama memperoleh 40%, sedangkan 20% untuk operasional sejak pembersihan lahan, penanaman, perawatan, dan biaya panen.

Persentase itu berdasarkan harga buah di kebun. Misalnya panen sebulan 100 kg dengan harga Rp5.000 per kg, yang berarti nilainya Rp500.000, maka pemilik lahan mendapat 40% atau Rp200.000. Sepintas nilainya kecil, kalau dikalikan masa sewa selama 5—10 tahun, pemilik lahan ibarat mendapat gaji bulanan. Modalnya hanya mempercayai kebenaran janji Yusron. “Percaya atau tidak, saya membeli mobil pertama saya juga dengan modal kepercayaan,” ungkap Yusron.

Muhamad Yusron Ismail rutin memasok 500 kg belimbing per bulan.

Muhamad Yusron Ismail rutin memasok 500 kg belimbing per bulan.

Pada 2014, Yusron mengandalkan sepeda motor tua bermesin 2 tak untuk mengirim buah. Untuk menambah kapasitas, ia memasang keranjang di kedua sisi. Seiring bertambahnya permintaan, ia memerlukan kendaraan berkapasitas lebih besar. Bermodal KTP, ia mendatangi penyalur mobil di Jember. “Saya tidak mampu membayar uang muka, tapi saya menjamin saya mampu membayar cicilan,” ungkapnya mengenang. Keruan saja beberapa diler menolak mentah-mentah sampai di salah satu diler, Yusron bisa bertemu langsung dengan pemiliknya.

Sang pemilik, melihat keseriusan Yusron, memberinya kepercayaan. Ia pulang mengendarai mobil bak terbuka yang ia beli dengan modal kepercayaan. Bulan berikutnya sampai akhir masa pelunasan, Yusron membuktikan bahwa sang pemilik diler tidak memercayai orang yang salah. Ia tidak lantas berbesar kepala lalu membeli mobil pribadi yang mentereng sekadar untuk bergaya. Yusron memilih menanamkan modalnya untuk memperbanyak bibit dan memperluas penanaman. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d