Bercak ungu mengancam gagal panen bawang merah. Perlu penanganan tepat mengendalikan penyakit itu.

Lahan bawang merah terancam bercak ungu.

Lahan bawang merah terancam bercak ungu.

Pada mulanya hanya bercak melekuk berwarna putih di permukaan daun bawang merah. Namun, bercak mirip cincin itu meluas dan ujung daun mengering. Itulah isyarat makhluk liliput Alternaria porri—dahulu acap disebut Macrosporium porri—hadir di kebun bawang merah Agus Arifin, petani di Ciwidey, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat. Hanya dalam 10 hari serangan meluas di lahan 0,4 hektare.

Masyarakat menyebut penyakit akibat cendawan anggota famili Pleosporaceae itu trotol mengacu pada bercak di daun. Ada pula yang menyebut bercak ungu. Agus nyaris gagal panen. Petani bawang merah sejak 2013 itu hanya memperoleh 3 ton umbi lapis. Padahal, jika cendawan tak menyerang, Agus menuai 5 ton. Celakanya umbi bawang merah pun bermutu rendah, berukuran kecil dan berwarna kusam. Harga jual bawang merah pun anjlok.

Cegah serangan
Trotol alias bercak ungu memang menjadi penyakit utama bawang merah. Cendawan Alternaria porri menginfeksi ketika tanaman membentuk umbi, yakni pada 30—40 hari setelah tanam. Infeksi umbi lapis terjadi pada saat panen atau sesudahnya. Umbi yang membusuk agak berair dan berwarna kuning sampai kecokelatan. Jika benang-benang cendawan berwarna gelap itu berkembang, jaringan tanaman pun mengering.

Menurut ahli penyakit dari Universitas Padjadjaran, Prof Ir Tarkus Suganda MSc PhD, bercak ungu menjalar dalam waktu 5—6 hari. Bercak ungu sering menyerang tanaman saat udara lembap. Pada umumnya penyakit bercak ungu menyerang pada musim hujan. Namun, ada kalanya menyerang pada musim kemarau. Bercak ungu dapat ditularkan melalui udara dan berkembang saat kelembapan tinggi, dengan suhu rata-rata di atas 26°C.

Baca juga:  Kelapa Dalam Semeter Panen

Menurut guru besar Universitas Padjadjaran, Prof Ir Tarkus Suganda MSc PhD, bawang merah rentan terhadap bercak ungu pada saat pembentukan umbi lapis. Suganda menyarankan petani menggunakan pupuk secara seimbang dan memastikan tanaman mendapat air yang cukup. Pemberian pupuk organik dan mulsa jerami secara terpisah maupun kombinasi, dapat mengurangi bercak ungu.

Pencegahan lain adalah pergiliran tanaman. Jika serangan melebihi ambang batas, penggunaan fungsisida sebuah keharusan. Agus yang menghadapi serangan serupa pada periode tanam berikutnya, memutuskan untuk menyemprotkan fungsisida cabrio top berbahan aktif metiram dan pyraklostrobin. Di pasaran terdapat beberapa merek fungisida berbahan aktif metiram, yakni Polycom 70 WG, Tanicol 80 WP, dan Tiflo 80 WP. Pria 47 tahun itu menyemprotkan fungisida dua kali sepekan.

Daun kembali hijau
Mula-mula Agus melarutkan 19 ml fungsisida dalam 14 liter air bersih, mengaduk rata, dan menyemprotkannya pada daun. Dalam sebulan ia menghabiskan satu kantong fungisida berbentuk tepung itu. “Selama penggunaan rutin, bawang merah bebas dari serangan bercak ungu. Selain itu tanaman lebih subur. Namun, jika terlambat penyemprotan, bawang mudah terserang, tiba-tiba layu,” ujar Agus.

Bercak ungu mewabah pada musim hujan.

Bercak ungu mewabah pada musim hujan.

Tanaman berumur 45–50 hari relatif aman karena pembentukan umbi sudah selesai. Kemudian saat tanaman berumur 50–60 hari saat masa pematangan umbi, Agus tetap menggunakan fungisida itu. Sebab jika drainase buruk, umbi bisa terendam dan terserang busuk umbi. Menurut Agus sejak menggunakan fungisida itu daun bawang merah menghijau dan menguat.

Menurut Manajer Produksi PT Badische Anilin-und Soda Fabrik (BASF), cabrio top 60 WG merupakan fungisida sistemik. Pengendali penyakit itu dapat disuspensikan untuk mengontrol penyakit pada tanaman sayuran, seperti bawang merah, kentang, tomat, dan cabai. Senyawa aktif metiram dan piraklostrobin bekerja dengan cara sistemik dan kontak. Beragam senyawa aktif itu menyebar ke seluruh bagian tanaman untuk mengendalikan penyakit.

Baca juga:  Panen 12 Ton per Hektare

Akibatnya serangan penyakit pun dapat dikendalikan. Itulah sebabnya setelah Agus rutin menyemprotkan fungisida itu, daun tanaman kembali hijau. Bagi petani ibarat sekali merengkuh dayung maka dua tiga pulau terlampaui. Petani dapat mengendalikan serangan cendawan bawang merah. Selain itu sekaligus menyuburkan tanaman anggota famili Liliaceae itu. Juman di Gentengcempoko, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, juga memiliki pengalaman serupa.

Presiden Direktur PT BASF Indonesia, CP Chan, menuturkan bahwa fungisida berperan dalam ketahanan pangan. Harap mafhum pertumbuhan penduduk Asia Pasifik sangat pesat, yakni mencapai 10 %. Oleh karena itu perlu peningkatan kuantitas dan kualitas produksi pertanian seperti bawang merah. “Pemenuhan kebutuhan hidup, harus ditumbuhkan dengan melestarikan sumber daya, memastikan makanan sehat, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” kata Chan. (Marietta Ramadhani)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d