Tren Kakao Organik 1

Di sentra Gunung Kidul, Yogyakarta, para petani beralih membudidayakan kakao organik.

580-H142-1Kakao organik rasanya lebih gurih dan aromanya lebih kuat,” kata Hadi Purwanto. Petani di Desa Nglanggeran, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunung Kidul, Provinsi Yogyakarta, itu menuai rata-rata 9 kg biji kakao basah organik per pohon per musim. Produksi itu setara dengan 3 kg biji kering. Di lahan 8.000 m² Hadi Purwanto membudidayakan 60 pohon Theobroma cacao (bahasa Yunani, theo berarti Tuhan, broma bermakna makanan) yang kini berumur 4—11 tahun.

Total jenderal produksi kakao organik Hadi Purwanto 540 kg biji basah per musim pada Juni—Agustus. Produksi itu memang lebih rendah daripada panen biji kakao nonorganik. Ketika menggunakan pupuk sintetis, selama musim panen pada Juni—Agustus setiap pohon menghasilkan 12 kg biji basah. Pengurangan produksi itu tertutup dengan “penghematan” lantaran tidak perlu membeli pupuk. Semula setiap pohon memerlukan pupuk ZA dan TSP masing-masing 1 kg per tahun.

Lebih hemat

Perkebunan tidak berhak mendapat pupuk subsidi sehingga pekebun kakao Nglanggeran membeli ZA Rp3.200 per kg dan TSP Rp5.000 per kg. Menurut Hadi Purwanto biaya pemupukan total untuk 60 pohon mencapai Rp492.000 per tahun. Namun, sejak 2015 Purwanto beralih memanfaatkan pupuk organik berupa kotoran sapi. Dua kali setahun ia membenamkan 10 kg kotoran sapi matang di sekeliling tajuk pohon kakao. Ia memberikan pupuk kandang sebelum dan sesudah panen.

Harga pupuk organik Rp5.000—Rp7.000 per 10 kg kotoran sapi matang sehingga untuk memupuk 60 pohon ia harus membelanjakan Rp600.000—Rp840.000 per tahun. Untungnya ia tidak perlu membeli kotoran sapi, tinggal menyekop dari kandang berisi 4 sapi potong di belakang rumahnya. Selain itu ia juga membenamkan seresah daun atau buah kakao yang rusak akibat cuaca pun dalam rorak atau parit kecil di bawah tajuk untuk mempercepat pembusukan. Rorak sedalam 15—20 cm di lingkar tajuk. Lantaran bentuk pohon kakao di kebun Purwanto cenderung tidak beraturan, ia membuat rorak sejauh 2,5—3 m dari batang.

Baca juga:  Gulma Berubah Cendera Mata

Sejak akhir 2015, produksi kakao semua anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Kumpul Makaryo, Desa

Produksi kakao organik 9 kg per pohon per musim. Hadi Purwanto, ketua Gapoktan Kumpul Makaryo.

Produksi kakao organik 9 kg per pohon per musim.
Hadi Purwanto, ketua Gapoktan Kumpul Makaryo.

Nglanggeran, disetor ke gapoktan untuk diolah di Griya Cokelat. Gapoktan membeli biji kakao basah dari pekebun seharga Rp6.000 per kg. Artinya pendapatan Hadi Purwanto Rp3.240.000. Para pekebun kakao yang bergabung di Kumpul Makaryo melakukan hal serupa. Kepemilikan rata-rata pekebun 40 pohon per orang sehingga mereka “hemat” Rp328.000 per tahun.

Sejak 2015 sekitar 700 pekebun anggota Gapoktan beralih membudidayakan kakao organik. Mereka membudidayakan total 28.500 pohon kakao lindak. Setiap pekan mereka memeriksa pohon kakao sambil memangkas tunas air, membersihkan seresah dan buah busuk lalu memasukkan ke rorak, serta memetik buah siap panen. Pemupukan dengan kotoran kambing atau sapi mereka lakukan menjelang dan akhir musim hujan, sekitar Februari—Maret dan Oktober—November. Kebetulan pada September 2015, Gapoktan memperoleh bantuan 20 kambing peranakan etawa (PE) dari Dinas Pertanian Gunungkidul.

Pertanian kakao organik terintegrasi kambing perah di Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta.

Pertanian kakao organik terintegrasi kambing perah di Nglanggeran, Gunungkidul, Yogyakarta.

Kambing-kambing dibagikan kepada 5 kelompok tani anggota gapoktan. Kotoran dan urine kambing untuk pupuk, sementara tunas air, pulpa, daging buah, dan kulit kakao menjadi pakan kambing. Pemberian kotoran hewan itu otomatis memangkas biaya pupuk. Pekebun kakao yang juga beternak kambing memperoleh tambahan. Menurut ketua kelompok ternak kambing PE Desa Nglanggeran, Basuki, kambing tidak sekadar menghasilkan 1—1,5 l susu. Peternak menjual tanah bercampur kotoran di bawah kandang serta urine yang masuk ke dalam tampungan di bawah lantai kandang.

Komoditas lama
Pohon anggota famili Sterculiaceae itu bukan barang baru bagi warga Nglanggeran. Menurut Hadi kakao di sana tumbuh sejak 1985. Kesadaran menghindari pupuk kimia itu baru muncul 3 tahun belakangan, yakni pada 2015. Pada 1991 harga kakao jatuh lantaran pembeli tunggal memonopoli pasar. Banyak petani enggan merawat pohon lalu mengganti dengan tanaman lain yang lebih menguntungkan. Seingat Purwanto hanya separuh dari 10.000 pohon kakao diusahakan di kebun warga Desa Nglanggeran.

Baca juga:  Sawit Suburkan Tanah

Akibatnya pasokan berkurang sehingga harga kembali naik. Itu membuat pekebun yang telanjur menebang pohon kakao tergiur untuk kembali menanam. Pasokan biji kakao membanjir, harga pun jatuh. Warga kembali enggan mengurus tanaman mereka sehingga produktivitas pohon penghasil biji cokelat itu anjlok. Seiring perkembangan teknologi informasi, pekebun kakao Nglanggeran mengetahui tingkatan harga beli biji kakao di luar daerah mereka.

Satu kilogram biji kakao kering berasal dari 3 kg biji segar.

Satu kilogram biji kakao kering berasal dari 3 kg biji segar.

Ramai-ramai mereka menjual hasil panen kepada pengepul dari daerah lain seperti Semarang atau Jakarta. Harga akhirnya kembali membaik. Kondisi yang berlangsung kira-kira sejak 2005 itu membuat pekebun bersemangat lagi merawat tanaman. Seiring naiknya popularitas Gunungkidul sebagai destinasi wisata, kian banyak wisatawan mengunjungi kabupaten paling selatan di Yogyakarta itu. Apalagi setelah 2014, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X meresmikan embung (danau buatan) Nglanggeran.

Pegiat wisata Desa Nglanggeran, Sugeng Handoko, melontarkan gagasan mengolah sendiri kakao mereka hingga menjadi produk siap konsumsi. Anggota gapoktan lantas beramai-ramai belajar ke luar daerah. Mereka berkunjung ke Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka), Jember, Jawa Timur, Kampung Cokelat, Blitar, serta beberapa produsen cokelat rumahan. Kesadaran berorganik pun muncul saat itu. Kendala utama adalah serangan ngengat penggerek buah Conopomorpha cramerella atau kepik pengisap Helopeltis sp.

“Kebanyakan menganggap penanggulangan kedua jenis hama itu harus dengan penyemprotan insektisida kimia,” kata Hadi Purwanto. Puslitkoka menganjurkan pemantauan teratur untuk mendeteksi dini terjadinya serangan hama. Begitu tampak ada serangan, mereka merekomendasikan pemasangan jebakan serangga yang menggunakan aroma atau cahaya. Dengan demikian pekebun bisa mengendalikan populasi tanpa harus menyemprotkan racun yang meninggalkan residu dalam biji.

Menurut pegiat pertanian organik di Sukabumi, Syamsul Asinar Radjam, tanaman perkebunan seperti kakao tidak hanya memerlukan pupuk kandang atau serasah sebagai pemasok nutrisi. Ia menganjurkan pekebun Nglanggeran memberikan mikrob pengurai untuk mempercepat penguraian bahan organik menjadi nutrisi siap serap. “Jika mikrob di perakaran tanaman seimbang, produktivitasnya bisa setara bahkan melebihi sistem konvensional,” kata Syamsul. Pekebun Nglanggeran pun berpotensi meraup pendapatan lebih dari kakao organik mereka. (Argohartono Arie Raharjo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *