Tren Hobi Palem Purba

Tren Hobi Palem Purba 1
Potongan hutan belantara Afrika Selatan di kediaman Danny Chandra

Potongan hutan belantara Afrika Selatan di kediaman Danny Chandra

Inilah tanaman buruan para kolektor “kelas berat”.

Pertemuan itu terjadi sesuai rencana. Danny Chandra—nama samaran—mengundang Trubus ke kediamannya di sebuah perumahan elite di Jakarta Barat. Ia menyambut di pintu gerbang rumahnya. Sekilas tak ada yang istimewa di rumah itu. Hanya dua pohon kurma berdiri tegak menghias teras. Investor saham itu masuk ke rumahnya. Alih-alih menuju ruang tamu, ia justru ke halaman belakang seluas tiga lapangan voli. “Di sini lah saya biasa menghabiskan waktu luang,” tuturnya.

Suasana di halaman belakang rumah itu membawa imajinasi ke sebuah hutan di benua hitam, Afrika. Bongkahan batu sungai dan granit beragam ukuran disusun membentuk gundukan bak pegunungan berbatu di Afrika selatan. Gemericik air terjun buatan di salah satu sudut membuat sensasi hutan makin terasa. Kesan rimba semakin kental tatkala memandang ratusan batang encephalartos berbaris rapi memenuhi bukit batuan. Diameter bonggol beragam mulai 2—70 cm dengan tajuk rimbun dan saling bersentuhan. Di sana terdapat puluhan encephalartos spesies dan hibrida.

Koleksi encephalartos Soetjipto di Surabaya, Jawa Timur

Koleksi encephalartos Soetjipto di Surabaya, Jawa Timur

Enam kali

Tanaman purba itu—encephalartos sezaman dengan dinosaurus—tumbuh berkelompok berdasarkan jenisnya. Chandra memisahkan dengan jalan setapak berbatu untuk memudahkan perawatan. Sebut saja       kelompok E. horridus, E. lehmannii, E. latifrons, E. trispinosus, E. inopinus, E. lanatus, dan E. natalensis. Yang paling dibanggakan adalah sejumlah E. hirsutus dan E. heenanii berdiameter bonggol 30—40 cm. Keduanya tergolong sangat langka. Apalagi dengan ukuran bonggol lebih dari 15 cm. Sosok seperti itu jarang yang punya.

Wajar jika harganya fantastis, setara harga rumah di pinggiran daerah penyangga Jakarta, yakni Rp100-juta sampai Rp150-juta per tanaman. Danny menuturkan taman seluas 500 m2 itu dibangun di atas reruntuhan rumah. Selanjutnya ia menimbun tanah membentuk bukit setinggi 10 m, menabur kerikil, tanah merah, dan pasir malang sebagai media tanam. Chandra menanam encephalartos beserta pot di bukit itu. Kontur taman sengaja dibuat miring agar drainase air lancar.

Gemericik air terjun mini menambah kesan hutan semakin terasa

Gemericik air terjun mini menambah kesan hutan semakin terasa

Ia juga memasang beberapa lampu sorot di perbukitan kecil. Tujuannya agar pria berusia 55 tahun itu tetap bisa menikmati keindahan palem roti—sebutan lain encephalartos—saat malam hari. Ia memang acap menikmati keelokan palem purba itu saat malam merayap. Tanaman hias itu mencuri hati Danny pada 1997. Sang istri berjasa memperkenalkan tanaman anggota ordo Cycadales itu. Ia menceritakan sang istri menjumpai E. horridus saat mendatangi pameran tanaman hias di Jakarta Pusat.

Baca juga:  Kebun Raya Lahan Gambut

Itu kali pertama ia melihat sosok encephalartos. Ukuran bonggol hanya sebesar jempol, tetapi harganya mencapai Rp3-juta. “Karena harganya tinggi, istri saya mengurungkan niat untuk membeli tanaman itu,” kata Chandra. Namun, karena penasaran ia dan istri memutuskan untuk membeli tanaman itu esok hari. Sayang, saat kembali tanaman sudah terjual. Sejak itu Chandra mulai menggali informasi encephalartos dari komunitas penggemar atau berselancar di dunia maya.

Danny Chandra menata encephalartos berdasarkan jenis

Danny Chandra menata encephalartos berdasarkan jenis

“Dari hasil penelusuran itu saya mengenal beberapa kolektor dan nurseri encephalartos di Amerika Serikat,” katanya. Dalam setahun ia bisa 5—6 kali menyambangi negeri Abang Sam khusus untuk berburu tanaman semisukulen itu. “Saya kecanduan sosok eksotis encephalartos,” katanya. Bila kesibukan mendera, ayah 4 anak itu tak segan meminta bantuan saudara atau relasi untuk mengirimkan encephalartos ke tanahair. Kecintaannya pada encephalartos tidak sebatas pada tanaman yang sudah berbonggol besar. Ia juga merawat “bayi” encephalartos hasil perbanyakan generatif. “Saya ingin menikmati setiap fase pertumbuhan encephalartos,” katanya.

Eksklusif

Horridus idaman bertangkai pendek dan berdaun tebal milik Amri Siregar

Horridus idaman bertangkai pendek dan berdaun tebal milik Amri Siregar

Di kalangan penggemar keluarga sikas, encephalartos memang paling eksklusif. Maklum, kalangan atas mendominasi kelompok penggemar tanaman purba itu. Meskipun pertumbuhan bonggol kurang dari 1 cm per tahun, para pehobi tak patah arang lantaran tertawan pada keunikannya. Apalagi populasi palem roti itu kian terbatas di alam. Semakin langka justru semakin diminati. Beruntung sejumlah nurseri di Afrika Selatan, Amerika Serikat, dan negara-negara di Eropa membudidayakan.

Para pemilik nurseri di mancanegara itu menjual tanaman berdasarkan ukuran bonggol. Harga akan semakin tinggi bila populasi di habitat semakin langka. Andy Darmawan, pehobi tanaman hias di Jakarta Barat, menuturkan E. horridus merupakan jenis yang paling populer. “Sosok tanaman terkesan garang dengan daun berwarna hijau kebiruan dan duri yang tegas,” katanya. Ia menuturkan horridus berdaun lebar, tebal, dengan jarak antardaun rapat paling digandrungi.

Waskita kesengsem pada sosok unik encephalartos

Waskita kesengsem pada sosok unik encephalartos

Andy jatuh hati pada palem roti sejak 2009. Tanaman lambat tumbuh dan sulit diperbanyak sehingga nilai di pasaran tetap stabil. Oleh karena itu ia tak segan merogoh kocek sangat dalam untuk membeli encephalartos incaran. Apalagi jenis mutasi, misalnya E. whitelockii bersosok kerdil. “Harga tanaman mencapai 50 kali lipat dari whitelockii biasa,” katanya. Sebagai gambaran E. whitelockii normal berumur sama mencapai Rp1-juta. (baca “Berburu Encephalartos Mutasi” halaman 40—41).

Baca juga:  Ragam Pangan Sumber Albumin

Lain lagi alasan Soetjipto, kolektor di Surabaya, Jawa Timur. Ia mengakui anggota keluarga Zamiaceae itu paling menarik dibanding tanaman hias lain. Baginya encephalartos tak lekang digerus zaman. “Encephalartos adalah primadona,” katanya. Pilihannya tetap pada tanaman gurun itu meski tren tanaman hias kerap berubah. Di kediamannya, alumnus Universitas Texas, Amerika Serikat, itu mengoleksi aneka jenis encephalartos antara lain   E. arenarius blue, E. hirsutus, E. horridus, E. princeps, dan E. longifolia joubertina yang didatangkan dari Afrika dan Amerika. Soetijpto pun beberapa kali menyambangi habitat asli tanaman purba itu di Afrika Selatan demi mengetahui pertumbuhannya di alam.

Euforia

Di Kota Medan, Sumatera Utara, Amri Siregar juga mengoleksi palem roti. Amri khusus membuka lahan seluas 2 ha untuk menyimpan klangenannya. Lokasinya tersembunyi di tengah kebun kelapa sawit. Di sana encephalartos bersanding dengan keluarga sikas lain seperti zamia, dioon, dan ratusan sikas kristata membentuk sebuah taman.

Taman palem roti milik Waskita di Malang, Jawa Timur

Taman palem roti milik Waskita di Malang, Jawa Timur

Waskita di Malang, Jawa Timur, juga kepincut palem roti. Perjumpaan singkat di sebuah nurseri di Batu, Jawa Timur, empat tahun silam membuat ayah dua anak itu getol mengoleksi encephalartos. Saat itu, ia kesengsem pada sosok E. ferox dan E. lehmannii. “Ferox terkesan garang, sedangkan lehmannii tampak lembut,” ujarnya. Jika ada waktu senggang, ia berburu encephalartos ke sejumlah kolektor kawakan untuk melengkapi koleksinya.

Meskipun harga tanaman selangit, konsultan pertanian dan usaha tani itu tak acuh. Ia bagai tersihir pesona encephalartos. Koleksi terbarunya seperti E. lehmannii, E. innopinus, E. middleburgensis, E. eugene-maraisii, dan E. caffer, masing-masing berdiameter 34 cm, 30 cm, 26 cm, 28 cm, dan 34 cm, tampak menghiasi taman di belakang rumahnya. Ratusan juta rupiah rela ia keluarkan demi menebus sang idaman.

Penggemar tanaman yang ditemukan oleh Georg Christian Lehmann pada 1834 itu semakin bermunculan tiap tahun. Handy Lesmana di Malang, misalnya, baru pada 2014 mengenal tanaman kerabat dioon itu. Kini 10 pot encephalartos menghiasi halaman depan rumahnya seperti E. lehmannii, E. horridus, dan E. arenarius blue, masing-masing berdiameter 16 cm, 11 cm, dan   8,5 cm. “Ukuran tanaman memang kecil sebab masih tahap pemula,” katanya. Encephalartos tetap eksotis meski masih remaja. (Andari Titisari/Peliput: Bondan Setyawan, dan Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x