ksigen terlarut dalam wadah trapesium lebih tinggi dibandingkan talang

Oksigen terlarut dalam wadah trapesium lebih tinggi dibandingkan talang

Model baru talang hidroponik, mencegah daun terbakar.

Niat Eva LA Madarona berhidroponik berkobar-kobar sejak 2011. Ia berkeliling mencari perbandingan kepada rekan-rekan yang lebih dahulu mengadopsi sistem budidaya tanpa tanah itu. Mereka kebanyakan menggunakan guli—meja tanam hidroponik—dari talang air persegi untuk sistem hidroponik NFT alias nutrient film technique. Ia mengamati, pada siang hari daun terkulai dan menempel di permukaan guli yang panas. Akibatnya daun terbawah gosong.

Saat pengemasan, petani sayuran hidroponik terpaksa memangkas daun gosong itu agar pembeli mau menerima. Keruan saja bobot panen berkurang. “Penyebabnya permukaan guli rata. Coba kalau ada guli yang permukaannya cembung,” tutur Eva. Gayung bersambut, seorang rekan menawarkan bahan guli berbentuk trapesium pada Maret 2014. Eva seketika jatuh hati. Lebar permukaan guli bagian atas lebih sempit daripada permukaan bawah.

Eva LA Madarona menggunakan wadah trapesium sejak pertama kali berhidroponik

Eva LA Madarona menggunakan wadah trapesium sejak pertama kali berhidroponik

Oksigen melimpah
Tinggi guli model baru itu 5 cm dengan lebar permukaan atas 5 cm, sedangkan lebar permukaan bawah 10 cm. Bandingkan dengan guli dari talang, yang lebar permukaan atas dan bawahnya sama-sama 10 cm. Bentuk guli trapesium membuat bagian bawah sayuran menggantung ketika terkulai pada siang hari sehingga terhindar dari gosong. Kelebihan lain, produsen merancang guli itu khusus untuk sistem hidroponik sehingga bisa langsung pasang.

Sementara produsen lain merancang talang air atau pipa untuk bahan bangunan. Calon petani hidroponik harus memotong, memasangi penutup, atau menyambung agar cocok sebagai guli. “Intinya tidak perlu repot, tinggal membuat lubang tanam berdiameter 4,5 cm dengan jarak antarlubang 15 cm,” katanya. Eva pun segera memesan 1.000 guli buatan Malaysia sepanjang 5,95 m itu.

Baca juga:  Banyuwangi Hidroponik Community: Bangga Jadi Petani

Menurut pakar hidroponik di Jakarta, Ir Yos Sutiyoso, bentuk trapesium yang lebih lebar di bawah memberikan lebih banyak ruang untuk pertumbuhan akar sehingga tinggi aliran air cukup 2—4 mm. Para pekebun yang menggunakan pipa biasanya menyiasati dengan meninggikan lapisan air hingga 1 cm. Kelemahannya, menurut Very Wijaya, pekebun hidroponik di Medan, Sumatera Utara, peninggian aliran air membuat ruang lebih sempit sehingga oksigen terlarut berkurang.

Instalasi hidroponik NFT menggunakan pipa membuat ruang gerak akar sayuran terbatas

Instalasi hidroponik NFT menggunakan pipa membuat ruang gerak akar sayuran terbatas

“Akibatnya pertumbuhan tanaman kurang maksimal karena pasokan oksigen sedikit,” kata Very. Yos menyatakan bahwa oksigen terlarut dalam guli trapesium mencapai 6 ppm, sementara dengan guli pipa hanya 2—3 ppm. “Padahal oksigen terlarut minimal 6 ppm, lebih tinggi lebih bagus,” ujarnya. Sudah begitu, nutrisi dalam guli pipa cenderung mengumpul di dasar guli sehingga terjadi perebutan nutrisi. Hal itu tidak terjadi di guli trapesium.

Semula Eva akan menggunakan 1.000 wadah itu untuk membuka farm hidroponik dengan sistem NFT di kediamannya di Bandung, Jawa Barat. Namun, persiapan yang tidak kunjung tuntas membuat keinginan itu terus tertunda. Akhirnya Eva hanya menggunakan 6 guli di pekarangan rumahnya. Ia menanam beragam sayuran selada impor seperti lolorosa dan locarno di atas wadah itu.

Awet
Sebelum menanam di guli, anak ke-2 dari empat bersaudara itu menyemai terlebih dahulu benih selada itu di media tanam rockwool. Setelah berumur 3 pekan, ia memasukkan bibit ke dalam netpot lalu meletakkan di guli trapesium. “Diameter lubang tanam guli 4,5 cm karena menyesuaikan dengan netpot,” kata Eva. Setelah berumur 6 pekan pascasemai, Eva panen. Prediksinya terbukti, tidak ada daun sayuran yang gosong.

Sayang ia tak menghitung jumlah total produksinya karena budidaya itu hanya sebagai uji coba dan percontohan. Meski demikian guli trapesium itu mempunyai kelemahan, yaitu sulit dibersihkan. “Untuk membersihkan guli dari talang, tinggal membuka tutupnya lalu dibersihkan. Untuk membersihkan guli trapesium, kita harus memasukkan tongkat dengan kain pembersih lalu didorong sampai keluar di ujung satunya sehingga lebih repot,” kata Yos.

Baca juga:  Latih Paruh Bengkok

Eva meminimalkan kehadiran kotoran seperti ganggang dan lumut dengan memastikan ukuran bibit pas untuk menutup seluruh lubang tanam. “Jika terburu-buru lubang tanam tidak tertutup sepenuhnya oleh tanaman sehingga tumbuh lumut karena cahaya matahari masuk ke dasar guli,” kata Eva. Menurut petani sayuran itu bibit yang sudah bisa menutupi lubang tanam wadah trapesium minimal berumur 3 pekan pascasemai atau berdaun 4—5 helai.

Ir Yos Sutiyoso ahli hidroponik di Jakarta "oksigen terlarut minimal 6 ppm, lebih tinggi lebih bagus"

Ir Yos Sutiyoso ahli hidroponik di Jakarta “oksigen terlarut minimal 6 ppm, lebih tinggi lebih bagus”

Kelemahan lain, mahal. Harga sebatang guli trapesium panjang 5,95 m mencapai Rp350.000. Bandingkan dengan talang air biasa sepanjang 4 meter yang hanya Rp150.000 per batang. Terlepas dari kelemahannya, banyak pehobi hidroponik tertarik dan memesan. “Umumnya mereka tertarik karena wadah itu masih baru dan bentuknya unik plus berbagai keunggulan yang kami sampaikan,” tutur alumnus Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia itu.

Menurut Eva, meskipun guli trapesium lebih mahal, bahannya lebih tebal sehingga lebih awet. “Trapesium tahan lebih dari 10 tahun, sedangkan talang air hanya 3—4 tahun,” ujarnya. Menurut ibu 2 anak itu, pemesan wadah trapesium dari berbagai daerah di Indonesia seperti Bandung, Jakarta, Sulawesi, dan Medan. “Kemarin ada yang pesan 100 wadah, tapi baru bisa terpasok 50 wadah, karena kami juga mau pakai untuk farm sendiri,” kata Eva. Ia bersama rekannya sedang membuka kebun hidroponik seluas 900 m2, yang seluruhnya menggunakan guli trapesium. (Bondan Setyawan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d