Tomat Ceri Tumbuh Apik 1
Terdapat 18.000 tanaman tomat ceri di dalam greenhouse seluas 3.000 m2.

Terdapat 18.000 tanaman tomat ceri di dalam greenhouse seluas 3.000 m²

Budidaya tomat ceri di greenhouse modern. Produktivitas 6 kg per tanaman.

582 50-2Rumah tanam berbahan plastik ultraviolet berkerangka besi galvanis itu berdiri kokoh. Di rumah tanam seluas 3.000 m² berbaris 18.000 tanaman tomat ceri yang tumbuh di media rockwool. Pada pengujung Maret 2018, tanaman kerabat kentang itu tengah berbuah lebat.

Edi Sugiyanto, Nursyamsu Muhaddin, dan Rahmat Marpaung yang membudidayakan tomat di greenhouse eksklusif itu mampu panen hingga 6 kg per tanaman. Mereka menamakan kebun itu Agrifarm. General Manager Agrifarm, Yuslifar, mengatakan, biaya produksi per tanaman hanya Rp4.000—Rp.5000. Artinya untuk memproduksi sekilogram tomat maksimal hanya Rp833. Keunggulan lain, tomat ceri itu mampu tumbuh hingga 10 bulan. Lazimnya hanya 6 bulan.

Tekan tombol

Kesuksesan itu berkat penggunaan larutan nutrisi racikan Edi Sugiyanto. Setiap tanaman memperoleh larutan itu melalui pipa sebanyak 1 liter per hari. Edi yang selama ini menjadi konsultan hidroponik di berbagai negara di Asia Barat itu memberikan air dan nutrisi melalui irigasi tetes. Satu lubang terdiri atas satu irigasi. Tujuannya agar nutrisi tanaman memadai. Nutrisi berupa AB mix tetap mengalir melalui pipa PE.

Dari kiri ke kanan: Indra Bachtiar, Nursyamsu Mahyuddin, dan Yuslifar membangun greenhouse otomatis.

Dari kiri ke kanan: Indra Bachtiar, Nursyamsu Mahyuddin, dan Yuslifar membangun greenhouse otomatis.

Frekuensi pemberian nutrisi 5 kali sehari pada pukul 07.00, 09.00, 11.00, 13.00, dan 16.00 dengan elektrokonduktivitas (EC) 2,2—2,8 tergantung cuaca. Pada awal penanaman atau umur 0—7 hari setelah semai kebutuhan nutrisi hanya 400 ppm. Kebutuhan itu akan terus meningkat hingga masa berbuah pada umur 36—65 hari. Kebutuhan nutrisi pada fase itu mencapai 1.200—1.400 ppm. Lewat penyiraman tanaman memperoleh pasokan nutrisi setiap hari.

Baca juga:  Dua Rupa Raja Musang

Khusus untuk hidroponik formulasi nutrisi cair dipilih lantaran sesuai dengan prinsip dasar budidaya tanpa tanah. Untuk melakukan itu semua Edi cukup menekan sebuah tombol untuk memasukkan nutrisi ke rangkaian hidroponik. Bangunan greenhouse di ketinggian 1.500 meter di atas permukaan laut (m dpl) itu memang canggih. Itulah sebabnya ia tidak mesti setiap hari mengontrol rumah tanam di Warnasari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, itu.

Edi dan rekan hanya sekali sepekan mengecek kondisi tanaman. Setiap tanaman merambat pada seutas benang setinggi 6 m. Pekerja memetik dompolan buah yang matang sempurna dan berukuran seragam. Mereka memanen dengan sangat hati-hati hingga tak ada buah yang terpisah dari tangkainya. Produktivitas tomat di greenhouse itu mencapai 6 kg tomat per tanaman.

Media tanam

Pendingin evaporatif berfungsi untuk menormalkan suhu dan kelembapan dalam greenhouse jika blower kurang berfungsi.

Pendingin evaporatif berfungsi untuk menormalkan suhu dan kelembapan dalam greenhouse jika blower kurang berfungsi.

Ketika suhu di dalam rumah tanam itu lebih panas, maka jumlah blower yang berputar lebih banyak lagi. Total jenderal terdapat 20 blower besar ukuran 50 inci, 10 kipas pembuang udara atau exhaust fan, 20 blower untuk sirkulasi, dan 1 unit pendingin evaporatif sepanjang 80 m. “Cara kerja evaporative cooler itu nanti dibasahi oleh air. Setelah itu blower besar menyedot uap air sehingga suhu dan kelembapan dalam greenhouse pun berubah,” ujar General Manager Agrifarm, Yuslifar.

Berkat angin dari putaran blower udara dingin dari tirai air pun terdistribusikan ke seluruh ruangan greenhouse berdaya tampung hingga 18.000 tanaman. Dengan begitu suhu ruangan lebih cepat turun. Media tanam pun menjadi perhatian khusus Edi Sugiyanto dan rekan. Pemakaian media tanam berupa rockwool dan grodan juga berpengaruh penting. “Dengan grodan tak ada reaksi kimia dengan pupuk. Pupuk yang diberikan terserap optimal oleh tanaman,” ujar Yuslifar.

Baca juga:  Anthurium Anyar

Selama ini banyak petani tomat memanfaatkan sekam sebagai media tanam. Padahal, sekam dapat menangkap elemen pupuk, sehingga tak seluruhnya terserap tanaman. Selain itu sekam dibuat secara manual di beberapa tempat. Akibatnya mutu media tanam itu tergantung pada siapa yang membakar dan lama pembakaran. Mutu grodan relatif seragam.

Blower ukuran 50 inci akan berputar otomatis jika suhu dalam greenhouse terlalu panas.

Blower ukuran 50 inci akan berputar otomatis jika suhu dalam greenhouse terlalu panas.

Iklim ikut menyumbang kerumitan penanaman di lahan terbuka. Turunnya hujan menyebabkan bunga dan buah cepat rontok. Akibatnya fruit-setting (pembentukan buah) tidak sempurna. “Kalau hujan bisa rontok 50% atau lebih,” kata Nursyamsu. Agar penyerbukan sempurna dibutuhkan kondisi kering. Ini tidak dapat dijamin di lahan terbuka. Tak hanya alasan produksi, pasar pun jadi pertimbangan memilih greenhouse.

“Kalau ditanam di luar, sudah dirancang tiba-tiba hujan besar atau banjir, hilang semua,” ujar Yuslifar. Kelebihan penanaman di dalam greenhouse petani mampu menekan kehadiran hama karena lingkungan tetap higienis. Sarana mutakhir itu menjadi andalan Edi dan rekan menghasilkan produk berkualitas tinggi. (Tiffani Dias Anggraeni)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments