Titisan Tidar 65 Hari Panen

Titisan Tidar 65 Hari Panen 1
Polong gamasugen-1 (kiri) dan gamasugen-2 umur 7 minggu di lahan

Polong gamasugen-1 (kiri) dan gamasugen-2 umur 7 minggu di lahan

Hanya dalam 10 minggu, petani kedelai memanen 2,4 ton dari sehektar lahan.

Saat kemarau, hujan terakhir turun lebih dari sebulan lalu, Wardoyo menanam kedelai kuning di lahan 6.500 m2. Selang 95 hari, pekebun di Kabupaten Bantul, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta itu memperoleh 1,1 ton—setara 1,7 ton per ha, yang laku di pasar seharga Rp6.800 per kg. Dikurangi biaya benih, saprotan, dan tenaga kerja, total jenderal ia memperoleh Rp2,22-juta.

Hasil itu tergolong minim. Bandingkan kalau Wardoyo menanam padi di lahan sama. Dengan produktivitas 6,5 ton per ha, ia memperoleh 4,2 ton gabah kering panen. Harga di lahan Rp3.900 per kg . Jika pendapatan itu dikurangi biaya total Rp1.400 per kg, maka 95 hari kemudian Wardoyo mengantungi Rp10,56-juta. “Wajar petani enggan menanam kedelai,” kata Dr Ir Muchlish Adie MM, periset di Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian (Balitkabi).

Gamasugen hasil iradiasi kedelai tidar

Gamasugen hasil iradiasi kedelai tidar

Iradiasi?

“Jika hasil panen meningkat hingga lebih dari 2 ton per ha dan masa tanam kurang dari 90 hari, pendapatan petani kedelai bakal lebih baik,” kata Ir Arwin, pemulia kedelai di Badan Tenaga Nuklir (Batan). Itu sebabnya pada Juni 2013, Arwin meluncurkan 2 varietas baru kedelai hasil iradiasi. Gamasugen-1 dan gamasugen-2, nama Glycine max anyar itu, mampu menghasilkan 2,4 ton kedelai per ha. Keduanya lahir dari iradiasi kedelai tidar dengan kekuatan 0,2 kilogray (kGy). Menurut Arwin, itu dosis aman radiasi. Lazimnya untuk pengawetan makanan, dosis radiasi bisa sampai 10 kGy.

Radiasi dengan dosis kecil itu memicu mutasi sel terkendali. Menurut Arwin, semua jenis tumbuhan berpotensi mengalami mutasi akibat radiasi matahari. “Proses iradiasi mempercepat proses itu,” kata periset alumnus Fakultas Pertanian Universitas Andalas, Sumatera Barat, itu. Saat periset menanam benih hasil iradiasi, tidak semua mampu tumbuh normal. Sebagian berdaun keriting, tinggi mengelancir, ada juga yang gagal tumbuh. Saat tanaman yang tumbuh mengeluarkan polong,  Arwin dan periset lain menanam kembali biji-biji dari polong itu. Setelah 6 keturunan, mereka memperoleh 20 calon galur yang stabil.

Tempe berbahan kedelai gamasugen lebih segar sehingga rasanya lebih enak

Tempe berbahan kedelai gamasugen lebih segar sehingga rasanya lebih enak

Ke-20 calon galur itu lantas melalui uji multilokasi di 16 tempat dengan iklim, jenis tanah, dan tingkat  kesuburan beragam. Ke-16 lokasi itu tersebar di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatera Selatan, dan Sumatera Barat. Sementara pengujian hama dan penyakit pada musim hujan dan kemarau dilakukan Balitkabi. Hasilnya, mereka menyatakan gamasugen tahan penyakit karat Phakospora pachyrhizi, bercak cokelat Cercospora sp, dan hama penggerek pucuk Melanagromyza sojae.

Baca juga:  Rumput Laut Atasi Hipertensi

Kedelai tidar, tetua gamasugen, adalah varietas kedelai genjah yang rilis pada 1987. Tidar menghasilkan 1,8 ton kedelai dalam 75 hari. Bandingkan dengan “kakak beradik” gamasugen yang supergenjah: panen 65—68 hari pascatanam. Itu bahkan lebih cepat ketimbang varietas mutiara 1, rilisan Batan pada 2010, yang panen pada 83 hari (baca: Ultragenjah dan Biji Jumbo, Trubus Juli 2010). “Setelah panen kedelai, petani masih bisa menanam komoditas 40 hari seperti sawi, bayam, atau kangkung sebelum kembali menanam padi,” kata Arwin.

Gamasugen cocok tanam di lahan sawah dan mampu menghasilkan 2,4 ton kedelai. Itu memang jauh di bawah produksi tanaman sejenis di benua Amerika, yang mencapai 4 ton per ha. Produktivitas itu lebih tinggi ketimbang rata-rata produksi kedelai tanahair yang hanya 1,6—1,7 ton per ha.  “Itu lantaran kedelai memang tanaman asli di sana sehingga sudah beradaptasi dengan iklim,” kata Dr Harry Is Mulyana, pemulia kedelai di Batan yang membidani kelahiran mutiara-1 dan rajabasa.

Enak

Gamasugen mengandung protein hingga 37,6%. Itu menjadikannya cocok untuk membuat tahu atau tempe. Rendemen tahu gamasugen-1 mencapai 334,4%, sementara gamasugen-2 hingga 336,6% (lihat tabel: kedelai tanahair). Artinya, sekilogram gamasugen-1 mampu menghasilkan 3,34 kg tahu, sementara 1 kg gamasugen-2 menghasilkan 3,36 kg tahu. Bandingkan dengan rendemen tahu kedelai impor yang hanya 323,3%. “”Jika mengolah 1 kuintal kedelai, ada perbedaan 11 kg. Artinya keuntungan perajin meningkat kalau mengolah gamasugen,” kata Arwin.

Dengan rendemen berkisar 191%, sekilogram gamasugen rata-rata menghasilkan 1,9 kg tempe. Menurut Muchlish Adie, nilai gizi menjadi kelebihan kedelai lokal. “Nutrisi semakin berkurang seiring waktu. Itu sebabnya komoditas lokal, yang cenderung tidak menempuh transportasi jarak jauh atau penyimpanan lama, mempunyai nilai gizi lebih baik ketimbang barang impor,” kata Muchlish. Itu menjelaskan rasa tempe asal gamasugen yang lebih enak ketimbang kedelai impor.

Baca juga:  Muricata Musuh Kanker Hati

Seabrek keunggulan itu menjadikan gamasugen kandidat pas untuk program swasembada kedelai pada 2014. Saat  itu, pemerintah mencanangkan luas tanam kedelai mencapai 2-juta ha dengan produksi lebih dari 10-juta ton per tahun. “Gamasugen bisa menjadi tanaman sela di antara masa tanam padi maupun untuk penanaman terus menerus,” kata Arwin. Dengan demikian, pada 2014 mendatang kita bisa mengucapkan selamat tinggal pada kedelai impor. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Lutfi Kurniawan)

 

 

FOTO:

  1. Gamasugen hasil iradiasi kedelai tidar
  2. Polong gamasugen-1 (kiri) dan gamasugen-2 umur 7 minggu di lahan
  3. Gamasugen cocok ditanam di lahan sawah
  4. Ir Arwin: Iradiasi mempercepat mutasi alami yang terjadi akibat paparan sinar matahari
  5. Tempe dan tahu berbahan kedelai gamasugen lebih segar sehingga rasanya lebih enak

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x