Bonsai di Tiongkok sebagai industri yang menarik wisatawan dari seluruh dunia.

Bonsai berkualitas diproduksi secara massal dalam greenhouse di Shuyang, Tiongkok.

Bonsai berkualitas diproduksi secara massal dalam greenhouse di Shuyang, Tiongkok.

Mempercantik tanaman menjadi bonsai tradisi di Tiongkok. Di Rugao, kota berjarak tempuh dua jam dari Shanghai tampak rapi dengan gedung-gedung pencakar langit dan jalan-jalan yang lebar. Namun, yang paling istimewa adalah taman koleksi bonsai yang bersejarah. Di sana tumbuh bonsai berumur seribu tahun. Selain itu banyak bonsai-bonsai lain berukuran besar yang menyedot perhatian wisatawan.

Sosok indah bonsai Juniperus sinensis menjadi salah satu juara dalam kontes bonsai di Guangzou, Tiongkok.

Sosok indah bonsai Juniperus sinensis menjadi salah satu juara dalam kontes bonsai di Guangzou, Tiongkok.

Baru-baru ini Bonsai Club International (BCI) membuka tiga cabang di Tiongkok, yakni di Rugao, Shuyang, dan Kunming. Untuk meramaikan pembukaan cabang itu, BCI untuk kali pertama menyelenggarakan Grand 9th National China Penjing Exhibition. Bonsai Club International organisasi bonsai internasional yang menyebar ke berbagai negara di dunia. Anggota BCI berupa organisasi bonsai dan juga perorangan.

Mal bonsai
Di Kota Shuyang banyak nurseri bonsai sehingga menjadi industri besar. Dalam satu nurseri terdapat berbagai macam bonsai, baik yang berupa bahan maupun yang sudah jadi. Para pembuat bonsai siap menunjukkan kepiawaiannya, sejak mengolah pohon besar, lalu menanam dalam pot, hingga menjadi bonsai-bonsai raksasa.

Industri bonsai berkembang untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan pasar ekspor. Shuyang bisa dibilang merupakan kota industri bonsai dan tanaman hias yang menunjang kebutuhan tanaman nasional Tiongkok. Pemerintah kota itu membangun sebuah mal besar yang mempertemukan petani, pedagang, dan konsumen bonsai. Para pedagang di mal itu menjajakan segala macam berkaitan dengan dunia bonsai, seperti pot, kawat, pupuk, dan gunting.

Dalam rangkaian gelaran pameran terdapat lomba mendesain bonsai berukuran besar.

Dalam rangkaian gelaran pameran terdapat lomba mendesain bonsai berukuran besar.

Tingginya ekonomi Tiongkok memungkinkan semua itu terealisasi dan semakin berkembang. Selain itu ada sinergi dengan proyek-proyek pemerintah dalam pembuatan infrastruktur ramah lingkungan. Pemerintah Tiongkok giat menggarap proyek pertamanan nasional baik di perumahan, kantor-kantor, jalan-jalan, ataupun proyek-proyek yang membutuhkan lansekap besar.

Baca juga:  Bonsai dan Anthurium Juara

Itulah konsumen utama pendukung dan penggerak roda perekonomian sektor industri tanaman hias. Nurseri-nurseri di Shuyang memperbanyak tanaman bakalan bonsai seperti podocarpus, juniper, dan ficus secara massal. Kota Shuyang juga menggelar pameran besar yang menampilkan ratusan bonsai dengan berbagai macam gaya dan jenis. Bonsai-bonsai berbuah seperti delima, ceri, dan tanaman subtropis memanjakan mata.

Selain itu ada cemara Juniperus chinensis, tusam Pinus mercusii, maple Acer sp, dan beringin Ficus sp. Panitia juga memamerkan bonsai-bonsai kecil dalam rak yang menarik pengunjung. Atraksi menarik perhatian adalah demo pembuatan bonsai secara serentak oleh 75 artis yang masing-masing memiliki gaya dan aliran tersendiri. Ada yang menampilkan podocarpus yang tumbuh di sela-sela batu. Pebonsai harus mempersiapkan lebih dari sepuluh tahun.

Gaya penjing

Bonsai tanaman berbuah paling menarik perhatian pengunjung.

Bonsai tanaman berbuah paling menarik perhatian pengunjung.

Ada pula teknik pembuatan bonsai pinus. Pebonsai membengkokkan batang dengan kawat besar serta bantuan tali rami. Ia menggunakan rami untuk membungkus batang sehingga kulit tidak pecah saat pembengkokan. Acara itu amat menarik karena memamerkan berbagai macam teknik pembuatan bonsai, di antaranya gaya penjing. Sampai kini banyak pebonsai yang memperbincangkan gaya penjing, termasuk dalam ranah bonsai atau tidak.

Bagaimanapun, keduanya—antara bonsai dan penjing—memiliki hubungan asal-usul yang erat. Bonsai berasal dari seni miniaturisasi tanaman yang disebut penjing dari periode Dinasti Tang. Di makam putra dari Maharani Wu Zetian terdapat lukisan dinding yang menggambarkan perempuan pelayan membawa pohon berbunga dalam pot dangkal. Pot dangkal berukuran kecil itu merupakan miniaturisasi dari pemandangan alam.

Kalangan bangsawan di Jepang mulai mengenal penjing sekitar akhir zaman Heian. Aksara kanji untuk penjing dilafalkan orang Jepang sebagai bonkei. Sama halnya dengan di Tiongkok, bonkei di Jepang juga merupakan miniaturisasi dari pemandangan alam. Seni yang hanya dinikmati kalangan atas, terutama kalangan pejabat istana dan samurai, dan baru disebut bonsai pada zaman Edo.

Bonsai gaya penjing menggabungkan unsur tanaman dan batuan untuk membuat miniatur panorama alam.

Bonsai gaya penjing menggabungkan unsur tanaman dan batuan untuk membuat miniatur panorama alam.

Menanam bonsai pekerjaan sambilan samurai zaman Edo, saat bonsai mencapai puncak kepopuleran. Sejak zaman Meiji bonsai dianggap sebagai hobi yang bergaya. Sebagian praktisi bonsai berpendapat, pada gaya penjing, ornamen-ornamen seperti bebatuan antik, rumah gubug, patung binatang, patung orang, dan semacamnya sesuatu yang harus ada. Itu berdasarkan alasan bahwa penjing adalah sebuah aplikasi bentuk panorama yang direalisasikan dalam sebuah pot.

Baca juga:  Hari Indah Kian Berkesan

Bentukan itu diharapkan menggambarkan panorama atau alam dari sebuah ekosistem di dunia. Dalam kaitannya dengan bonsai, penjing mempergunakan bonsai yang bergaya kelompok (grouping) atau root connecting. Komposisi penempatan harus tetap memperhatikan keseimbangan layaknya sebuah bonsai bergaya grouping. Membicarakan dan mengagumi keunikan gaya penjing memang membuat seakan waktu berlalu sangat cepat.

Kunjungan selanjutnya ke Kunming kota sejuk yang memiliki hutan batu yang amat menawan. Tidak terlalu banyak kegiatan pembuatan bonsai di Kunming, walau demikian bonsai tetap sebuah objek menarik di daerah itu. Perjalanan berakhir di Guangzhao tempat pameran BCI terbesar itu berlangsung. Ratusan bonsai menarik terekspose di sebuah taman khusus pameran siap memanjakan para penikmat bonsai. (Budi Sulistyo, anggota Perkumpulan Penggemar Bonsai Indonesia dan Direktur Bonsai Club International, berdomisili di Jakarta)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d