Cabai adalah salah satu komoditas hortikultura yang paling banyak dibudidayakan oleh petani, baik di dataran tinggi maupun rendah. Banyak jenis cabai yang dibudidayakan seperti cabai merah besar, cabai merah keriting juga cabai rawit. Cabai termasuk dalam komoditas yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan merupakan kebutuhan pangan utama masyarakat.

Salah satu kendala dalam budidaya cabai adalah serangan hama dan penyakit. Serangan ini dapat menyebabkan kegagalan panen dan merugikan petani. Ada banyak cara untuk mengendalikan hama dan penyakit. Namun, upaya untuk mengurangi serangan dan bahkan mencegahnya adalah tindakan yang lebih baik. Berikut beberapa tips untuk mencegah hama dan penyakit cabai.

Modifikasi Lingkungan

Cara pencegahan pertama ialah dengan memodifikasi lingkungan penanaman cabai. Modifikasi ini bisa dengan pengaturan pola tanam yang bertujuan supaya memutus siklus hidup hama serta penyakit dengan pergiliran tanaman yang tidak berasal dari satu famili. Selanjutnya dengan pengolahan tanah yang dilakukan minimal 1 bulan sebelum penanaman agar patogen dan sisa-sisa pupa dari hama di dalam tanah akan terjemur oleh sinar matahari sehingga akan mati.

Modifikasi lingkungan juga bisa dilakukan dengan pengapuran jika tanah terlalu masam. Kemasaman tanah pada tanaman bawang merah serta cabai merah adalah pada pH 5,6-6,5. Jika pH tanah kurang dari kisaran angka tersebut bisa diatasi dengan pengapuran menggunakan dolomit atau kaptan yang dilakukan minimal 1 bulan sebelum tanam. Selanjutnya ialah dengan pemupukan. Tanaman yang memiliki kelebihan ataupun kekurangan unsur hara maka akan rentan terhadap serangan OPT.

Perlakuan Benih

Penyemaian benih sebaiknya dilakukan di dalam rumah kasa. Media pesemaian terdiri atas campuran tanah halus dan pupuk kandang (1:1) yang telah dikukus dengan uap air panas selama 4 jam. Sebelum disemai, benih cabai direndam dahulu dalam air hangat (50°C) selama 30 menit atau larutan fungisida Propamokarb Hidroklorida (1 ml/l) selama ±5 menit, lalu ditiriskan dan langsung disemai. Supaya menekan serangan kutu kebul terhadap bibit cabai dapat dilakukan penyiraman larutan insektisida Tiametoksam (0,5 ml/l) dengan dosis 50 ml/ tanaman pada umur 2 dan 4 minggu setelah semai.

Perlakuan Tanah

Jika di lahan ditemukan uret atau orong-orong, maka lahan diberi perlakuan dengan insektisida Fipronil 0,3 G sebanyak 15 kg/ha. Di samping itu, pada daerah endemik serangan penyakit layu bakteri dan layu fusarium, lahan bisa diberi perlakuan dengan bakterisida Oksitetrasiklin (konsentrasi formulasi 1 ml/liter) dengan dosis 200 ml/lubang tanam yang diaplikasikan satu hari sebelum tanam.

Perangkap OPT

Langkah selanjutnya ialah menggunakan perangkap OPT. Untuk menekan populasi trips, kutu daun, kutu kebul, dan tungau dapat dipasang perangkap lekat warna kuning sebanyak 40-50 buah/ ha. Perangkap tersebut dipasang pada saat penanaman. Sedangkan untuk mengendalikan hama lalat buah, dipasang perangkap Metil Eugenol sebanyak 40-50 buah/ha ketika tanaman mulai berbunga.

Pemanfaatan Sumber Daya Hayati

Pencegahan hama serta penyakit juga bisa dengan memanfaatkan sumber daya hayati agar lebih ramah lingkungan. Sumber daya hayati ini berupa musuh alami. Langkah ini harus lebih diutamakan dengan menitikberatkan pada pemanfaatan musuh alami domestik dengan cara menciptakan lingkungan yang mendukung semakin berfungsinya musuh-musuh alami secara maksimal. Beberapa musuh alami penting seperti parasitoid, predator, dan cendawan entomatogen diketahui bisa menekan serangan hama serta penyakit pada tanaman cabai.

Pemanfaatan Biopestisida

Terdapat banyak jenis tumbuhan dari berbagai penjuru dunia diketahui bisa digunakan sebagai pestisida nabati dan tidak kurang dari 100 jenis tumbuhan telah diketahui mengandung bahan aktif insektisida. Beberapa tumbuhan yang bisa digunakan sebagai biopestisida dan efektif mengendalikan hama serta penyakit cabai antara lain serai wangi, babadotan, kirinyuh, tagetes, mindi, nimbi, kipahit, kacang babi, legundi, kapayang, gamal, bintaro, dan mengkudu. Seiring meningkatnya pemanfaatan biopestisida ini diharapkan ekosistem lingkungan akan tetap seimbang dan terjaga.

Sumber : f a r m i n g . i d