Tinggi Lemak Terus Langsing 1

Duduk perkara konsumsi tinggi lemak justru membuat tubuh langsing.

“Rekan-rekan kerja saya sedang menunggu kapan saya bakal kenapa-kenapa,” tutur dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K) Rum.K sambil tertawa. Pasalnya, sejak Mei 2017, alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran itu menjalani diet ketogenik. Ahli medis, bekerja di pusat medis terkemuka—Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jakarta—menjalani pola konsumsi tinggi lemak rendah karbohidrat. Itu membuat jalan diet Piprim amat kontras.

Santan kaya lemak sehat.

Santan kaya lemak sehat.

Menurut Piprim, pola konsumsi tinggi lemak rendah karbohidrat mempunyai sejarah panjang sejak abad ke-18. Ia merujuk kepada William Banting, warga London, Inggris, yang hanya mengonsumsi daging, sayuran, biji-bijian, sedikit buah, dan karbohidrat minimal. Diet itu pun sohor sebagai diet banting. Menurut Piprim, asupan karbohidrat merangsang produksi insulin. Insulin mengubah gula menjadi glikogen yang disimpan di hati dalam bentuk lemak.

Tetap bugar
Piprim mengatakan, “Insulin ibarat gembok bagi gudang lemak tubuh. Kalau mau membongkar lemak tubuh, minimalkan dulu produksi insulin.” Caranya dengan menekan konsumsi makanan pemicu insulin, yaitu karbohidrat. Ganti dengan lemak sehat. Selama ini, “Anjuran kesehatan menyarankan kita menghindari lemak karena kandungan kalorinya 2 kali lipat karbohidrat atau protein,” kata Piprim. Anjuran itu tidak salah lantaran berdasarkan kepada perhitungan kalori.

Yang kurang terungkap adalah, perlakuan tubuh antara kalori dari lemak dengan kalori dari karbohidrat. Kalori dari karbohidrat merangsang insulin, sedangkan kalori dari lemak tidak. Insulin minim menjadikan kalori dari konsumsi makanan berlemak justru tidak tersimpan menjadi lemak tubuh. Artinya, kalori dari makanan berlemak menjadikan tubuh lebih berenergi. Secara alami, tubuh memilih gula sebagai sumber energi.

Begitu gula minim, yang pertama dibongkar adalah glikogen di hati. Setelah habis, hati merombak asam lemak menjadi keton, yaitu beta-hidroksibutirat (BHB), asetoasetat, dan aseton. Keton menghasilkan energi luar biasa. Setiap mol glukosa menghasilkan 36 adenosina trifosfat (ATP), sedangkan 1 mol keton meletupkan energi 100 ATP. ATP bahan bakar otot. Darah membagikan ATP ke seluruh tubuh untuk menghasilkan panas, menggerakkan otot, dan mempertahankan fungsi otak.

Baca juga:  Slamet Pudjianto: Tumbuh Bersama Albumin

Semua proses itu adalah cara tubuh mempertahankan kadar gula darah di tingkat aman untuk sekadar mempertahankan produksi insulin. “Insulin menjadi ‘rem’ perombakan lemak. Tanpa insulin, pembongkaran lemak tubuh tidak terkendali sampai tubuh kurus kering kehabisan cadangan lemak,” kata Piprim. Pembongkaran lemak tak terkendali itu kerap dialami penderita diabetes. Piprim mengibaratkan energi dari keton sebagai bahan bakar gas sementara glukosa adalah solar.

“Perombakan glukosa menyisakan reactive oxygen species (ROS) pemicu stres oksidatif, yang tidak terjadi dalam metabolisme keton,” ungkap ayah 6 anak itu. Konsumsi lemak merangsang produksi hormon kenyang yang disebut leptin, sedangkan konsumsi karbohidrat merangsang hormon lapar bernama ghrelin. Itu sebabnya kita mudah kenyang saat menyuap makanan berlemak. Bobot terjaga, cadangan lemak tubuh terpakai, jaringan tubuh bebas ROS pemicu stres oksidatif.

Alih-alih menjadi “kenapa-kenapa” seperti yang disangka rekan kerjanya, hingga kini Piprim justru makin bugar. Setiap hari ia naik turun menggunakan tangga ke kantornya di lantai 5 Departemen Medik dan Kesehatan Anak RSCM. Puasa setiap Senin dan Kamis rutin ia jalani dengan air putih untuk sahur. Piprim membuktikan bahwa lemak adalah superfuel atau bahan bakar super yang justru dinistakan sebagai pemicu penyakit. (Argohartono Arie Raharjo)

Pages from Edisi April 2018 Highrest 47

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *