Tiga Tahap Besarkan Sidat 1
Sidat fingerling gemar berkumpul di pipa inlet karena airnya kaya oksigen.

Sidat fingerling gemar berkumpul di pipa inlet karena airnya kaya oksigen.

Terdapat tiga tahap untuk membesarkan sidat, pasar masing-masing tahap terbuka.

Sinar cemerlang lampu light emitting diode (LED) menerangi deretan bak fiber bulat setinggi 1,5 m berdiameter 3,5 m. Di dalam bak, sekitar 2.000 sidat berbobot 3—10 gram bergerak lincah. Atap galvanil setinggi 4 m melindungi sidat dari terpaan hujan atau matahari. “Air hujan mengakibatkan suhu dan pH berubah mendadak, itu bisa memicu stres bagi sidat muda,” kata Deni Firmansyah, pendiri PT Laju Banyu Semesta (Labas) yang membesarkan sidat.

Dengan sistem tertutup, sidat ukuran elver yang masih ringkih itu dapat tumbuh membesar tanpa khawatir pengaruh buruk cuaca. Dengan lahan 2.200 m2, kapasitas pasokan PT Labas mencapai 30 kg per hari. Deni menyatakan mereka tak hanya menjual sidat segar. “Ada juga olahan dalam bentuk shirayaki dan kabayaki,” kata alumnus Sekolah Tinggi Perikanan, Pasarminggu, Jakarta Selatan, itu.

Produksi
Shirayaki adalah sidat panggang bercitarasa netral, sementara kabayaki bercitarasa gurih. Deni menyatakan bahwa kabayaki buatan mereka dijamin halal lantaran proses pembuatannya bebas alkohol—yang lazim digunakan dalam pembuatan kabayaki asal Jepang. Itu menjadi daya tarik bagi pembeli, terbukti olahan itu tidak pernah menumpuk lama di lemari pendingin Labas.

Perusahaan itu berniat meningkatkan pasokan. Farid Wiyardi, rekan Deni, menargetkan peningkatan kapasitas lebih dari 30 kali lipat, menjadi 1 ton per hari. Namun, tidak semuanya ditangani Deni dan Farid, mereka mencari mitra yang mau melakukan pembesaran. “Syaratnya mau membudidaya sesuai standar baku yang kami tentukan dan menjual kembali hasil panennya kepada kami,” tutur Farid.

Mereka tidak melirik pasar ekspor lantaran sejatinya pasar domestik saja belum tergarap. Pengalaman Farid, ketika ia belajar membudidaya pada 2011, pembeli datang begitu tahu ia memelihara sidat. “Begitu mencapai bobot 1 gram, pembeli datang. Saya besarkan sampai 10 gram, orang datang lagi. Pas bobotnya sampai 50 gram, lagi-lagi orang ingin membeli,” tutur penggemar motor besar itu.

Pembesaran glass eel di akuarium untuk mempermudah pengamatan kondisi sidat.

Pembesaran glass eel di akuarium untuk mempermudah pengamatan kondisi sidat.

Begitu upaya pembesaran Deni dan Fajar di Pamijahan menampakkan keberhasilan pada 2014, mereka sadar banyak peternak pembesar kesulitan memperoleh bibit glass eel atau elver berkualitas. “Lantaran kekurangan pengetahuan, pemula asal saja membeli. Setelah itu muncul masalah sidat tidak mau makan, sakit, bahkan mati,” ungkap Deni.

Baca juga:  Bisnis Hebat Sidat: Laba Rp12-juta per Bulan

Salah satu sebabnya adalah teknik penangkapan yang serampangan oleh pencari bibit. Menurut Deni pencari bibit tidak segan menggunakan pancing, listrik, bahkan racun potasium. Keruan saja bibit tangkapannya menjadi tidak berkualitas. Akibatnya tingkat sintasan atau kelulusan hidup di segmen awal pembesaran—glass eel menjadi elver—paling banter 70%.

Dengan bendera Labas, Deni dan Fajar berniat menyediakan bibit sidat bebas masalah yang tingkat sintasannya minimal 90%. Ketersediaan bibit hanya salah satu masalah yang menghadang pembesar pemula. Sudiarso dari CV Satu Atap di Yogyakarta pernah kehilangan lebih dari 4 ton hasil panen lantaran pencurian. Ia menebar 800 kg glass eel dengan harapan memperoleh 5 ton sidat konsumsi.

Selang 14 bulan, ia hanya memanen 400 kg. Dengan harga sidat konsumsi saat itu sekitar Rp150.000 per kg, Sudiarso harus merelakan Rp690-juta lenyap dari koceknya. Untungnya hal itu tidak terjadi lagi setelah ia berpindah ke tempat baru. Kini Sudiarso fokus menyediakan bibit semua ukuran, mulai dari glass eel, elver, dan fingerling. “Lebih aman dan pasarnya pasti,” kata Sudiarso. (Argohartono Arie Raharjo/Peliput: Bondan Setyawan)

COVER 1.pdf

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments