Tiga semangka baru yang produktif, manis, dan tahan terhadap serangan penyakit bercak daun.

Rona merah semangka platini yang menggoda.
Rona merah semangka platini yang menggoda

Nama platini mengingatkan kita akan pesepak bola asal Perancis, Michel Francois Platini. PT Agri Makmur Pertiwi mengabadikan nama pemain klub Juventus itu untuk semangka baru yang dirilis pada 2018. Menurut Manajer Area Jawa Tengah PT Agri Makmur Pertiwi, Yulianto, platini bercita rasa manis. Tingkat kemanisan 12º briks setara dengan kemanisan rata-rata semangka di Indonesia.

Semangka berdaging merah terang itu juga tanpa biji, daya tahan lebih kuat sehingga lebih tahan simpan. Menurut agronomis PT Agri Makmur Pertiwi, Muhammad Ikhwan Kurniawan, platini mampu bertahan hingga 20—30 hari setelah pemetikan. Penyimpanan semangka selama itu tak mempengaruhi cita rasa buah. Bobot buah mencapai 5—6 kg. Bobot buah itu ideal untuk sebuah keluarga kecil dengan 4 anggota karena buah habis sekali konsumsi. Bobot buah semangka lazimnya bisa mencapai hingga 10 kg.

Berbeda sasaran

Tatang Halim membudidayakan semangka baby, introduksi dari Taiwan.
Tatang Halim membudidayakan semangka baby, introduksi dari Taiwan

Para periset PT Agri Makmur Pertiwi merakit varietas baru itu sejak 2015. Mereka memanfaatkan indukan semangka hibrida nonbiji dan semangka biji sebagai tetua. Kelebihan kedua indukan itu menurun pada platini. Para petani di berbagai derah seperti Kudus, Pati, Kendal, semua di Provinsi Jawa Tengah, Provinsi Jawa Timur, dan Kalimantan Timur, kini mulai membudidayakan semangka baru itu. Mereka memanen buah pada 25 hari setelah bunga mekar. Setiap tanaman menghasilkan 2—3 buah.

Petani juga memiliki pilihan lain jika hendak membudidayakan tananam anggota famili Cucurbitaceae itu. Selain platini, semangka baru lainnya adalah medali. Bentuk buah lonjong berbobot 3—3,5 kg per buah. Ukuran buah relatif kecil menyebabkan medali habis sekali santap bagi keluarga kecil. Ketika terbelah tampaklah daging buah yang jingga. Warna daging buah jingga pekat itu menjadi pemikat tersendiri bagi para konsumen.

Semangka medali yang renyah.
Semangka medali yang renyah

Harap mafhum, di pasaran jarang terdapat semangka berdaging buah jingga. Apalagi cita rasa daging buahnya renyah dan manis. Pengukuran dengan refraktometer menunjukkan tingkat kemanisan semangka medali mencapai 10o briks. Masyarakat Jawa Tengah menjuluki semangka itu inul karena bentuk buahnya yang lonjong. Medali juga hasil pemuliaan PT Agri Makmur Pertiwi, produsen benih hortikultura di Surabaya, Provinsi Jawa Timur.

Perusahaan itu membuat beragam jenis semangka untuk memenuhi permintaan konsumen. “Setiap area berbeda kesukaannya, sehingga kami berusaha mengikuti keinginan pelanggan,” ujar Yulianto. Menurut Yulianto kelebihan medali adalah adaptasi tanamannya baik dan tekstur daging buah yang renyah. Tanaman kerabat mentimun itu juga tahan terhadap serangan mikroorganisme seperti cendawan dan virus. Itulah sebabnya petani tetap dapat membudidayakan semangka medali pada musim hujan. Petani yang mengebunkan varietas baru itu akan panen rata-rata 28—33 ton per hektare. Populasi mencapai 9.500 tanaman per ha. Artinya produktivitas mencapai 9 kg per tanaman. Tanaman berbunga pada umur 29 hari dan siap panen 31 hari kemudian. Petani mempertahankan maksimal 3 buah per tanaman.

Semangka baby

Para petani di berbagai sentra seperti Kabupaten Demak, Jawa Tengah, membudidayakan semangka medali.
Para petani di berbagai sentra seperti Kabupaten Demak, Jawa Tengah, membudidayakan semangka medali

Pekebun semangka di Tangerang, Provinsi Banten, Tatang Halim, juga membudidayaka semangka baru sejak 2014. Nama semangka itu baby. Warna daging buah merah sangat menggoda. Apa lagi citarasanya manis. Pengukuran dengan refraktometer menunjukkan bahwa tingkat kemanisan baby mencapai 14º briks. “Rasa manisnya itu lebih kental dan tahan lama di mulut, karena pada dasarnya genetiknya bagus,” ujar Tatang.

Pemasok beragam buah tropis itu sangat memperhatikan kualitas buah yang dihasilkan dari kebunnya. “Penanaman dan perawatan membutuhkan biaya yang tinggi. Untuk menjaga eksklusivitasnya, saya terapkan sistem tanam gantung agar terhindar dari tanah dan warna serta lurik yang tidak merata,” kata Tatang. Ia mempertahankan maksimal 3 buah per tanaman.

Semangka baby berukuran seperti melon, cukup untuk keluarga yang beranggotakan 3-4 orang.
Semangka baby berukuran seperti melon, cukup untuk keluarga yang beranggotakan 3-4 orang

Bobot buah semangka asal Taiwan itu relatif kecil, hanya 1—2 kg. Ukuran itu ideal untuk keluarga kecil agar habis sekali konsumsi. “Saat ini saya hanya memasok buah ke toko-toko buah modern. Di sana konsumennya memang mencari buah yang langsung habis hanya dengan sekali konsumsi,” ujar pria 55 tahun itu. Kondisi itu berkebalikan dengan respons pasar tradisional yang kurang menerima semangka mungil seperti baby.

“Semangka baby dianggap rusak karena bobotnya ringan dan kecil, para penjual di pasar tradisional tidak mau terima,” kata Tatang. Menurut Tatang menghasilkan buah yang menarik dan sehat itu relatif mudah. Kunci untuk mendapatkan tanaman sehat adalah dengan memberikan asupan nutrisi yang tetap, selayaknya manusia agar kekebalan tubuhnya tidak menurun yang dapat mengakibatkan mudahnya serangan berbagai penyakit. 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d