Destario Metusala, peneliti di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan. Ia peneliti spesialis botani, agronomi, dan taksonomi anggrek. Destario sudah menemukan 9 spesies baru anggrek dari 2009 hingga sekarang. Spesies terbaru yang ditemukannya adalah Malleola inflata Metusala & P.O’Byrne. TEMPO/Abdi purmono

Destario Metusala, peneliti di Kebun Raya Purwodadi, Pasuruan. Ia peneliti spesialis botani, agronomi, dan taksonomi anggrek. 

Peneliti anggrek, Destario Metusala, kali pertama mempublikasikan Dendrobium floresianum pada 2006. Rio—panggilan akrabnya—meneliti anggrek itu ketika masih duduk di bangku kuliah di Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Yogyakarta. Namun, ia baru mempublikasikannya setelah lulus kuliah dan bekerja di Kebun Raya Purwodadi, Jawa Timur. Rio kian intens meriset anggrek setelah bekerja di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) itu.

Kebun raya di Jawa Timur itu merilis beberapa anggrek baru hasil temuan Destario. Contohnya Maleola inflate (2006), Oberonia sp. Dendrobium floresianum, Dipodium brevilabium (2009), Vanda frankieana, Cleissocentron kinabaluense, dan Dendrobium mucrovaginatum pada 2012. Di tengah kesibukannya menyelesaikan kuliah program doktor di Universitas Indonesia, pada Agusuts 2017 Destario memperkenalkan anggrek terbaru Gastrodia bambu.

Sejak remaja
Hingga kini, lebih dari 15 kali Rio melakukan eksplorasi ke dalam hutan-hutan di Indonesia. Ia telah melaporkan 12 spesies anggrek sebagai anggrek baru di Indonesia. Anak kedua pasangan Thomas Metusala dan Sri Hartini itu tertarik pada anggrek saat duduk di Sekolah Menengah Atas pada 2002. Semula ia melihat sebuah artikel mengenai anggrek Indonesia yang bunganya cantik-cantik.

Destario kemudian membeli bibit anggrek bulan Rp5.000. Setelah memelihara beberapa bulan, Destario sukses membungakan puspa pesona itu. Sejak itu, pemuda berambut keriting itu kian tertarik membeli dan memelihara anggrek. Hampir setiap hari usai kuliah, ia ke perpustakaan mencari dan membaca artikel anggrek, termasuk membaca Majalah Trubus. Majalah Trubus paling sering menyajikan artikel anggrek terbaru.

Ia pun menambah ilmu dan koleksi dengan rajin mendatangi pameran. Hingga selesai kuliah, koleksi anggreknya mencapai 200 jenis yang dipelihara di halaman belakang rumah. Uang untuk membeli anggrek hasil keringat sendiri, lewat beberapa karya tulis yang menang lomba. Waktu itu, ia menjadi kolektor anggrek dan tidak selektif. Asal beda jenis dan harga terjangkau ia membelinya sehingga beberapa mati karena salah penanganan.

Baca juga:  Model Anyar Hidroponik Tenteng

Ketertarikan pada taksonomi anggrek bermula saat memperoleh anggrek tanpa nama. Itu membuatnya penasaran dan mencari di buku-buku. Namun, waktu itu sangat jarang buku yang tersedia. Salah satunya karya Howard Wood. Ia lalu mencocokkan ciri-ciri anggrek-anggreknya ke buku Woods itu. Destario pun jadi terlatih untuk mengenal ciri-ciri anggrek. Ia pun bergabung dengan beberapa milis anggrek dalam dan luar negeri.

Selain itu Destario pun rajin berdisikusi dengan ahli anggrek di luar negeri, di antaranya Peter O. Byrne dan Jeffrey J. Wood. Ia pun diajari cara mendeskripsikan anggrek (taksonomi). Setelah melihat kesungguhan anak muda itu menggeluti anggrek, kedua pakar itu tidak ragu untuk mengajak Rio berkolaborasi dalam mengidentifikasi anggrek. Itulah sebabnya dalam setiap penemuan anggrek baru, nama Metusala, P.P. O’Byrne, dan J.J. Wood, menjadi satu kesatuan.

Destario Metusala makin dalam berkecimpung di anggrek dengan menempuh pendidikan S-2 di Kent University, Inggris. Bahan tesisnya berupa penelitian pengaruh perubahan iklim terhadap fenologi pembungaan komunitas anggrek di Kinabalu, Malaysia. Waktu itu spesimen anggrek di Inggris kebanyakan dari Kinabalu karena merupakan bekas jajahan. Literatur dan spesimen anggrek dari Kinabalu pun banyak tersimpan di herbarium Kew Garden, Inggris. (Syah Angkasa)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d