Tiba Generasi Ketiga 1

Lengkeng rubi, king long, matalada, varian kristal menjadi lengkeng generasi ketiga. Lengkeng yang sempurna untuk mengisi pasar?

534_-10-2a

King long berbuah jumbo, diameter buah rata-rata 3 cm

Lengkeng bagai dunia fesyen atau telepon selular yang selalu muncul model terbaru. Di jagat lengkeng varian paling gres adalah si kulit merah yang amat seronok. Penampilan buah kerabat rambutan itu sungguh mencolok mata karena berwarna merah solid. Pada umumnya lengkeng berkulit kecokelatan. Itulah lengkeng rubi koleksi Ricky Hadimulya, penangkar bibit buah di Parung, Kabupaten Bogor, Provinsi Jawa Barat. Ricky memperoleh bibit lengkeng rubi pada pertengahan 2013.

Rubi cocok sebagai tabulampot karena buah atraktif

Rubi cocok sebagai tabulampot karena buah
atraktif

Selang 6—8 bulan bibit asal cangkok itu berbuah.  Ukurannya beragam, diameter buah sekitar 1,5—3 cm. Kehadiran lengkeng rubi menjadi angin segar bagi bisnis lengkeng. “Penampilannya (ruby longan, red) menarik dengan warna merah solid. Cocok untuk tabulampot,” kata Gregori Garnadi Hambali, ahli botani di Kota Bogor, Jawa Barat. Lengkeng rubi hanya salah satu di antara jenis-jenis lengkeng anyar yang muncul belakangan ini.

Dataran rendah

Dua tahun terakhir memang muncul lengkeng-lengkeng unggulan antara lain berciri manis, produktivitas tinggi, dan porsi konsumsi yang tinggi. Sekadar menyebut jenis baru lain adalah king long—begitu Budi Dharmawan memberi nama untuk lengkeng anyar itu. Pekebun buah di Desa Sidokumpul, Kecamatan Patean, Kabupaten Kendal, Provinsi Jawa Tengah, itu bagai mendapat durian runtuh ketika menemukan 60 bibit king long di antara ribuan bibit itoh pesanannya.

Sosok king long memang jumbo, diameter buah rata-rata di atas 3 cm. Bandingkan dengan jenis lain seperti itoh atau diamond river yang hanya sekitar 2,5 cm. Selain berukuran jumbo, daging buah king long juga tebal. Bagian buah yang bisa dimakan mencapai 75%. Kehadiran varian lengkeng berpenampilan istimewa itu semakin mendongkrak popularitas long yen—sebutan lengkeng di Cina—di tanahair. Maklum, sebelum 2000 lengkeng terkenal sebagai tanaman dataran tinggi.

Prakoso Heryono. Lengkeng baru butuh waktu5-6 tahun sejak muncul hingga beredar di pasaran

Prakoso Heryono. Lengkeng baru butuh waktu5-6 tahun sejak muncul hingga beredar di pasaran

Pada 2000 muncul varian baru lengkeng dataran rendah seperti diamond river dan pingpong. Keduanya genjah—berbuah pada umur kurang dari 2 tahun setelah tanam—rajin berbuah, dan dapat berbuah di lahan berketinggian kurang dari 300 m dpl meski tanpa perlakuan. Pekebun di Blitar, Jawa Timur, Tryman Sutandya mengatakan keduanya generasi pertama lengkeng dataran rendah. Kemudian muncul puang rai yang muncul pada 2007. Jika kini muncul lengkeng-lengkeng spektakuler—antara lain rubi dan king long—itulah generasi ketiga lengkeng dataran rendah.

Baca juga:  Ahli Tanam Hingga Panen

Apakah masyarakat gegap gempita menyambut generasi ketiga? Saat menyambut kehadiran diamond river dan pingpong orang tergila-gila untuk memilikinya. Antusiasme itu tercermin pada penjualan bibit. Prakoso Heryono di Demak, Jawa Tengah, misalnya, kebanjiran pesanan bibit hingga 10.000 bibit diamond river per bulan. “Tingginya permintaan bibit diamond river karena banyak pekebun yang menanam secara luas,” kata alumnus Universitas Islam Sultan Agung itu.

Prakoso menuturkan rasa diamond river yang manis menjadi daya tarik pekebun. Hartono, pekebun di Cipatat, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, berpendapat serupa. Pada umumnya konsumen tidak membeli lengkeng berdasarkan jenisnya. “Yang penting manis dan kulitnya mulus,” ujar pria kelahiran Semarang 43 tahun silam itu.

Rasa dan penampilan

Konsumen menyukai lengkeng berkulit buah mulus dan rasanya manis Prakoso Heryono.

Konsumen menyukai
lengkeng berkulit buah
mulus dan rasanya manis Prakoso Heryono.

Jika parameter manis dan mulus, maka lengkeng-lengkeng baru itu sangat layak mengisi pasar. Sebagai gambaran tingkat kemanisan lengkeng rubi mencapai 21o briks. Sementara lengkeng king long tingkat kemanisannya pas di lidah. Soal penampilan? Lengkeng-lengkeng anyar berpenampilan mulus. Karena buah konsumsi, maka citarasa menjadi amat penting bagi calon konsumen. Mungkin karena itulah ketika citarasa lengkeng impor asal Thailand anjlok, maka penjualannya di pasar-pasar swalayan pun turut jeblok.

General manager commercial fresh PT Trans Retail Indonesia—pengelola Carrefour—Caesario Parlindungan menuturkan pada 2014 penjualan lengkeng di Carrefour anjlok. Itu karena, “Kualitas lengkeng asal Thailand sedang menurun. Rasanya kurang manis dan buahnya kecil-kecil,” ujar Caesario. Itu terbukti dari turunnya minat konsumen mengerubungi stan lengkeng. Padahal, tahun sebelumnya konsumen langsung menyerbu stan buah begitu lengkeng datang dan habis dalam sehari.

Carrefour membutuhkan 18 ton lengkeng setiap bulan untuk 45 toko di Jakarta dan kota-kota penyangga di sekitarnya. Selama ini 99% pasokan ke Carrefour berasal dari lengkeng impor asal Thailand dan sisanya merupakan pasokan dari pekebun lokal di Jawa Tengah. Penurunan kualitas lengkeng impor merupakan peluang bagi para pekebun lengkeng lokal. “Kami sangat terbuka pada pemasok lokal asal sesuai standar kualitas kami,” kata Caesario. PT Trans Retail Indonesia menginginkan lengkeng berdiameter buah 2,5 cm, batang buah segar, kulit buah tidak kempot atau busuk, dan kadar kemanisan di atas 150 briks.

Baca juga:  BASF Indonesia 40 Tahun

5—6 tahun

Menurut pakar agribisnis di Program Manajemen Bisnis Institut Pertanian Bogor, Drs Yudha Herry Asnawi MM, kualitas memang menentukan komoditas pertanian untuk komersial. “Kalau buah, orang lebih memilih dari segi rasa, dan juga kemudahan mendapatkan di pasaran,” katanya. Oleh karena itu Yudha menuturkan perlu waktu untuk menilai suatu varian baru diminati pasar atau tidak. “Sekali pun lengkeng merah muncul di pasaran dan banyak orang membeli bukan berarti produk itu diminati. Masa itu disebut sebagai trial period,” ujarnya.

Masa uji coba bisa singkat atau panjang tergantung varietas. “Kalau buah bisa dipanen tiap hari atau tiap bulan dalam 6 bulan kita bisa menilai dengan cepat buah itu diminati atau tidak. Namun, bila buah itu berbuah tahunan belum cukup dinilai dalam waktu 2 tahun,” kata Yudha. Berapa waktu yang dibutuhkan lengkeng pendatang baru itu? Prakoso menuturkan sejak muncul dan beredar di pasaran varian baru lengkeng butuh waktu 5—6 tahun.

“Itu lebih karena proses pembibitannya yang memakan waktu,” katanya. Saat ini Prakoso sedang mengamati 3 lengkeng varian baru miliknya. Tiga lengkeng itu yakni moya, verni, dan new kristal. Saat ini moya sudah 3 kali berbuah. Jika sampai masa berbuah yang kelima ukuran buah merata, barulah Prakoso melepas moya. Pehobi dan pekebun pun mesti bersabar untuk memiliki king long dan lengkeng rubi. Budi Dharmawan yang memiliki 60 pohon king long baru memproduksi 120 bibit hasil cangkok untuk kebutuhan sendiri. Sementara Ricky baru memperbanyak 100 bibit rubi. (Rosy Nur Apriyanti/Peliput: Rizky Fadhilah, Riefza Vebriansyah, dan Andari Titisari)

FOTO:

  1. Matalada, edible partion mencapai 60%
  2. King long berbuah jumbo, diameter buah rata-rata 3 cm
  3. Rubi cocok sebagai tabulampot karena buah atraktif
  4. Carrefour butuh 18 ton lengkeng per bulan untuk 45 toko di Jabodetabek
  5. Prakoso Heryono. Lengkeng baru butuh waktu5-6 tahun sejak muncul hingga beredar di pasaran
  6. Konsumen menyukai lengkeng berkulit buah mulus dan rasanya manis

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *