Konsumsi herbal untuk anak harus tepat dosis dan jenisnya

Konsumsi herbal untuk anak harus tepat dosis dan jenisnya

Herbal aman untuk mengatasi nafsu makan hilang pada anak-anak.

Tradisi masyarakat Indonesia tak lepas dari jamu. Selain bahannya mudah diperoleh, jamu juga berkhasiat dan lebih aman dibandingkan obat kimiawi di pasaran. Banyak orang beranggapan jamu lebih aman dan tidak berefek samping. Penikmat jamu berasal dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Jamu cekok, misalnya, masyarakat Jawa sering memberikannya kepada anak-anak yang nafsu makannya turun.

Bahan baku jamu cekok antara lain daun pepaya, rimpang kunyit, temulawak, temugiring, dan asam jawa. Istilah cekok mengacu cara pemberian jamu dengan mencekokkan paksa ke mulut anak. Rasanya yang pahit memiliki banyak khasiat. Di antaranya, merangsang nafsu makan, menghilangkan kembung, mencegah dan mengatasi diare, membunuh cacing pengganggu di tubuh anak, serta meningkatkan imunitas agar anak tak gampang sakit.

Kinerja lambung
Tradisi pemberian jamu cekok muncul lantaran gangguan nafsu makan anak. Gangguan nafsu makan itu terjadi pada usia prasekolah (1—3 tahun). Beberapa anak bahkan mengalaminya hingga usia 5 tahun. Namun, gangguan itu masih wajar selama tidak mengganggu kesehatan dan pertumbuhan anak. Kelak gangguan itu hilang dengan sendirinya. Orangtua perlu waspada jika gangguan nafsu makan itu berkepanjangan karena menganggu perkembangan fisik dan kecerdasan anak.

Beras kencur cegah masuk angin dan pengencer dahak

Beras kencur cegah masuk angin dan pengencer dahak

Jamu cekok memiliki beragam khasiat tergantung jenis bahan bakunya. Bahan yang biasa digunakan untuk mengolah jamu cekok antara lain rimpang temulawak, lempuyang emprit, brotowali, temuhitam, dan daun pepaya. Temulawak berkhasiat meningkatkan nafsu makan dengan meningkatkan kinerja empedu. Rimpang Curcuma xantorrhiza itu merangsang produksi empedu penghasil rasa lapar. Efeknya anak merasakan keinginan makan. Khasiat lain temulawak adalah antiradang dan antioksidan.

Baca juga:  Bukti Terbaru Khasiat Herbal

Empon-empon seperti lempuyang emprit, temuhitam, brotowali, dan daun pepaya mengandung zat pahit (karpain atau alkaloid pahit). Zat itu meningkatkan kinerja lambung sehingga merangsang rasa lapar. Lempuyang emprit juga bersifat analgetik dan antikejang, terutama di lambung. Selain itu, lempuyang emprit melebarkan pembuluh darah tepi, pemberi efek seperti “kerokan” bila seseorang masuk angin.

Sementara rimpang kunyit bersifat mengobati gangguan lambung, merangsang keluarnya gas perut, dan bersifat antiradang. Oleh karena itu, kunyit dapat mengobati penyakit perut kembung, diare, dan antiradang. Zat kurkumin berwarna kuning dalam kunyit sangat baik untuk pencernaan. Curcuma domestica itu jarang dimanfaatkan secara tunggal. Pemanfaatan kunyit secara tunggal biasanya untuk mengobati diare. Penggunaan kunyit biasanya dicampur dengan asam. Sebab, asam menstabilkan unsur dalam kunyit.

Herbal lain untuk membuat jamu cekok adalah kencur dan jahe. Fungsinya mengobati perut kembung, batuk, pilek, dan sebagai antiradang. Keduanya bersifat menghangatkan, sehingga cocok untuk mengobati penyakit bersifat dingin seperti batuk dan pilek. Kencur juga bersifat analgesik atau penghilang rasa sakit dan ekpektoran alias mengeluarkan dahak. Sementara jahe, selain menghangatkan tubuh juga sebagai antidotum atau penawar racun yang terkandung dalam tumbuhan dan ikan.

Sebagai komponen pelengkap, gunakan kapulaga, adas, sambiloto, dan kayu secang. Herbal itu berefek positif terhadap kerja lambung. Untuk mengobati cacingan pada anak, gunakan temuhitam dan lempuyang emprit. Kedua rimpang itu memiliki zat pahit pembunuh cacing pengganggu di dalam tubuh. Untuk menghilangkan kembung, gunakan temulawak dan temuhitam. Kedua herbal itu baik untuk pencernaan dan merangsang produksi gas berlebih dalam perut.

Temulawak berkhasiat tingkatkan nafsu makan

Temulawak berkhasiat tingkatkan nafsu makan

Bahan baku
Amankah memberikan jamu cekok pada anak? Dari hasil penelitian, jamu cekok relatif aman dan manjur. Beberapa penelitian membuktikan, anak yang rajin mengonsumsi jamu memiliki daya tahan tubuh lebih baik terhadap penyakit. Namun, tidak semua jamu aman. Ketepatan takaran dan isinya menjadi kunci utama pengobatan dengan jamu. Oleh karena itu, jangan sembarangan memberikan jamu kepada anak.

Baca juga:  Khasiat Terbaru Herbal Andalan

Apalagi tanpa mengetahui isi dan campuran bahan bakunya. Jamu sebaiknya tidak diberikan untuk bayi berumur kurang dari setahun. Pemberian sebaiknya ketika anak baru bangun. Berikan jamu secara bertahap mulai dari satu sendok. Bila anak menyukainya, lanjutkan satu sendok makan berikutnya hingga berlanjut. Tujuannya, agar anak tidak trauma minum jamu.

Anak berusia 1—6 tahun bisa diberi jamu racikan sendiri. Jika menggunakan jamu instan, cermati dosis yang tercantum. Efek jamu herbal tidak instan, bisa berhari-hari atau berbulan-bulan kemudian baru tampak. Justru hindari penggunaan jamu yang berefek instan. Misalnya dalam sepekan menaikkan bobot badan anak. Efek instan menandakan adanya campuran zat kimia atau obat.

Bahkan, beberapa bahan bersifat berbahaya. Jamu memperbaiki dan membantu tubuh agar mampu menuju keseimbangan, bukan mengobati penyakit. Jika hendak memberikan jamu buatan pabrik, pilih yang dikenal aman tanpa bahan kimia tambahan. Saat meracik jamu sendiri, pilih bahan (buah dan herbal) segar. Buah, misalnya, pilih yang manis dan matang optimal. Cuci bersih dengan air mengalir sebelum diracik.

Bila rasa jamu kurang manis, tambahkan madu. Gunakan air matang yang bersih untuk membuat jamu. Sebaiknya segera minum jamu setelah selesai dibuat. Apabila tidak habis sekali minum, simpan dalam wadah kaca tertutup lalu simpan di lemari es. Daya simpan maksimal hanya 24 jam. (dr Soeklola Muliady MSi, dokter, akupunktur estetika, dan herbalis di Jakarta Barat)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d