Tertutup Bagi Aspergillus 1
Pertumbuhan jamur tiram terganggu akibat nutrisi yang dibutuhkan diambil oleh patogen

Pertumbuhan jamur tiram terganggu akibat nutrisi yang dibutuhkan diambil oleh patogen

Produksi jamur tiram anjlok karena serangan cendawan. Kunci mengatasinya sterilisasi.

Pekebun jamur tiram di Tanjungsari, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, Dudi Suryadi, hampir patah arang saat melihat 1.200 baglog jamur tiram miliknya terserang cendawan Aspergillus sp. Gejala serangan cendawan berupa miselium berwarna hitam di baglog. Cendawan itu memakan nutrisi yang seharusnya digunakan untuk pertumbuhan jamur tiram. Akibatnya pertumbuhan tiram Pleurotus ostreatus terhambat sehingga hasil produksi tidak maksimal. Dudi rugi hingga Rp6-juta.

Beberapa pekebun jamur tiram di sekitar kumbung Dudi pun mengalami hal serupa. Menurut Pipin Apriatna, penyuluh pertanian di Subang, Jawa Barat yang mendalami bidang bakteri, aspergillus menyerang tiram jika di lingkungan kumbung tumbuh cendawan itu. “Kemungkinan besar ada petani yang menggunakan aspergillus untuk menyuburkan tanamannya, sehingga menyerang beberapa kumbung jamur di sekitarnya,” kata Pipin. Harap mafhum, Aspergillus sp memang berperan positif dalam pertumbuhan tanaman. Namun, menjadi musuh untuk jamur tiram.

“Patogen yang banyak menyerang tiram adalah trichoderma,” kata Pipin Apriyatna

“Patogen yang banyak menyerang tiram adalah trichoderma,” kata Pipin Apriyatna

Pasteurisasi
Selain karena aspergillus yang memang tumbuh di lingkungan kumbung, proses sterilisasi atau pasteurisasi yang kurang lama pun membuat cendawan itu mudah menyerang. Menurut Adi Yuwono, ahli jamur di Bandung, Jawa Barat, lamanya proses sterilisasi sangat bergantung pada alat yang digunakan. Karena Dudi menggunakan alat sederhana yaitu drum minyak, maka sterilisasi sebaiknya minimal 10 jam. Sementara selama ini Dudi hanya melakukan sterilisasi hanya 7 jam. Pantas saja baglognya mudah terserang cendawan.

Lamanya proses sterilisasi ditujukan agar cendawan kontaminan tidak mampu menembus baglog sehingga kualitas baglog lebih baik. Setelah berkonsultasi dengan Ir Diny Djuariah, peneliti jamur di Balai Peneltian Sayuran (Balitsa) di Lembang, Jawa Barat, pada Agustus 2014, Dudi pun memperbaiki proses sterilisasi baglog pada kumbungnya. Ayah 3 anak itu tidak lagi menggunakan drum minyak sebagai wadah baglog dan gas LPG sebagai sumber panas.

Baca juga:  Panen Jahe di Polibag

Dudi membuat tungku dari seng berukuran 1 m x 1 m x 1 m yang dasarnya dilapisi bambu. Tungku itu dapat memuat 500 baglog dengan sumber panas menggunakan kayu bakar. Guru komputer di sekolah pertanian Sumedang itu pun memperpanjang proses sterilisasi menjadi 12 jam. Untuk sekali proses sterilisasi, Dudi menghabiskan 50 m3 kayu bakar.

Pasteurisasi baglog yang sempurna cegah aspergillus

Pasteurisasi baglog yang sempurna cegah aspergillus

Meski baru sebulan berjalan, Dudi mengamati pada pekan pertama miselium tiram sudah muncul pada baglog. Padahal, biasanya miselium baru terlihat pada pekan ke-3. Cepatnya pertumbuhan tiram membuat cendawan lain sulit tumbuh. “Hanya 2% baglog yang terserang bintik hitam, produksi pun meningkat,” kata Dudi. Kini pria 42 tahun itu bisa memanen 600 gram per baglog, semula hanya 450 gram.

Menurut Pipin Apriyatna baglog yang sudah terkontaminasi pun masih bisa berproduksi melalui proses sterilisasi ulang. “Hasilnya memang tidak sebanyak jika tidak diserang patogen,” katanya. Waktu yang dibutuhkan untuk sterilisasi ulang sama dengan sterilisasi di awal. Berdasarkan pengalamannya, jika waktu sterilisasi ke-2 diperpendek tudung tiram akan lebih kecil dan jumlahnya lebih sedikit.

“Kerugian akibat aspergillus mencapai Rp6-juta,” kata Dudi Suryadi

“Kerugian akibat aspergillus mencapai Rp6-juta,” kata Dudi Suryadi

Trichoderma
Aspergillus hanya satu dari sekian banyak cendawan yang menganggu tiram. Menurut Pipin, kasus aspergillus sangat jarang ditemukan. “Umumnya pekebun tiram mengeluhkan serangan trichoderma,” kata alumnus Universitas Al Ghifari itu. Asep Supadi, pekebun tiram di Cimahi, Jawa Barat, mengalami kerugian hingga Rp20-juta pada pengujung 2013 akibat jamur patogen itu. “Serangannya diawali dengan bintik hijau pada baglog,” kata Asep. Serangan cendawan berwarna hijau itu membuat tiram gagal berkembang. Sebanyak 13.000 baglog pun terbuang sia-sia.

Tak ingin mengalami kegagalan kedua kalinya, pada Januari 2014 Asep menggunakan hormon untuk campuran baglog. Ayah 5 anak itu mencampur 100 ml hormon tumbuh dengan 30 liter air untuk membuat 25 baglog berukuran masing-masing 1,5 kg. Hormon yang diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Sayuran, Lembang, Jawa Barat, itu membuat trichoderma enggan datang dan semua baglog berproduksi maksimal yaitu 0,7 kg per baglog.

Kehadiran aspergillus ditandai dengan miselium berwarna hitam

Kehadiran aspergillus ditandai dengan miselium berwarna hitam

Menurut Pipin, hal itu disebabkan bakteri yang terkandung pada hormon bersifat dominan dan cepat. Bakteri itu juga membantu mengurai rantai karbon serbuk kayu sebagai media tumbuh jamur tiram menjadi gula rantai pendek atau monosakarida. Jamur tiram pun lebih mudah memanfaatkannya untuk pertumbuhan. Dampaknya trichoderma dan jamur lain selain tiram kalah cepat untuk tumbuh di media. “Meskipun ada yang terserang, lama-kelamaan patogen akan menghilang,” kata Pipin.

Baca juga:  Sentra Sidat Nusantara

Selain aspergilus dan trichoderma, patogen lain yang sering menyerang tiram yaitu Mucor sp, Rhizopus sp, dan Penicillium sp. Seluruhnya disebabkan oleh lingkungan yang tidak steril. Menurut Dr Etty Sumiati MS, kebersihan pada kumbung harus selalu terjaga. “Pegawai yang keluar masuk pun harus selalu menjaga kebersihan tubuh terutama tangannya,” kata Etty. Ia bahkan menyarankan pekebun menyediakan sendal dan pakaian khusus untuk dipakai di dalam kumbung. Dengan begitu Pleurotus ostreatus terhindar dari patogen dan produksi pun meningkat. (Rizky Fadhilah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments