Tersebar Setelah Tercecap

Tersebar Setelah Tercecap 1
Julang emas Aceros undulatus

Julang emas Aceros undulatus

Bedih itu bagai hendak menggapai langit. Pohon berdiameter dua pelukan orang dewasa itu menjulang tinggi, 25 meter. Tajuk Sapium baccatum itu lebar dan rapat. Sinar matahari tak kuasa menerobosnya hingga berada di bawah pohon bedih terasa amat sejuk. Di bawah kanopi pohon itulah berserakan kulit buah bedih yang jingga seronok. Isi buah bedih telah dinikmati oleh beragam burung di pucuk pohon itu. Siang itu suara kicauan beragam burung terdengar dari lantai Hutan Harapan di Jambi.

“Coba lihat ke atas,” ujar Musadat, anggota staf PT Restorasi Ekosistem Indonesia (REKI) yang menemani Trubus menyusuri jalan setapak di rerimbunan hutan. Ia menunjukkan seekor cucak kuning Pycnonotus melanicterus terlihat meloncat di antara dahan. Tak jauh dari posisi kerabat kutilang itu menyembul kepala seekor bajing yang tengah asik menggigit buah anggota famili Euphorbiaceae itu.

Rumah buatan untuk rangkong

Rumah buatan untuk rangkong

Buah bedih memang salah satu buah favorit bagi kelompok frugivorus alias pemakan buah seperti burung dan bajing. Bedih itu sumber karbohidrat dan air. Musadat menuturkan saat pagi hari suasana kanopi pohon bedih itu bak pasar festival. Hampir semua satwa frugivorus datang beramai-ramai dan bergantian menyantap buah yang terasa kesat itu.

Selain buah bedih, buah pala hutan Myristica sp dan karamunting Rhodomyrtus tomentosa juga santapan kelompok frugivorus. Namun jenis favorit tetap buah beringin alias ficus. Di Hutan Harapan itu sebuah pohon beringin Ficus benjamina yang berbuah lebat menjadi tempat berkumpulnya burung-burung pemakan buah. “Sungguh menyenangkan melihat mereka memakan buah-buah itu,” ujar Musadat. Kesukaan hewan frugivorus terhadap buah ficus sejalan riset Jonathan Walker dari Universitas Manchester di Inggris.

Jonathan menguji komposisi pakan dan ketersediaan pakan untuk 23 jenis burung pemakan buah seperti merpati, paruh bengkok, julang, dan burung petengger di dua kawasan hutan hujan dataran rendah di Sulawesi. Hasilnya lebih dari separuh satwa itu mengonsumsi buah ficus. Penelitian itu mempertegas studi Ekologi yang dilakukan di wilayah lain di hutan tropis seperti di Amerika selatan yang menjumpai buah ficus memasok sejumlah besar pakan bagi satwa penyantap buah.

Baca juga:  Hari Kesehatan Kucing

Pohon ficus itu yang juga yang menjadi spesies penting di Gunung Anak Krakatau saat Trubus bereksplorasi pada September 2012 bersama ahli Ekologi dari Pusat Penelitian Biologi LIPI, Prof Tukirin Partomihardjo PhD.  “Buah ficus masak akan mengeluarkan bau memikat yang mengundang satwa liar seperti burung, kelelawar, dan monyet untuk memakannya. Mereka itulah pemencar ficus yang kaya karbohidrat dan air ke berbagai tempat sehingga menciptakan ekosistem sendiri,” kata Tukirin. Buah ficus selalu menjadi pakan favorit satwa karena selalu tersedia sepanjang waktu.

Keberadaan pemakan buah itu sesungguhnya menjadi berkah. Merekalah yang membantu meregenerasi hutan secara alami. “Mereka akan memencarkan biji sejauh daerah teritori mereka,” ujar Dr Dewi Prawiradilaga, ahli burung dari Pusat Penelitian Biologi LIPI. Satwa frugivorus juga memberi keuntungan besar saat menebarkan biji. Mereka tidak pernah mengenal hari libur. Bandingkan bila kegiatan itu melibatkan manusia, tentu perlu biaya besar dan waktu lama.

Menurut kepala Departemen Riset Hutan Harapan Achmad Yanuar PhD, salah satu burung pemakan buah yang berperan penting dalam regenerasi Hutan Harapan adalah rangkong. “Rangkong memakan banyak buah dari beraneka pohon,” kata alumnus Cambridge University, Inggris, itu. Rangkong akan menyebarkan biji dari buah lewat kotoran yang jatuh di area jelajahnya yang jauh. Burung anggota famili enggang-enggangan itu menyantap ara, karamunting, dan bedih (baca: “Hore… Jul Bertemu Jodoh” halaman 84—85).

Penelitian Wildlife Conservation Society di Cagar Alam Tangkoko Dua Sudara, Bitung, Provinsi Sulawesi Utara pada 1993, memperlihatkan rangkong yang menggendong radio pemancar terdeteksi mampu menjelajah hutan rata-rata 10 km per hari. Luas daerah jelajah rangkong mencapai 55 km2. Menurut Yok Yok Hadiprakarsa, pengamat rangkong di Bogor, Jawa Barat, rangkong berukuran tubuh 40 cm memiliki area jelajah 1—2 km. “Rangkong di atas ukuran satu meter bahkan bisa menyebrangi Selat Sunda,” ujarnya.

Baca juga:  Khasiat Besar Cincau Hijau

Demikian pentingnya rangkong dalam penyebaran biji itu menurut Mursadat pihak REKI di Hutan Harapan membuatkan “rumah” buatan agar rangkong tinggal dan berkembangbiak. Rumah itu terbuat dari 3 bahan: kayu lapis, drum plastik, dan drum bekas oli. Pintu masuknya selebar 15 cm dan tinggi 25—30 cm. “Total ada 29 sarang yang dibuat,” kata Mursadat. Sarang itu diletakkan di ketinggian 15—25 m. Rangkong lazim bersarang di lubang pohon keras anggota famili Dipterocarpaceae.

Namun upaya sejak 2010 itu belum berhasil. Sarang yang sudah 3 tahun dipasang belum juga berpenghuni. “Mungkin rangkong menganggap ia perlu biaya kos mahal untuk tinggal di sana,” ujar Mursadat berkelakar. Namun, sesungguhnya 9 jenis rangkong yang ada di Hutan Harapan seperti enggang jambul Aceros cornatus, julang emas       A. undulatus, rangkong papan Buceros bicornis, dan kangkareng hitam Anthracoceros malayanus sudah mempunyai rumah alami tersendiri. “Ketersediaan pohon besar masih mencukupi,” kata Yok Yok Hadiprakarsa.

Periset dari Singapura yang meneliti pemakaian sarang rangkong buatan di Hutan Harapan memang berhasil melakukannya di hutan kota di kawasan Bandara Changi. Namun, boleh jadi keberhasilan itu lantaran rangkong yang dijumpai di Singapura—kankareng perut putih Anthracoceros albirostris, rangkong badak Buceros rhinoceros, dan rangkong gading Rhinoplax vigil—tidak memiliki pilihan pohon lain seperti aneka jenis pohon di Hutan Harapan yang tersebar di kawasan hutan seluas hampir 100.000 ha.

Sejauh ini pengetahuan komposisi pakan jenis burung pemakan buah penting karena burung-burung itu menjadi penebar biji yang penting bagi regenerasi hutan. Jonathan Walker menyebutkan satwa pemakan buah lebih rentan terhadap kehilangan habitat serta fragmentasi yang terjadi. Jadi saat hutan hancur, hidup mereka terancam, dan masa depan regenerasi hutan pun tinggal menggantung sebatas harapan (Dian Adijaya Susanto/Peliput: Riefza Vebriansyah dan Kiki Fadhilah)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x