Merawat bonsai soka menjadi cara Mayor Wasito S .Sos untuk mengusir penat

Merawat bonsai soka menjadi cara Mayor Wasito S .Sos untuk mengusir penat

Soka menawan setelah menjadi bonsai.

Deretan soka Ixora sp yang menjadi pagar hidup sebuah rumah bergaya Minangkabau itu memikat hati Mayor Wasito S.Sos. Perjumpaan yang terjadi pada 2009 ketika ia bertugas di kota Padang, Sumatera Barat, itu masih membekas. Tinggi tanaman hanya sebatas dada. Batangnya besar, berkulit keriput, dan percabangan rimbun. Kumpulan bunga berwarna merah muncul di antara dedaunan.

“Alangkah indahnya bila soka itu dikerdilkan lantas ditanam dalam pot yang cantik,” ujarnya. Ia lantas mengutarakan niat untuk membeli soka idamannya itu pada pemilik rumah. Sayang, pemilik tanaman enggan melepas meski ditawar dengan harga tinggi. “Sempat kecewa tapi penolakan itu membuat semangat saya untuk mencari soka berkarakter serupa semakin menyala,” ujarnya.

Lentur dan alot
Sejak duduk di bangku sekolah dasar, Mayor Wasito memang sudah jatuh hati pada bonsai. Beragam bonsai seperti beringin dan jeruk kingkit menjadi hiburan di kala penat. “Melihat karakter soka saya tertarik untuk mengubah penampilannya menjadi sebuah bonsai,” ujar asisten pribadi Wakil Kepala Staf TNI Angkatan Udara Republik Indonesia (KASAU TNI RI) itu.

Sosok bonsai soka milik Mayor Wasito S.Sos

Sosok bonsai soka milik Mayor Wasito S.Sos

Wasito mulai mencari literatur dan berkonsultasi dengan pehobi senior untuk mengetahui seluk-beluk bonsai soka. ”Informasi yang didapat sangat minim sebab pehobi yang mengoleksi bonsai soka masih jarang,” katanya. Ia menuturkan bonsai soka kalah sohor dengan cemara udang, santigi, dan anting putri. Maklum, soka berkarakter bonsai sulit diperoleh. Apalagi tanaman itu tidak memiliki habitat.

Setiap mempunyai waktu senggang, Wasito meluangkan waktu untuk berburu tanaman anggota famili Rubiaceae itu. Ia menyambangi beberapa rumah warga demi mendapatkan bakalan bonsai soka idaman. Sayang, beberapa soka yang dijumpai berbatang lurus dan kecil sehingga kurang menarik. Impiannya terwujud setelah berbulan-bulan mencari. Ia memperoleh sebatang soka setinggi 70 cm yang berkarakter nyaris sempurna.

Baca juga:  Beku Kaya Nutrisi

Batang besar, bulat, berwarna cokelat tua, dan keriput sehingga terkesan tua. Susunan ranting rapat dan berdaun kecil. Pria berusia 38 tahun itu lalu menanam soka di media campuran pasir, kompos, dan pupuk kandang dengan perbandingan 2:2:1. Bungsu lima bersaudara itu lantas memulai serangkaian perlakuan untuk mempercantik soka. “Bentuk tanaman sudah bagus jadi saya hanya mengarahkan cabang dan rantingnya,” ujarnya.

Untuk menampilkan kesan sebuah pohon besar yang tumbuh di alam maka ia membiarkan cabang tumbuh banyak dan rapat. Pria kelahiran 25 Januari 1976 itu mengungkapkan batang soka lentur sekaligus alot. Batang lentur sehingga gampang kembali ke posisi semula; sedangkan alot menyebabkan tidak mudah patah. Karakter itu menyebabkan waktu pengawatan lama. Pada tanaman lain seperti beringin dan sancang, biasanya kawat dilepas setelah 2 bulan. Sementara soka butuh waktu minimal 6 bulan.

Dewanya Kalingga menuturkan soka tergolong lambat tumbuh sehingga pehobi harus cermat memilih cabang

Dewanya Kalingga menuturkan soka tergolong lambat tumbuh sehingga pehobi harus cermat memilih cabang

Lambat tumbuh
Wasito menempatkan bonsai klangenannya itu di tempat yang penuh sinar matahari. Menurut Wasito perawatan bonsai soka cukup mudah sebab tanaman tergolong bandel. Asupan nutrisi berupa pupuk lambat urai diberikan dengan menabur 1—2 gram di permukaan media tanam. Penyiraman dua kali sehari terutama pada musim kemarau. Musuh soka relatif sedikit sehingga pemberian pestisida hanya bila ada serangan.

Dewanya Kalingga, pehobi bonsai di Bekasi, Jawa Barat, juga terpesona keindahan soka. “Bermain soka itu menyenangkan sebab jarang yang punya,” katanya. Ia mulai menggemari bonsai soka pada pertengahan 2012 silam. Saat mengunjungi pameran flora dan fauna di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat, ia melihat sebatang soka berbatang besar setinggi 50 cm di salah satu gerai peserta. “Melihat sosoknya yang potensial untuk dijadikan bonsai, saya berhasrat untuk memilikinya,” kata Kalingga.

Soka lazimnya dimanfaatkan sebagai penghias taman

Soka lazimnya dimanfaatkan sebagai penghias taman

Menurut Kalingga soka tergolong tanaman lambat tumbuh, terutama tipe daun kecil. Untuk bahan bonsai, idealnya pehobi mencari tanaman yang sudah berkarakter seperti struktur batang, cabang, dan ranting yang membentuk gerak dasar. Biasanya soka yang memenuhi karakter itu berumur puluhan tahun. “Soka yang kerap dijumpai sebagai tanaman penghias taman sebagian besar masih berbatang kecil,” ujarnya.

Baca juga:  Penanganan Terpadu Pasien Kanker

Stres air
Dewanya Kalingga mengatakan, pebonsai harus menyeleksi cabang yang hendak dipertahankan. “Jika ingin memotong, perhatikan letak dan arahnya,” tuturnya. Kesalahan potong bisa berakibat fatal sebab butuh waktu lama untuk memunculkan tunas baru. “Untuk menumbuhkan cabang sebesar kelingking bisa 2—3 tahun,” ujarnya.

Bonsai bergaya informal dari bakalan berumur 25 tahun

Bonsai bergaya informal dari bakalan berumur 25 tahun

Setelah menemukan bahan tanaman ideal, Kalingga membuang cabang-cabang yang tidak berguna. Ia menanam pada media campuran pasir bangunan, kompos, dan pasir malang dengan perbandingan 2:2:1. Ayah satu anak itu melakukan pengawatan pada cabang yang tidak tepat arahnya agar stabil. Agar tanaman terhindar dari serangan hama dan penyakit, ia menyemprotkan air rendaman tembakau yang disimpan selama 10 hari.

Puncak keindahan bonsai soka tatkala bunga muncul di seluruh permukaan tajuk. Untuk memacu pembungaan, Kalingga mengatur penyiraman. Ia membiarkan tanaman tanpa air selama 3 hari. Selanjutnya, pada hari keempat dan kelima, ia melakukan penyiraman sekali dalam sehari. Tanaman kembali dibiarkan tanpa air pada hari keenam dan ketujuh. Pada hari kedelapan, ia memberikan pupuk lambat urai sesuai dosis anjuran.

Biasanya bunga akan muncul tiga pekan pascapemupukan. Ketika calon bunga mulai terlihat, Kalingga melarutkan 5 gram NPK dalam 1 liter air dan menyemprotkan pada tajuk tanaman. Kalingga patut bangga pada bonsai soka. Musababnya, salah satu koleksinya berhasil meraih bendera merah pada kontes dan pameran bonsai nasional di Bekasi, Jawa Barat, pada September 2014. “Itu sebagai bukti bahwa bonsai soka juga patut diperhitungkan meski kalah sohor,” katanya. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Similar Posts

Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments