Terpikat Dara Cantik 1
Modern oriental frill (Mof) blondinette koleksi Frans Wibawa.

Modern oriental frill (Mof) blondinette koleksi Frans Wibawa.

Penggemar merpati hias kini makin bertambah.

Saat pergantian hari, Ignatius Wiyono Purwakristono masih terjaga. Pada tengah malam itu waktunya Wiyono memberi pakan kepada 30 merpati hias miliknya. Ia menapaki satu per satu anak tangga dengan susah-payah menuju kandang merpati hias di lantai ketiga rumahnya di Ragunan, Jakarta Selatan. Harap mafhum, bagian kiri tubuh Wiyono saat ini lumpuh akibat serangan stroke pada 2012. Wiyono menjalani aktivitas itu setiap hari sejak 2014.

“Saya biasanya memberikan pakan tiga kali sehari, pagi, siang, dan tengah malam,” kata pria 60 tahun itu. Meski harus bersusah-payah menaiki tangga, ia tak pantang menyerah. “Saya sengaja melakukan itu untuk melatih saraf anggota tubuh saya yang lumpuh,” ujar pengusaha percetakan itu. Merawat merpati sebetulnya hobi Wiyono sejak kecil. “Ketika masih kecil saya pernah punya merpati lokal hingga 1.000 ekor,” ujarnya.

Silver lahore koleksi Oncelo Fauzi yang masih langka.

Silver lahore koleksi Oncelo Fauzi yang masih langka.

Semua usia
Setelah terserang stroke pada 2012 ia kerap merasa bosan karena tidak banyak beraktivitas. Ia lalu pergi ke pasar burung di Jalan Pramuka Raya, Jakarta Timur. Semula ia hendak membeli parkit. Namun, sebuah lapak menjajakan merpati hias. “Saya jadi teringat hobi lama saya waktu kecil. Oleh karena itu saya tertarik lagi memelihara merpati, tapi kali ini merpati hias,” katanya.

Menurut Frans Wibawa, ketua Indonesian Fancy Pigeon Community (IFPC) wilayah barat, sejak 2013 penggemar merpati hias di tanahair terus meningkat. “Hobi ini juga tidak pandang usia,” ujar pria yang juga penangkar ikan hias itu. Wiyono hanya salah satu penggemar merpati hias yang sudah berusia lanjut. “Ada juga pehobi merpati hias asal Ciamis, Jawa Barat, yang berusia 70 tahun,” tuturnya.

Profesi para pehobi juga beragam. Contohnya Anantha Zakharia asal Kelurahan Cimanggu, Kecamatan Tanahsereal, Kota Bogor. Dosen Bina Sarana Informatika itu juga gandrung memelihara merpati hias sejak 2013. Setiap dua hari sekali pria 28 tahun itu mengunjungi kandang merpati hias miliknya di daerah Dramaga, Kabupaten Bogor. “Biasanya saya mengunjungi kandang sebelum berangkat ke kampus,” katanya.

French mandarin (kanan), merpati hias berukuran jumbo, bobot 200—1.000 g per ekor.

French mandarin (kanan), merpati hias berukuran jumbo, bobot 200—1.000 g per ekor.

Ada juga Prihardjono asal Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, yang berprofesi sebagai pelatih pencak silat. “Saya spesialis mengoleksi merpati hias berukuran jumbo,” kata pria yang pernah melatih pencak silat di Afrika Selatan selama 2 tahun itu.

Baca juga:  Produk Bermutu dan Terjangkau

Kesibukan sebagai karyawan sebuah hotel berbintang tak menyurutkan kecintaan Oncelo Fauzi pada hobinya merawat merpati hias. Pada akhir pekan ia menghabiskan waktu untuk merawat seluruh klangenannya itu. Begitu juga dengan Dony Jumhana yang bekerja di sebuah perusahaan vendor salah satu perusahaan telekomunikasi ternama. Ia memelihara sekitar 20 merpati hias di halaman rumahnya.

Premium
Menurut Frans, hingga kini di tanahair setidaknya sudah ada 70 jenis merpati hias yang dipelihara para pehobi dari total 500 jenis di dunia. Dari jumlah itu sebagian besar diimpor dari negara-negara di Benua Eropa. Harga merpati hias bervariasi tergantung kelangkaan dan tingkat kebaruan jenis. Beberapa pehobi mengoleksi jenis-jenis premium. “Harga tinggi biasanya untuk jenis merpati hias yang tergolong baru,” ujar Frans.

Oncelo, misalnya, memelihara jenis silver lahore—warna bulu bagian atas kepala hingga tengkuk dan sayap berwarna abu-abu perak berkombinasi dengan putih. Menurut Oncelo merpati endemik Lahore, Pakistan, itu tergolong masih sedikit pemiliknya di tanahair. “Jenis lahore yang sudah banyak beredar berbulu kombinasi hitam putih dan cokelat putih,” kata Oncelo. Harga anakan silver lahore berumur 1,5 bulan atau baru saja lepas sapih mencapai Rp3-juta—Rp5-juta per pasang.

Pernikahan M Eka Sudrajat bertema merpati.

Pernikahan M Eka Sudrajat bertema merpati.

Jenis lain yang tergolong premium adalah jenis modern oriental frill (MOF) blondinette milik Frans. Ciri khas merpati itu adalah paruhnya yang sangat pendek sehingga hampir rata dengan hidung. Paruh bagian atas tampak melengkung sehingga menyerupai paruh burung paruh bengkok. Bulu di sekujur tubuh berwarna dengan pola batik atau sering disebut batikan. Itulah yang membedakan dengan merpati jenis oriental frill lain seperti santinette. Batikan biasanya hanya terdapat pada sayap dan ekor, sedangkan sisanya putih.

Baca juga:  Tergoda Dara Cantik

Jenis lain yang tak kalah unik adalah french mondain, seperti milik Prihardjono. Menurut Jojo—sapaannya—merpati itu tergolong jenis berukuran jumbo dengan bobot tubuh mencapai 700—1.000 g per ekor. Oleh sebab itu, french mondain cocok sebagai merpati pedaging. Namun, hingga kini belum ada yang memelihara dalam skala besar. “Populasinya masih terbatas. Sementara restoran menginginkan pasokan yang kontinu,” ujar Jojo.

Membusung
Merpati jenis holle cropper koleksi Frans juga tak kalah menawan. Ciri khas satwa anggota famili Columbidae itu dadanya menggembung. Ketika dadanya membusung kepala tampak seperti tenggelam. Dengan berbagai ciri khas yang unik nan cantik, maka pantas bila jumlah pehobi merpati hias terus bertambah.

 Ignatius Wiyono P, hobi merawat merpati hias meski separuh tubuhnya lumpuh akibat serangan stroke.

Ignatius Wiyono P, hobi merawat merpati hias meski separuh tubuhnya lumpuh akibat serangan stroke.

Mereka pun mengekspresikan kecintaannya pada klangenan dengan cara beragam. Frans, misalnya, membangun deretan kandang merpati dengan berbagai model seperti kandang baterai dan komunal di halaman rumah seluas 1.500 m2. Tema merpati menjadi pilihan M Eka Sudrajat saat menggelar pesta pernikahannya. Ia menempatkan sebuah hiasan berupa kandang berisi sepasang merpati jenis capuchine di bagian depan pelaminan.

Harap mafhum merpati memang menjadi simbol kesetiaan. Ke mana pun terbang, ia kembali ke kandang karena pasangannya yang setia telah menanti. Ketika hendak membuat sarang, jantan dan betina juga saling bekerja sama. Saat pernikahan itu, Sudrajat membentuk mas kawin berupa uang mirip sosok sepasang merpati. Semua itu mereka lakukan demi cintanya pada sang burung yang juga menjadi simbol perdamaian itu. (Imam Wiguna)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *