Ragam warna siklid dalam satu akuarium terlihat indah

Ragam warna siklid dalam satu akuarium terlihat indah

Bryan Lee Heryanto terpikat siklid karena keindahan warnanya.

Tubuhnya kuning keemasan laksana matahari terbit. Ia makin elok dengan semburat jingga di punggung dan garis hitam vertikal di tubuh. Itulah corak Pundamilia nyererei. Ukuran ikan itu hanya sebesar dua jari orang dewasa. Namun, pesonanya menyihir pehobi siklid di dunia. Pundamilia banyak beredar di klub-klub pencinta siklid Amerika Serikat. Sementara di Indonesia, masih sedikit pehobi yang memeliharanya.

“Saya tertarik pada pundamilia karena warnanya yang seperti pelangi atau rainbow,” kata Bryan Lee Heryanto, pehobi siklid di Jakarta Barat. Pundamilia digadang-gadang sebagai siklid yang memiliki paling banyak warna di antara ikan sejenis di habitat aslinya di Danau Victoria, Tanzania. Bryan memperoleh siklid rainbow pada medio November 2013. Saat itu Hermanus J Haryanto, sang ayah, membeli ikan itu dari peternak di Thailand.

Pundamilia nyererei bercorak seperti pelangi

Pundamilia nyererei bercorak seperti pelangi

Penangkaran

Sejatinya pundamilia bukan barang baru. Ia pertama kali ditemukan oleh ELM Witte-Maas dan F Witte pada 1985. Nama spesies ikan itu, nyererei mengacu pada nama Presiden Tanzania pada 1964—1985, Mwalimu Julius Nyerere. Koleksi siklid Bryan bukan hanya pundamilia. Pada April 2013 pehobi cilik berusia 13 tahun itu juga mengoleksi siklid dragon blood. Ikan itu juga tidak kalah istimewa dibanding pundamilia.

Jika dilihat keseluruhan ikan itu berwarna merah muda. “Itu yang membuat saya tertarik dengan dragon blood. Mirip ikan mainan,” ujar sulung dari 3 bersaudara itu. Bagian tengah tubuh satwa air itu putih, sedangkan kepala merah muda. Selain itu bulatan merah muda tersebar di bagian ekor, sirip atas, dan bawah. Menurut Bryan saat ini di Indonesia kemungkinan pemilik dragon blood itu hanya dirinya.

Siklid OB memiliki bercak hitam

Siklid OB memiliki bercak hitam

Menurut Hermanus yang juga penangkar cupang dan guppy, dragon blood kemungkinan siklid hibrida yang gennya stabil. Ia menduga darah siklid dari jenis aulonocara itu menitis pada dragon blood. Itu terlihat dari tubuh yang pipih dan tidak memanjang. Siklid lain milik Bryan adalah orange blotched (OB) atau marble. Siklid itu disebut marble jika terdapat bulatan atau bercak warna tertentu di tubuh. Siklid OB itu memiliki bercak hitam.

Baca juga:  Kefir Atasi Hipertensi

Yang tak kalah menarik ialah siklid albino zebra. Ikan itu berwarna kuning pada bagian bawah dan di tepi setiap sirip. Tubuh bagian atasnya merah muda. Yang paling beda mata siklid itu merah karena albino. Lazimnya mata ikan itu hitam. “Sifat albino jarang ditemukan,” kata pehobi kelahiran Jakarta itu.

Pada waktu yang sama ia juga mendatangkan siklid lemon Neolamprologus leleupi. Satwa yang diidentifikasi ahli ikan asal Belgia, Max Fernand Leon Poll, itu berwarna jingga kekuningan. Bryan tertarik mengoleksi ikan asli Danau Tanganyika, Tanzania, itu karena warnanya menarik.

Warna jingga Dragon blood mirip ikan mainan

Warna jingga Dragon blood mirip ikan mainan

Total jenderal Bryan memiliki 200 siklid terdiri atas 20 jenis. Sebut saja Nimbochromis venustus, Sciaenochromis fryeri, dan Pseudotropheus demasoni. Yang disebut pertama berasal dari Danau Malawi, Tanzania. “Venustus merupakan siklid paling umum dipelihara di akuarium,” kata Bryan.

Pseudotropheus demasoni pun berasal dari Danau Malawi. Siklid itu berwarna kombinasi biru muda, biru tua, dan putih. Warna biru tua mendominasi tubuh demasoni. Sementara garis vertikal di tubuh berwarna biru muda. Warna putih terlihat di tepi setiap sirip ikan yang ditemukan Ad Konings pada 1994 itu. “Saya tertarik ikan ini karena kombinasi warnanya enak dipandang,” kata Bryan yang juga pehobi gecko itu.

Pelet

Bryan Lee Hariyanto kesengsem aneka siklid karena warnanya

Bryan Lee Hariyanto kesengsem aneka siklid karena warnanya

Sciaenochromis fryeri lazim disebut siklid electric blue karena sekujur tubuhnya biru menyala. Bryan membeli siklid itu pada April 2013. Sayang, kini electric blue milik Bryan mati semua. “Saat itu saya baru mulai memelihara siklid sehingga tidak mengetahui cara merawat yang benar,” ujar Bryan yang juga menyenangi kucing.

Aneka siklid itu hidup nyaman di 3 akuarium berbeda. Satu akuarium berukuran 80 cm x 50 cm x 40 cm berisi 30 siklid terdiri atas 6 spesies. Memandangi akuarium itu menyejukkan mata. Betapa tidak, siklid aneka warna bercampur baur dalam satu tempat membuat kombinasi warna yang indah. Itu yang membuat Bryan betah memandangi akuarium kaca itu selama 30 menit pada sore hari. Di habitat asli siklid, alga sumber pakan utama.

Siklid albino zebra jarang ditemukan sehingga langka

Siklid albino zebra jarang ditemukan sehingga langka

Di akuarium menunya diganti pelet dan cacing darah alias bloodworm. Bryan memberikan 4 genggaman tangan pelet khusus ikan hias sebanyak 3 kali sehari. Pelet juga berfungsi mencerahkan warna. Sementara pemberian cacing darah beku sekali sehari pada pagi secukupnya. “Bloodworm bikin ikan tidak cepat lapar,” kata siswa kelas 2 sekolah menengah pertama Santa Theresia Menteng itu.

Baca juga:  Kentang Tahan Hawar Daun

Bryan kepincut siklid sejak Desember 2012. Bryan pertama kali menjumpai siklid di pasar ikan di Jalan Kartini, Jakarta Pusat. Saat itu Bryan mengantar sang ayah membeli pakan arwana. Di sebuah toko, ia melihat ikan seukuran telunjuk orang dewasa yang tubuhnya kuning. Penjaga toko mengatakan itu siklid. Bryan pun membeli siklid lemon sepanjang 2,5 cm itu seharga Rp5.000. Sejak itu Bryan terus menambah koleksi siklidnya. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d