Terlezat Setara 5 Gram Emas 1
Daging buah matang merata hasil penanaman secara organik

Daging buah matang merata hasil penanaman secara organik

Harga durian lezat Rp3-juta per buah.

Suasana Bangkok, Thailand, begitu mencekam. Perdana Menteri Yingluck Shinawatra akhirnya bertekuk-lutut oleh kudeta militer pada pengujung Mei 2014. Siapa sangka di era darurat militer Thailand itu lahir durian termahal di dunia: Rp3,61-juta per buah. Saking mahalnya, sampai-sampai tiga penjaga mengawasi ketat tiga durian kanjau berbobot 3 kg itu. Tali mengelilingi si raja buah yang total nilainya Rp10,83-juta itu. Hanya yang serius membeli dan mencicip yang boleh mendekat.

Beberapa kali penjaga menegur pengunjung yang memotret tanpa izin. Mereka boleh memotret dari jauh dengan perjanjian hanya untuk koleksi pribadi. “Orang Thailand disiplin tak berani mendekat. Mereka hanya melihat dari kejauhan saja,” kata Dr Lutfi Bansir SP MP, ahli durian yang melihat langsung durian itu dijajakan. Menurut Adi Gunadi MBA, pehobi durian dari Jakarta, durian kanjau itu dibanderol selangit karena baru saja memenangkan kontes di Festival Durian Thailand 2014 di Chantaburi.

Tiga terbaik
Sebelumnya kanjau juga meraih gelar durian favorit di Nonthaburi, Thailand. Di ajang bertajuk Chan Terbaik dan Festival Durian Dunia 2014 itu durian berkualitas dari berbagai daerah di Thailand diadu. Chan diambil dari kata Chantaburi, nama sentra durian di Negeri Siam. Tiga kelompok durian terbaik Thailand: monthong, chanee, dan kanjau diadu sesamanya. Kanjau juara pada Festival Durian Dunia itu dibanderol 10.000 bath setara Rp3,9-juta. Padahal biasanya, harga per buah hanya 3.000—7.000 bath.

Tiga maniak durian tanahair memburu kanjau terlezat ke Thailand

Tiga maniak durian tanahair memburu kanjau terlezat ke Thailand

Maklum, sejak dirilis pemerintah Thailand pada era 80-an ketiga jenis durian itu memiliki banyak varian. Monthong artinya bantal emas disematkan sebagai nama untuk kelompok durian berdaging tebal dengan biji kempis. Sementara chanee julukan kelompok durian dengan warna daging buah kuning mencolok. Chanee artinya gibon alias siamang karena durian itu paling disukai kera. Terakhir kanjau kelompok durian bertangkai buah panjang.

Baca juga:  Jagung Multimanfaat

Di antara ketiga kelompok besar itu monthong paling adaptif. Chanee sosoknya paling menarik. Sementara kanjau yang terlezat. “Durian mahal itu yang terlezat di antara yang paling lezat,” kata Adi yang berprofesi sebagai pengusaha di bidang teknik itu. Di tanahair monthong paling banyak dikembangkan pekebun karena gampang beradaptasi tanpa bergeser kualitas buahnya. Sementara chanee dan kanjau yang ditanam di daerah tropis mudah terserang penyakit Phytophthora sp sehingga buahnya jarang muncul di toko buah modern.

Tetap aman
Lezatnya durian termahal di dunia itu disaksikan 3 maniak tanahair—Dr Lutfi Bansir SP MP, Adi Gunadi MBA, dan Syahril M Said yang berkunjung pada 30 Mei—5 Juni 2014. Mereka nekat bertandang di tengah situasi darurat militer atas jaminan seorang kolega warga Thailand bernama Nutticha Udta. Menurut Nutticha Udta, militer menjamin layanan pemerintah dan aktivitas masyarakat sipil berjalan aman.

Kanjau Rp3,61-juta. Durian terlezat di antara yang paling lezat

Kanjau Rp3,61-juta. Durian terlezat di antara yang paling lezat

Lantaran aman itulah ketiga maniak durian itu leluasa “blusukan” di Negeri Siam untuk mencari jenis durian juara di kebun. Mereka akhirnya berhasil mencicip durian termahal itu dengan harga terjangkau Rp300.000 per buah. Rasanya memang benar-benar luar biasa; “Tekstur buah lembut dengan rasa gurih di lidah. Bahkan, citarasa umaminya terasa melekat di lidah hingga ke tenggorokan,” kata Lutfi. Rasa kanjau juara itu jauh lebih lezat dibanding kanjau yang dicicip di pasar Bangkok atau di tanahair.

Pemenang kategori kanjau diraih durian milik K Nittaya Kamolnun. Sementara kelas monthong direbut oleh Basuanlung Chaluay dan kelas chanee dimenangkan Ms Orawan Ratthumnuwong. Ketiganya berasal dari Chantaburi.

Pekebun durian Thailand menerapkan bertani organik

Pekebun durian Thailand menerapkan bertani organik

Durian organik
Di Chantaburi 3 maniak itu juga mengunjungi kebun durian organik terbaik di Thailand. Maklum, seperti di belahan dunia lain, demam organik pun melanda hingga ke pekebun Durio zibethinus di Negeri Siam. Sebut saja di Nakhon Nayork Durian Orchad. Di sana mereka mencicip lezatnya durian med nai kra dum. Durian itu daging buahnya berwarna kuning memikat. Rasanya lembut seperti krim, dengan sedikit citarasa pahit.

Baca juga:  Panen Stoberi di Halaman

Durian organik lain yang tak kalah lezat adalah kleep sa mud dan puang ma nee. Yang disebut pertama manis, lembut, dengan rasa susu. Sementara yang terakhir bercampur rasa pahit. “Meski dipupuk organik, kualitas buah tak kalah dengan kebun yang dipupuk anorganik,” kata Syahril M Said, maniak yang juga penangkar buah di Bogor, Jawa Barat, itu.

Puang ma nee, teksturnya lembut dengan citarasa susu dan pahit

Puang ma nee, teksturnya lembut dengan citarasa susu dan pahit

Menurut Syahril, secara umum kebun durian organik di Thailand terbagi menjadi 2 kategori: modern dan tradisional. Kebun organik modern umumnya memanfaatkan pupuk hijau—daun durian dan gulma —serta pupuk kandang yang diaktivasi mikroorganisme dan enzim. Bahan organik difermentasi di tempat khusus hingga siap dibenamkan di bawah tajuk. Kebun organik modern menghasilkan buah dengan kualitas seragam lantaran unsur hara sudah siap diserap tanaman. Sebut saja durian kanjau organik di Nonthaburi dengan kualitas rasa yang tetap prima sehingga tetap diburu mania.

Menurut Adi, durian menarik lain nya adalah nok kra jib alias tailor bird. Sosok buah kecil. Daging buah kuning pekat dan tebal dengan tekstur lembut tanpa serat. “Ini favorit saya karena lezat dan belum dikebunkan besar-besaran,” kata Adi. Ia sudah mencicip nok kra jib di Rayong dan Chantaburi. Sebaliknya, menurut Lutfi, beberapa kebun organik tradisional masih mengandalkan teknik sederhana. Bahan organik mentah dibenamkan di sekeliling tajuk hingga matang. Pada kasus itu, menurut Lutfi, kualitas buah seperti kebun di tanahair yang tanpa perawatan. “Daging buah matangnya tidak merata,” kata Lutfi. (Destika Cahyana, kontributor Trubus)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *