Empat durian terbaik di Magetan, Jawa Timur. Citarasa mirip musangking.

Rasa manis sedikit pahit dengan kualitas setara monthong

Rasa manis sedikit pahit dengan kualitas
setara monthong

Prof Sumeru Ashari ingat betul ketika seorang pencinta durian, Drs Suparno MM, asal Magetan tergopoh-gopoh datang ke ruangannya di Durian Research Centre (DRC) Universitas Brawijaya. Suparno mengeluhkan kualitas durian di Poncol, Kabupaten Magetan, Jawa Timur, yang beragam. “Durian asal Poncol yang muncul di pasaran berdaging tipis. Rasanya juga tidak bisa ditebak. Kadang manis dan legit, tapi lebih banyak lagi yang hancur-hancuran,” kata Suparno mengadu.

Sambil mengeluh Suparno menjinjing 2 durian masing-masing sebuah dari Kecamatan Plaosan dan Kecamatan Poncol—keduanya di Kabupaten Magetan.untuk oleh-oleh bagi Sumeru, guru besar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya. Sumeru lantas memanggil staf DRC untuk menguji durian yang dibawa Suparno. Begitu mencicip durian itu, anggota staf DRC melongo. “Lo yang ini luar biasa. Daging tebal, manis, legit, kering, tapi begitu nempel di lidah rasanya terasa lengket,” kata Dr Lutfi Bansir, anggota staf DRC.

Jagoan baru

Belakangan diketahui durian itu milik Saman di Desa Plangkrongan, Kecamatan Poncol. Sementara yang asal Plaosan adalah durian tawing asli Magetan yang sudah terkenal. Sayang, ketika itu kondisi tawing tidak maksimal (baca: Getar Tawing di Kaki Gunung Lawu, Trubus Juni 2010). Di pertemuan itu mereka lalu merancang pengembangan durian saman melalui sambung pucuk. Mereka juga berniat menguji durian itu dengan durian lain di Magetan melalui ajang lomba yang bakal digelar 5 tahun kemudian. “Hipotesisnya durian ini akan menang bila diadu. Jadi begitu menang, produksi buah sudah siap,” kata Suparno.

Rasa creamy nan lezat, jawara ketiga

Rasa creamy nan lezat, jawara ketiga

Sebaliknya bila muncul durian terbaik lain dari ajang lomba, maka teknik sambung pucuk yang diperkenalkan pada masyarakat Poncol sudah terbukti. Sang juara baru pun akan dikembangkan di Poncol. Panitia akhirnya menggelar lomba durian di kecamatan yang memiliki populasi 10.000 pohon durian itu pada pengujung Maret 2014. Sebanyak 44 durian terbaik dari Magetan Durian Saman, andalan Magetan pun berdatangan. Namun, panitia mengubah metode penilaian berdasarkan kesepakatan 5 juri.

Baca juga:  Khasiat Kian Kuat

Durian saman yang mesti berlomba urung jadi peserta. Ia akan dibagikan ke pengunjung untuk dibandingkan dengan juara yang muncul di kontes. “Kami ingin penilaian durian berdasarkan lidah kebanyakan, bukan hanya pilihan juri yang jumlahnya terbatas,” kata Suparno. Dari 44 durian peserta tim juri—Prof Sumeru Ashari, Dr Lutfi Bansir, Chanif Tri Wahyudi, Margono, dan Johan—menyeleksi 5 terbaik. Mereka lalu menguji kembali 5 durian terbaik secara tertutup.

Pesaing musangking dengan rasa manis dan bercitarasa umami

Pesaing musangking dengan rasa manis dan
bercitarasa umami

Hasilnya? Durian milik Yudi dari Alastuwo, Kecamatan Poncol, jadi yang terbaik. Durian bernomor 3 itu rasanya sangat manis, mirip manisnya durian monthong asal Thailand. Bedanya di ujung lidah terasa sedikit pahit. Ketebalan daging buah sedang sehingga layak jadi juara. Di posisi kedua durian milik Jarwo Nugroho asal Desa Pacalan, Kecamatan Plaosan, tak kalah lezat. Bedanya rasa pahitnya lebih dominan ketimbang manisnya sehingga bagi penggemar kebanyakan terasa aneh.

“Ini lebih cocok buat para maniak yang kerap berburu durian lokal. Untuk pasar terbuka agak kurang karena peminatnya sedikit,” kata Chanif Tri Wahyudi yang juga menjabat Camat Poncol. Sementara di posisi ketiga durian milik Sadinah dari Desa Puntukdoro, Kecamatan Plaosan. Yang disebut terakhir rasanya creamy.

Terbukti

Berikutnya panitia menyodorkan 3 durian juara itu—plus durian saman—kepada pekebun dan pengunjung lomba untuk menentukan durian favorit. Ternyata ramalan Sumeru dan Suparno terbukti. Nyaris semua pencicip memilih durian saman sebagai favorit. Menurut Lutfi kelebihan saman terletak pada warna yang lebih kuning sehingga memikat pengunjung. Begitu dicicip di lidah juga muncul nuansa umami alias gurih. “Kualitasnya setara musangking. Sementara sang juara pertama setara monthong,” kata Lutfi.

Rasa dominan pahit disukai maniak durian

Rasa dominan pahit disukai maniak durian

Menurut Lutfi bukti itu menjadi kabar gembira buat Pemerintah Kabupaten Magetan yang membuat 200 sambung pucuk durian saman sebagai percontohan. Belum lagi perbanyakan yang dilakukan swadaya masyarakat setempat sebanyak 4.800 pohon. “Setahun dua tahun ke depan sudah bisa panen. Begitu menang, masyarakat tidak perlu lama untuk mencicipnya,” kata Lutfi.

Baca juga:  Lompatan Pertanian Nipon

Sukses Magetan menemukan durian lokal untuk dikembangkan secara seragam itu bagai mengulang kisah sukses Magetan mengembangkan jeruk besar. Lima belas tahun silam kabupaten yang berbatasan dengan Madiun itu menjadi sentra jeruk besar tapi dengan kualitas yang beragam. Setelah melakukan seleksi secara swadaya dibantu instansi terkait Magetan berhasil mengembangkang hanya 3 varietas saja.

Mimpi Prof Sumeru Ashari 5 tahun silam terwujud sudah. Sejak lama guru besar Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya itu mendengar Poncol gudang durian di Kabupaten Magetan, Provinsi Jawa Timur. Kini dari Poncol muncul 4 durian terbaik yang menggetarkan lidah. Satu durian setara musangking, yang lain sejajar monthong bernuansa lokal. (Destika Cahyana, peneliti di Kementerian Pertanian)

FOTO:

  1. Rasa manis sedikit pahit dengan kualitas setara monthong
  2. Rasa creamy nan lezat, jawara ketiga
  3. Rasa dominan pahit disukai maniak durian
  4. Suasana kontes durian Magetan 2014
  5. Pesaing musangking dengan rasa manis dan bercitarasa umami

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d