Show king koleksi Frans Wibawa.

Show king koleksi Frans Wibawa.

Aneka jenis merpati hias baru terus bermunculan.

Merpati ukrainian skycutter memiliki kemampuan unik. Ia satu-satunya jenis merpati yang mampu terbang di tempat, seperti helikopter. Merpati asal Semenanjung Krimea, Ukraina selatan, itu biasanya terbang di tempat sambil bergerombol membentuk formasi tertentu di angkasa. Keunikan itulah yang membuat Frans Wibawa Pribadi tergiur untuk mengoleksinya.

Penampilan bulu ukrainian skycutter sebetulnya mirip merpati biasa. Menurut Frans ciri khas ukrainian skycutter dapat dilihat dari bulu sayapnya yang panjang. Panjang sayap merpati itu sampai ke ujung ekor. Pria kelahiran 29 Januari 1968 itu menduga ukuran sayapnya itulah yang membuatnya memiliki kemampuan terbang unik.

Norwich cropper memiliki ukuran dada fantastis, bisa mencapai 30—40% ukuran tubuhnya.

Norwich cropper memiliki ukuran dada fantastis, bisa mencapai 30—40% ukuran tubuhnya.

Dada menggembung
Ukrainian skycutter hanya salah satu merpati hias koleksi Frans. Sejak 2013 pria asal Tanah Sereal, Kota Bogor, Jawa Barat, itu getol mengoleksi aneka jenis merpati hias. Merpati hias favorit Frans lainnya adalah jenis show king asal Amerika Serikat. “Bentuknya bulat, terlihat lucu seperti badut,” katanya. Merpati hias ini termasuk jenis yang baru masuk ke Indonesia sehingga harganya relatif mahal.

Harga seekor merpati show king mencapai Rp5-juta. “Pernah ada yang menawar lebih tinggi daripada harga pasaran, tapi saya tidak melepasnya karena berencana menjadikannya indukan,” katanya. Jenis lain yang tak kalah unik adalah jenis norwich cropper. Ciri khas hewan anggota famili Columbidae itu adalah dadanya yang menggembung seperti balon.

Pada saat menggembung ukuran dada merpati asal Norwegia itu bisa mencapai 30—40% ukuran tubuhnya. Daya tarik lain norwich crooper adalah corak bulunya yang beragam. “Corak pada ekor, sayap, dan dada memberi nilai lebih jika diikutkan kontes,” kata ayah 3 anak itu. Harga norwich cropper kualitas impor tergolong premium, yakni mencapai Rp7-juta—Rp12-juta per ekor.

Baca juga:  Menikmati Laba Merpati dan Lele

Alumnus Fakultas Ekonomi Universitas Tarumanagara itu juga mengoleksi aneka jenis merpati reversewing. Keunikan merpati hias itu adalah bulu yang tumbuh di kakinya atau kerap disebut simbar. Terkadang simbar itu tumbuh sangat panjang sehingga menutupi jari-jari kakinya. Saking panjangnya terkadang malah menyulitkannya untuk berjalan atau hinggap. Beberapa pehobi terkadang memotong simbar yang terlalu panjang.

Reversewing amat khas dengan bulu yang tumbuh di kakinya atau simbar.

Reversewing amat khas dengan bulu yang tumbuh di kakinya atau simbar.

Menurut Frans jika memelihara jenis reverswing atau merpati hias lain yang bersimbar mesti rajin menjaga kebersihan kandang. Pasalnya, simbar yang panjang sering kali kotor oleh kotoran yang terinjak merpati. Penampilan reverswing makin cantik dengan corak bulu ekor, sayap, dan kepala yang beragam. Corak pada bulu kepala biasanya terlihat menyerupai topi. “Orang awam pun pasti menilai reversewing sebagai merpati yang menarik,” kata pria 47 tahun itu.

Intensif
Koleksi merpati hias Frans lainnya adalah jenis english carrier. “Dulu orang inggris sering menjadikan english carrier sebagai pengirim surat, tapi kalah pamor dengan merpati pos,” katanya. Ciri khas english carrier adalah tonjolan pada paruhnya. Semakin besar tonjolan pada paruh, maka merpati itu semakin unik.

Ayah tiga anak juga memelihara merpati jenis king u. “Di Amerika Serikat king u dijadikan merpati konsumsi, tapi saya memeliharanya sebagai merpati hias,” katanya. Ia menjadi merpati konsumsi karena berukuran jumbo. Bobot merpati berumur setahun mencapai 700—900 gram per ekor. Warna bulunya yang putih bersih turut menjadi daya tarik merpati itu.

Frans merawat seluruh koleksi merpati hias itu secara intensif. Sebagai sumber nutrisi ia memberikan pakan berupa campuran beras, jagung, vur, dan ekstrak kacang hijau. Ia memberi makan merpati hias 2—3 kali sehari. “Untuk merawat bulu saya memberikan minyak ikan seminggu 2 kali” kata Frans yang juga menangkarkan beragam ikan hias itu.

Frans Wibawa, ketua Indonesia Fancy Pigeon Community wilayah barat.

Frans Wibawa, ketua Indonesia Fancy Pigeon Community wilayah barat.

Setiap pehobi memiliki tip perawatan berbeda untuk setiap merpati hias koleksinya. Robert Hardianto, misalnya, memberi tambahan beras merah untuk pakan merpati. Menurut Robert, penambahan beras dapat meningkatkan kualitas telur. “Hampir 90% kualitas telur bagus dan berhasil menetas,” kata ayah 2 anak itu.

Baca juga:  Cat Tumpah di Daun Keladi

Menurut Robert perawatan merpati hias relatif mudah. Cukup berikan pakan 3 kali sehari dan mengganti air 3 hari sekali. Perawatan lain yang harus dilakukan adalah menjaga kebersihan kandang untuk mencegah pertumbuhan cendawan dan bakteri. Prihardjono, pehobi merpati hias di Bintaro, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, memberikan vitamin untuk ayam untuk meningkatkan daya tahan tubuh merpati hias. “Sementara ini vitamin ayam bisa digunakan karena belum ada pakan dan vitamin khusus untuk merpati hias,” katanya.

Tren
Menurut Frans, hingga kini merpati hias baru terus bermunculan. Hal itu seiring terus bertambahnya para pehobi merpati hias. “Setiap pehobi memiliki jenis favorit sendiri,” kata ketua Indonesian Fancy Pigeon Community (IFPC) wilayah barat itu. Bahkan saat ini para penggemar jenis tertentu juga membentuk komunitas. “Ada komunitas kipas, reversewing, dan lain-lain. Namun, semua komunitas masih di bawah naungan IFPC,” katanya.

King u koleksi Frans Wibawa, bobotnya bisa mencapai 700—900 gram pada umur 1 tahun.

King u koleksi Frans Wibawa, bobotnya bisa mencapai 700—900 gram pada umur 1 tahun.

Anggota grup di media sosial juga terus bertambah. Hanya dalam hitungan bulan, anggota grup penggemar merpati hias mencapai 2.000-an pehobi dan terus bertambah setiap hari. Menurut Robert membeludaknya penggemar merpati hias mendorong terselenggaranya kontes merpati hias. “Kontes terdekat akan diselengarakan pada Agustus 2015 di Blitar, Jawa Timur,” katanya.

Menurut Frans tren merpati hias akan bertahan lama karena ragam jenis merpati hias baru terus bermunculan. Belum lagi para penangkar yang getol mengawinsilangkan merpati hias untuk menghasilkan jenis baru. “Para penangkar bisa menghasilkan pola, balon, paruh, atau simbar yang berbeda-beda,” katanya.

Baca juga:  Laba Asal Dara

Keseruan lain dari hobi klangenan itu adalah berburu jenis baru. Frans kerap berkunjung ke luar negeri hanya untuk mencari merpati hias. Jenis baru yang didatangkan harganya masih tinggi karena kelangkaannya. “Hobi ini menyenangkan dan juga bisa menjadi ladang bisnis menggiurkan,” katanya sambil tersenyum. (Muhamad Fajar Ramadhan/Peliput: Imam Wiguna)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d