Prestasi puncak Cointreu meraih gelar best of the best di kontes internasional

Prestasi puncak Cointreu meraih gelar best of the best di kontes internasional

Cointreu meraih best of the best di kontes lou han internasional.

Para pehobi lou han menjuluki Cointreu sebagai legenda. Selama adu cantik-cantikan lou han sepanjang 2013—2014 cinhua berumur 16 bulan itu tidak mendapat lawan sepadan. Cointreu menunjukkan prestasi gemilang bukan hanya saat kontes nasional. Bahkan, pada kontes internasional, Cointreu pun meraih gelar best of the best mengalahkan 75 lou han lainnya dari 6 negara antara lain Thailand, Singapura, dan Amerika Serikat.

“Meskipun penampilannya sedikit menurun, tapi kontestan lain belum ada yang bisa menyaingi,” ujar Hadi Senjaya, juri asal Indonesia. Penampilan Cointreu yang selalu terlihat prima serta stamina stabil membuat tiga juri dari negara berbeda sepakat menobatkannya menjadi best of the best. “Secara fisik Cointreu bisa dibilang mendekati sempurna. Bentuk tubuh, nongnong, dan mulutnya proporsional,” ujar Vincent Ho, juri asal Singapura.

Bumble Bee menjadi kampiun di kelas cinhua B dan meraih gelar best colour

Bumble Bee menjadi kampiun di kelas cinhua B dan meraih gelar best colour

Baru
Pemilik Cointreu, Hatta Gunawan tidak memberikan pakan khusus untuk klangenannya itu. “Menjelang kontes, Cointreu diberi pakan 3 jangkrik dan beberapa pelet mengandung spirulina dan kareotonoid,” ujar Hatta yang sehari-hari memberikan pakan potongan udang dan cacing beku itu. Dengan resep itu stamina Cointreu selalu baik sepanjang kontes meskipun usianya 16 bulan.

“Kelincahan merupakan salah satu kunci menjadi juara,” kata Hadi Senjaya. Hatta sempat ingin mengistirahatkan dan menjadikan Cointreu sebagai indukan untuk mencetak anakan lou han unggul. Namun, penampilan Cointreu yang mendapat julukan makin tua makin jadi itu membuatnya berubah pikiran. Pehobi yang tergabung dalam Stars itu pun tetap mengikutkan Cointreu dalam kontes internasional.

Baca juga:  Julio Caesar: Datang, Tanding, Menang

Pilihannya memang tepat. Terbukti Cointreu tetap meraih prestasi gemilang. Menurut Hadi, pada kontes internasional itu ada beberapa lou han baru yang memiliki keistimewaan. Bumble Bee, misalnya, kampiun dari kelas cinhua B itu memiliki mutiara yang indah. Lou han berumur 7 bulan milik Jaya Raja dari Samarinda, Kalimantan Timur, itu baru 2 kali mengikuti kontes. Sebelumnya Bumble Bee hanya mampu meraih juara 3.

Pertama kali ikut kontes, Si Raib menjadi kampiun di kelas cencu A

Pertama kali ikut kontes, Si Raib menjadi kampiun di kelas cencu A

“Nongnongnya kurang besar sehingga poin untuk kepalanya kecil,” kata Hadi Senjaya. Namun, Bumble Bee memiliki warna tubuh yang indah, yaitu merah terang sehingga membuat mutiara yang bertaburan di sekujur tubuh terlihat kontras. Pantas jika Bumble Bee juga merengkuh gelar best colour pada ajang internasional itu.

Pesaing berat lainnya bagi Cointreu yaitu Si Raib milik Rian Nugraha asal Bandung, Jawa Barat. Lou han berwarna merah dan jingga itu diberi nama Si Raib oleh pemiliknya lantaran pernah hilang. “Pegawai saya menjualnya tanpa sepengetahuan saya,” kata Rian yang kembali menemukan Si Raib pada September 2014 itu. Dalam debut pertamanya itu Si Raib meraih juara ke-1 di kelas cencu A. Pehobi yang tergabung dalam tim Galaxy itu hanya memberikan pakan berupa 3 balok cacing dan pelet setiap harinya. Selain itu, ia pun memberikan udang sebagai selingan saban 2 kali dalam seminggu.

Eksis
Kontes yang diselenggarakan pada 29 Oktober—2 November 2014 di Mal Living World, Alam Sutera, Serpong, Tangerang Selatan, itu juga menobatkan lou han milik Alex dari tim Villa menjadi best pearl. Sementara lou han dari kelas free marking B milik Phuah CK asal Malaysia meraih gelar best head. Kampiun dari free marking A pun merengkuh gelar best body. Untuk lou han terbaik pilihan peserta jatuh pada golden base milik Juriz dari tim SSL.

Pemilik Cointreu, Hatta Gunawan(tengah) sangat bangga atas prestasi yang diraih Cointreu

Pemilik Cointreu, Hatta Gunawan(tengah) sangat bangga atas prestasi yang diraih Cointreu

Adu molek itu juga menjadi ajang pembuktian eksistensi lou han di Indonesia. Terbukti banyak pengunjung mal yang mulai tertarik lagi pada lou han. “Saya pikir lou han sudah tidak musim, ternyata masih ramai,” ujar Martin, pengunjung asal Serpong yang memboyong 2 anakan lou han. Menurut Reyvan Cliff, panitia, ramainya pengunjung yang tertarik untuk mengabadikan gambar lou han menjadi salah satu indikator bahwa lou han masih memiliki daya tarik yang besar.

Baca juga:  Kelinci Lokal Kampiun

Kualitas lou han tanahair pun mendapat acungan jempol dari pehobi lou han mancanegara. Menurut Sim Tan, juri asal Malaysia, lou han di Indonesia memiliki keberagaman dari segi kualitas. “Setiap tahun saya melihat selalu ada kemajuan yang signifikan dari lou han Indonesia,” ujar Sim Tan. Antusias para pehobi tanahair pun mengundang decak kagum. Sebab, di Malaysia dan Singapura kontes lou han hanya diadakan 1—2 kali dalam setahun. “Kami akan selalu berusaha mempertahankan kontes yang rutin diadakan setiap bulan,” kata Jimmy, panitia kontes. (Rizky Fadhilah)

 

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d