Terelok di Kontes Internasional

Terelok di Kontes Internasional 1

Cupang Betta imbelis menjadi yang terbaik di kontes internasional. Kohaku muda menjadi yang terelok di kontes koi.

Cupang peraih best of show milik Yudie Martino.

Cupang peraih best of show milik Yudie Martino.

Yudie Martino girang bukan kepalang saat ikan cupang miliknya berhasil menyabet gelar best of show pada even Tangerang International Betta Show 2016. Cupang Betta imbelis berwarna biru merah itu memukau dewan juri karena penampilan yang aduhai. “Ini gelar best of show kedua untuk ikan yang sama, sebelumnya pernah sekali mendapat best of show tahun lalu,” kata pria yang mengikutsertakan 90 cupang miliknya itu.

Menurut juri asal Swiss, Sabrina Dichne, betta milik Yudie layak menjadi yang terbaik karena penampilan fisik yang proposional dan simetris. Juri yang tiga kali berkunjung ke Indonesia itu menuturkan, peraih best of show kerap menunjukan pose terbaik saat penilaian. Itulah salah satu ciri ikan jawara. “Ikan juara menampilkan performa optimal, tak ragu bergaya di hadapan dewan juri,” kata Sabrina.

Borong juara

Cupang peraih best of giant mili Eric Tiu.

Cupang peraih best of giant mili Eric Tiu.

Pada kontes cupang internasional itu cupang milik Yudie lainnya juga sukses meraih gelar best of optional. Menurut Sabrina cupang berwarna biru tua itu memiliki keunggulan bentuk tubuh yang simetris dan aktif bergerak sehingga unggul dari para pesaingnya. Pada kontes yang diselenggarakan di halaman Mal Teraskota, Kota Tangerang Selatan, Provinsi Banten, itu koleksi Yudie memborong 4 gelar juara, yaitu best of show, best of variety A, best of variety B, dan best of opsional.

Sementara cupang miliki Eric Tiu, pehobi cupang asal Filipina, sukses mendapat gelar best of giant. Menurut Sabrina jawara best of giant unggul karena memiliki warna kontras dan penampilan fisik yang menawan. “Itu jenis giant terbaik pada kontes ini,” kata perempuan yang juga berprofesi sebagai model itu. Menurut juri sejak 2009 itu keseluruhan acara berjalan baik karena acara diatur sangat profesional.

Cupang peraih best of optional milik Yudie Martino.

Cupang peraih best of optional milik Yudie Martino.

Pada kontes itu ikan yang “disalon” seperti gunting sirip atau ekor agar terlihat menarik dilarang mengikuti kontes. “Kami menginginkan ikan yang cantik alami. Jika ada peserta melakukannya akan didiskualifikasi. Oleh sebab itu juri dituntut lebih jeli jika ada peserta yang bermain curang,” kata Sabrina.

Jaga air
Bagaimana rahasia perawatan ikan juara? Menurut Yudie kunci utama perawatan cupang adalah mengganti air secara rutin. “Saya rutin mengganti air setiap 3 hari 25—50% dari volume total dan mengganti air seluruhnya setiap pekan,” kata pehobi di Jakarta itu. Menurut Yudie kualitas air sangat berperan terhadap fisik ikan. Ia juga memberikan pakan berupa jentik nyamuk dan kutu air untuk meningkatkan performa ikan.

Walikota Tangerang Selatan,  Airin Rachmy Diani SH MKn MH.

Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmy Diani SH MKn MH.

“Hal lain yang tak kalah penting adalah olahraga dengan cara mendekatkan 2 akuairum ikan cupang berdekatan selama beberapa jam,” tutur Yudie. Namun, hindari olahraga ikan terlalu sering saat menjelang kontes karena bisa merusak fisik ikan saat kontes. Perawat ikan milik Eric Tiu, Ferry Luhur, melakukan cara yang sama. Ia juga rutin mengganti air per 3 hari.

Baca juga:  Kadatua Menari

Fery mengatakan, “Jika air bersih insang ikan pun akan baik sehingga penampilan ikan akan optimal.” Perawat ikan asal Kota Bandung, Jawa Barat, itu mempertahankan tingkat keasaman (pH) pada kisaran 6,8. “Pemberian pakan alami dan suplemen juga menunjang ikan selalu tampil prima pada kondisi terbaik,” katanya.

Internasional
Menurut ketua panitia kontes, Daniel Indarta, kegiatan pada tanggal 18—20 November 2016 itu hasil kerja sama antara Betta Club Indonesia, Asosiasi Pembudidaya Ikan Cupang Tangerang Selatan, dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan. Pada kontes itu 970 ikan dari 14 negara turut meramaikan acara. “Beberapa negara dari Inggris, Cekoslowakia, Jerman, Swiss, hingga Malta pun turut serta,” ujar Daniel.

565_-139Para juri sebagian besar berasal dari mancanegara, yakni 3 orang dari Swiss dan masing-masing seorang juri dari Malaysia, Singapura, dan Filipina. Daniel menambahkan, kontes itu memperebutkan hadiah total Rp150-juta. “Ini salah satu kontes cupang internasional dengan jumlah hadiah terbesar di dunia,” ujarnya. Daniel berharap kontes itu dapat memperkenalkan potensi ikan cupang Indonesia di mata dunia.

Kohaku milik Ceng Kwok Kwai asal Surabaya, Jawa Timur, meraih gelar grand champion (GC) pada 16th Blitar Koi Show.

Kohaku milik Ceng Kwok Kwai asal Surabaya, Jawa Timur, meraih gelar grand champion (GC) pada 16th Blitar Koi Show.

Menurut Walikota Tangerang Selatan, Airin Rachmy Diani SH MKn MH, kontes cupang internasional serangkaian kegiatan untuk memperingati ulang tahun Kota Tangerang Selatan. Mantan putri Indonesia favorit pada 1996 itu menambahkan dengan kontes internasional kelak bisa membuka keran ekspor lebih luas lagi untuk meningkatkan nilai ekonomi para peternak ikan hias, terutama ikan cupang.

“Jadikan acara ini tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai tuntunan yang bisa menjadikan inspirasi untuk melangkah jauh lebih maju lagi,” katanya. Menurut Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kota Tangerang Selatan, Drs Dadang Raharja, acara ini diharapkan menjadi dapat menambah nilai ekonomi para peternak cupang dengan mengekspor ikan hias ke mancanegara. “Semoga kedepannya ikan hias di Indonesia, terutama di Kota Tangerang Selatan, makin maju lagi,” katanya.

Kontes koi
Kompetisi yang tak kalah seru juga berlangsung di Kota Blitar, Provinsi Jawa Timur. Pada 18—20 November 2016 berlangsung kontes koi bertajuk 16th Blitar Koi Show. Pada kontes itu koi milik Ceng Kwok Kwai, kolektor dan penangkar koi asal Surabaya, Jawa Timur, sukses meraih gelar grand champion (GC). Yang luar biasa, ikan pemenang gelar paling bergengsi itu baru berumur setahun. “Umurnya masih muda, tetapi kualitasnya sudah bagus,” ujar Hari Nugroho, salah satu juri di kontes itu.

Doni Hartono (kiri) meraih juara umum, mendapatkan piala presiden.

Doni Hartono (kiri) meraih juara umum, mendapatkan piala presiden.

Menurut juri asal Tangerang itu koi berjenis kohaku milik Ceng Kwok Kwai memiliki banyak keunggulan, seperti bentuk tubuh yang proporsional, warnanya tegas, dan tampak seperti bersinar atau shiny. Juri lain, Reynaldo Vidella, berpendapat sama. “Peraih GC meraih nilai tertinggi karena sosok tubuhnya ideal, warnanya terang, dan kulitnya tampak shiny,” ujar juri asal Jakarta itu.

Baca juga:  Tarif Listrik & kemiskinan

Kohaku berpanjang tubuh 64 cm itu hasil tangkaran Ceng Kwok Kwai sendiri. “Umurnya masih setahun tetapi sudah layak ikut kontes dan akhirnya juara,” ujarnya. Itu adalah gelar grand champion pertama di ajang kontes koi. Menurut Kwai ada 3 kunci utama untuk menghasilkan koi berkualitas. “Pertama gen ikan itu sendiri, kedua faktor air, yang ketiga pakan,” ujar pemilik CKK Koi Farm itu.

Untuk menjaga kualitas air Cheng Kwok Kwai mengalirkan air baru setiap menit sebanyak 10% dari total air yang ada di kolam. Sebagai sumber nutrisi ia menggunakan pakan yang mengandung protein dan vitamin tinggi. Pakan yang bagus salah satunya dari tepung ikan. “Pemberian pakan saya mulai pukul 06.00. Kalau pakan habis dan ikan masih bernafsu, saya tambah terus hingga pukul 10.00,” kata Kwai.

Pada sore hari ia memberi pakan lagi sejak pukul 15.00—18.00. Namun, Ceng Kwok Kwai mewanti-wanti pemberian pakan seperti itu dapat dilakukan jika kualitas air bagus. “Kalau kualitas air jelek, ikan tidak mau makan,” tambahnya. Pada kontes yang digelar Blitar Koi Club (BKC) itu Doni Hartono, pehobi koi asal Kabupaten Kediri, Jawa Timur, sukses meraih gelar juara umum dan berhak mendapatkan piala Presiden.

565_-140Pada kontes itu Doni mengikutkan 120 koi koleksinya di berbagai kelas dan meraih 22.025 poin. “Rasanya senang dan baru pertama kali ini meraih piala presiden,” ujarnya. Doni Hartono sukses gelar bergengsi itu lantaran intensif merawat klangenan. “Saya rutin memberikan pakan 3 kali sehari dengan dosis 3% dari bobot tubuh ikan,” ujarnya. Namun, sebulan menjelang kontes koi, ia tingkatkan jumlah pakan 2—3%. Doni juga menjaga suhu air kolam 24°C agar penampilan ikan semakin maksimal.

Melebihi target

Para juri dan pemilik ikan koi juara kontes di Blitar, Jawa Timur.

Para juri dan pemilik ikan koi juara kontes di Blitar, Jawa Timur.

Menurut ketua panitia kontes, Agus Rianto, kontes kali ini adalah ke-16 kalinya yang diselenggarakan Blitar Koi Club (BKC). Para peserta berdatangan dari berbagai daerah seperti Surabaya, Jakarta, Blitar, dan Bandung. “Alhamdulillah jumlah peserta melebihi target yaitu 877 ikan, padahal targetnya 700 peserta,” ujar Agus. Menurut ketua Asosiasi Pencinta Koi Indonesia (APKI), Sugiarto Budiono, kontes kali ini cukup semarak dan meriah dibanding dengan kontes sebelumnya.

Itu karena kualitas ikan koi asal Blitar terus meningkat. “Koi asal Blitar saat ini sulit dikalahkan oleh koi dari daerah mana pun termasuk koi impor,” ujar Sugiarto. Ia berharap, dengan kontes yang APKI selenggarakan, gairah masyarakat untuk mencintai ikan hias, khususnya koi, di berbagai daerah di seluruh Indonesia meningkat. (Bondan Setyawan dan Muhamad Fajar Ramadhan)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Tags:
Subscribe
Notify of
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x