Permintaan kelapa kopyor untuk industri minuman semakin meningkat

Permintaan kelapa kopyor untuk industri minuman semakin meningkat

Kultur embrio hasilkan kelapa berpotensi 100% kopyor.

Tiga tahun lalu, Masyuri menanam 88 bibit kelapa kopyor di halaman rumahnya di Desa Sambiroto, Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati. Tinggi pohon kelapa itu baru 1,2 m ketika berbuah pertama kali. Sebuah pohon mengeluarkan tandan berisi 8—10 buah. Dari jumlah itu, paling banyak 40% yang kopyor. Artinya, pekebun berusia 53 tahun itu hanya memetik maksimal 4 buah kelapa kopyor dari sebuah tandan, selebihnya kelapa biasa.

Masyuri menanam kelapa kopyor konvensional hasil seleksi bibit dengan potensi hasil 40%. Bila 1 tandan berisi 10 kelapa, yang kopyor maksimal 4 buah. Sisa buah yang tidak kopyor ia jadikan bibit. Menurut peneliti di Balai Penelitian Tanaman Palma, Manado, Sulawesi Utara, Ir Ismail Maskromo MS, potensi hasil kelapa kopyor tipe genjah hanya 50%. Rendahnya hasil  lantaran kopyor merupakan sifat resesif sehingga produksi terbatas.

Tanpa tempurung

Andai Masyuri menanam bibit kultur embrio, tentu ia berpotensi mendapat 100% kopyor. Sejak 1993, Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia (BPBPI) mengembangkan teknologi kultur embrio untuk pengembangbiakan kelapa kopyor secara komersial. “Hasil kultur embrio menghasilkan 99% kelapa kopyor,” ujar kepala BPBPI, Dr Ir Priyono. Pada 1997, teknologi perakitan bibit kopyor itu mendapat hak paten dari Direktorat Jenderal Hak Cipta, Paten dan Merek, dengan Nomor ID 0000957.

Dr Ir Priyono

Dr Ir Priyono

Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia di bawah PT Riset Perkebunan Nusantara menanam kelapa kopyor di lahan seluas 1 ha. Lokasi penanaman di kebun Percobaan Ciomas, Bogor, Jawa Barat, Sebanyak 70 pohon kelapa kopyor. “Sejak dari manggar, buah kelapa kopyor siap panen dalam 10—12 bulan,” kata Dr Ir Laksmita Prima Santi MSi, kepala Urusan Usaha dan Pelayanan BPBPI. Pohon hasil kultur embrio itu berderet rapi dengan jarak 9 m x 9 m. Setiap bulan, pohon menghasilkan satu tandan. Dari satu pohon berumur 18 tahun, BPBPI memanen 6—10 kelapa kopyor per bulan. Panen   berlangsung rutin sejak 13 tahun silam.

Baca juga:  Terpikat Dara Cantik

Buah kopyor tidak bisa langsung dijadikan bibit karena embrio terlepas dari endosperm saat buah siap petik, yaitu pada umur 10—12 bulan. Padahal, bibit yang berbuah 100% kopyor hanya dapat diperoleh dari buah kopyor. Itu sebabnya BPBPI menumbuhkan embrio buah kopyor di laboratorium secara kultur in vitro (dalam tabung gelas, red). Dengan cara itu, 1 buah menghasilkan 1 bibit.

Menurut Laksmita, permintaan kelapa kopyor konsumsi tinggi. Ia menjual dalam bentuk kemasan berisi 250 gram daging buah kelapa kopyor. Produk itu mengantongi izin industri rumah tangga dari Dinas Kesehatan Kota Bogor. Kelapa kopyor produksi BPBPI lulus berbagai uji laboratorium, seperti uji pangan, uji kimia, dan uji mikrobakteri. Untuk memperpanjang umur simpan, mereka menyimpan daging kelapa kopyor dalam ruang pendingin bersuhu -18oC. Tujuannya, mencegah perkembangan bakteri. “Cara itu mengawetkan daging kelapa kopyor minimal selama 3 bulan,” ujar Laksmita

Kultur embrio menghasilkan kelapa kopyor yang sama dengan induk

Kultur embrio menghasilkan kelapa kopyor yang sama dengan induk

Permintaan datang dari restoran di daerah Jakarta dan Bogor. “Ada juga permintaan dari pabrik es krim sebesar 2 ton per bulan, tetapi belum sanggup kami penuhi,” ujarnya. Untuk memenuhi permintaan pasar, BPBPI menanam 5.000 bibit hasil kultur embrio sejak Juli 2013 di kebun Ciomas dan Leuwiliang, Bogor, Jawa Barat. Permintaan terhadap bibit juga tinggi tapi belum dapat dipenuhi.

Kultur embrio

Menurut  Ismail, idealnya penanaman bibit hasil kultur embrio dilakukan dalam skala luas, minimal 100 pohon tanpa tanaman kelapa nonkopyor (normal) di lahan sama. Pohon kelapa nonkopyor di sekitar kebun mempengaruhi persentase terbentuknya buah kopyor. Jika bunga jantan berasal dari kelapa kopyor konvensional, persentase buah kopyor berkurang. Penurunan akan lebih besar jika yang menyerbuki bunga jantan dari kelapa normal atau nonkopyor. “Fenomena itu disebut efek metaxenia. Artinya, efek langsung dari polen terhadap pembentukan buah,” ujar Ismail.

Baca juga:  Andalan Buka Pasar

Menurut Priyono, embrio berkualitas berasal dari kelapa berumur 10—12 bulan atau tua di pohon. “Buah kopyor tua di pohon menghasilkan embrio yang ideal,” katanya. Ia memilih buah yang bulat sempurna, mulus, dan tidak pecah.

Perekebunan kelapa kopyor  di kebun milik Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia

Perekebunan kelapa kopyor di kebun milik Balai Penelitian Bioteknologi Perkebunan Indonesia

Embrio berada tepat di bawah mata tunas pada tempurung kelapa. Menurutnya, embrio yang cepat berkecambah biasanya berukuran kecil, berbentuk kotak, dan padat. “Embrio besar  cenderung lambat, bahkan gagal berkecambah,” ujar alumnus Universite de Rennes1, Perancis, itu. Pemilihan embrio yang baik mampu mengurangi kegagalan dalam proses kultur embrio. Tidak semua embrio bisa tumbuh. Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan kultur embrio, antara lain sterilisasi, aklimatisasi di lapang, sampai sumber daya manusia. Dengan seleksi ketat itu, keberhasilan pertumbuhan embrio bisa mencapai 90%.

Untuk memperbanyak kelapa kopyor melalui kultur embrio, embrio diambil lalu ditumbuhkan di laboratorium. Fase pertumbuhan bibit di laboratorium membutuhkan waktu 9 bulan. Setelah itu bibit ditanam di pembibitan untuk aklimatisasi atau penyesuaian dengan lingkungan selama 6 bulan. Total waktu untuk menghasilkan bibit kopyor kultur embrio mencapai 15 bulan. “Target kami menghasilkan 12.000 bibit kelapa kopyor pada 2015, sehingga kultur embrio kami mulai dari sekarang,” ujar Laksmita. Dengan bibit hasil kultur embrio, kelak Masyuri bisa memanen bibit kopyor 100%. (Kartika Restu Susilo)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d