Terbuka Mata Lihat Matalada 1

Daging tebal, biji kecil, dan genjah. Itulah lengkeng biji lada dan satu jari sarawak.

Mata lada atau satu jari sarawak berkulit buah putih

Mata lada atau satu jari
sarawak berkulit buah putih

Sebatang pohon bertajuk piramida membetot perhatian Ir Wiwik Wijayahadi ketika mengunjungi lokasi proyek di Sarawak, Malaysia. Wiwik meminta sang rekan yang mengendari mobil untuk menepi. Wiwik manajer pemasaran benih PT DuPont Indonesia itu lantas berjalan untuk mengecek pohon. Sosok piramida itu ternyata pohon nangka. Saat mencari penjaga kebun untuk bertanya lebih jauh, ia melihat penemuan lain, yakni 6 jenis lengkeng. Beberapa di antaranya tengah berbuah.

Yang membuat Wiwik terpana, lengkeng itu berkulit putih, nyaris menyerupai duku. Ukurannya sedikit lebih besar daripada koin Rp500, kira-kira bergaris tengah 2,5—3 cm. Atas izin penjaga kebun, ia memetik sedompol buah lalu mengupas buahnya. Buah menguarkan aroma harum. Daging buah tampak transparan dan kering. Meski baru matang sempurna sebulan lagi, daging terasa manis ketika Wiwik mencecapnya. Menurut penjaga kebun, lengkeng itu bernama biji lada karena bijinya kecil.

Genetis

Wiwik Wijayahadi "menemukan" biji lada dan satu jari sarawak pada 2009

Wiwik Wijayahadi “menemukan” biji lada dan satu jari sarawak pada 2009

Di sepanjang jalan trans Kalimantan yang ia lalui memang banyak tumbuh lada Piper nigrum. Menurut Ir Agus Sugiyatno MP dari Balai Penelitian Tanaman Jeruk dan Buah Subtropika (Balitjestro), biji kecil lengkeng biji lada murni sifat bawaan lengkeng itu. Daun biji lada membulat di tengah dan berujung runcing serta berwarna hijau tua. Selain biji lada, Wiwik juga menemukan lengkeng putih lain, tetapi memiliki pelat atau ring di kulit buahnya. Pelat itu muncul seragam di semua buah. Bentuk daun pun berbeda dengan biji lada: ujung runcing dan warna hijau tua lebih pekat daripada biji lada.

Itu membuat Wiwik yakin keduanya jenis berbeda. Ia menyematkan julukan satu jari sarawak kepada Dimocarpus longan itu. Nama satu jari menunjukkan daging buah yang tebal mencapai seruas jari. Sementara sarawak menunjukkan tempat ditemukannya lengkeng itu. Lengkeng satu jari sarawak berdaging buah tebal, nyaris setebal biji lada. Daging itu kering dan bercitarasa manis. Sayang, Wiwik belum sempat mengukur kadar kemanisan dua lengkeng itu. Lengkeng satu jari sarawak memiliki bagian yang dapat dimakan (edible portion) sebanyak 60%; biji lada, 85%.

Baca juga:  Merah Bertahan

Dari perhentian tak terduga pada Agustus 2009 itu, Wiwik memboyong lengkeng biji lada dan satu jari sarawak masing-masing 1 bibit. Saat itu kondisi bibit asal cangkokan setinggi 40 cm itu memprihatinkan. “Tidak ada tanda bakal muncul tunas di bibit itu,” kata ayah 2 putri itu. Begitu tiba di Yogyakarta, ia menanam bibit-bibit merana itu di polibag berukuran 20 cm x 25 cm. Media tanam berupa campuran tanah, sekam, dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1.

Untuk menyehatkan tanaman ia menyemprotkan larutan pupuk daun sepekan sekali selama 4 pekan. “Kedua bibit itu tampak sehat dan segar setelah 2 pekan di polibag,” kata Wiwik. Kedua lengkeng itu masih menyimpan kejutan lain. Selang 4 bulan pascatanam di polibag, mereka berbunga. Wiwik pun segera merompes bunga itu agar tanaman berumur panjang. Sifat genjah itu menunjukkan biji lada dan satu jari sarawak tidak memerlukan perlakuan khusus untuk berbuah.

Mata lada berumur 2 tahun milik Suko Budi Prayogo di Semarang

Mata lada berumur 2 tahun milik Suko Budi Prayogo di
Semarang

Menurut Wiwik, biji lada dan satu jari sarawak termasuk lengkeng non temperate (tropis), seperti lengkeng pingpong atau aroma durian. Sementara, kelompok temperate (subtropis) meliputi itoh, biew kiew, atau puang tong. Lazimnya lengkeng temperate tumbuh di dataran tinggi sehingga memerlukan perlakuan khusus agar berbuah. Produktivitas satu jari sarawak di umur 3 tahun mencapai 25—40 kg buah, sedangkan biji lada 20—32 kg.

Laku keras

Wiwik menyerahkan perbanyakan matalada dan satu jari sarawak ke seorang teman di Salaman, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, pada akhir 2009,. “Saya hanya mengoleksi, tidak memperbanyak,” kata Wiwik. Sang teman memperbanyak dengan cara grafting terhadap pohon itoh asal biji berumur dua tahun. Dalam waktu singkat, sang teman menghasilkan banyak bibit. Wiwik membanderol bibit biji lada dan satu jari sarawak setinggi 40 cm masing-masing seharga Rp100.000.

Samlawi (kakan) dan anis menjual 5.000 bibit mata lada dalam 6 bulan

Samlawi (kakan) dan anis
menjual 5.000 bibit mata lada
dalam 6 bulan

Ternyata biji lada dan satu jari sarawak belum berhenti mengejutkan Wiwik. Penjualan bibit keduanya gilang gemilang. “Selama 2010—2012 terjual sekitar 5.000 bibit biji lada dan satu jari sarawak ke hampir seluruh wilayah Indonesia,” kata alumnus Fakultas Pertanian Universitas Gadjah Mada itu. Seorang pembeli bahkan bolak balik sampai 7 kali. Setiap datang, sang pelanggan mengajak orang berbeda. “Mereka tertarik membeli karena kulit buah putih,” ujar Wiwik. Sayang, ia tidak mencatat identitas sang pelanggan. Mereka mengetahui lengkeng putih dari laman kepunyaan Wiwik di dunia maya.

Baca juga:  Para Penakluk Karper

Kejutan lengkeng satu jari sarawak juga dirasakan Samlawi, penangkar tanaman buah lain di Salaman. Ia memperoleh bibitnya dari seorang teman. Bedanya, ia menjuluki lengkeng satu jari sarawak sebagai lengkeng matalada. Saat itu Samlawi tertarik memperbanyak karena penampilan berbeda, daging tebal, dan biji kecil. Ia lantas memperbanyak. Hasilnya mengejutkan:selama November 2013—April 2014, ia menjual 5.000 bibit satu jari sarawak hampir ke seluruh Indonesia. Samlawi mengirim bibit kerabat jambu air itu ke Pontianak, Malang, dan Papua.

Samlawi memperbanyak sendiri lengkeng asal Sarawak itu. Dengan menggunakan lengkeng lokal sebagai batang bawah, saban bulan ia menghasilkan 1.000—2.000 bibit. “Lengkeng lokal adaptif sehingga cocok untuk batang bawah,” kata pria kelahiran Magelang itu. Harga bibit tergantung ukuran batang bawah. Semakin besar, harga semakin mahal. Maklum, pertumbuhan tanaman dengan batang bawah besar lebih cepat. Samlawi menjual bibit mata lada setinggi 40 cm seharga Rp125.000 per batang. (Riefza Vebriansyah)

FOTO:

  1. Mata lada atau satu jari sarawak berkulit buah putih
  2. Wiwik Wijayahadi “menemukan” biji lada dan satu jari sarawak pada 2009
  3. Samlawi (kakan) dan anis menjual 5.000 bibit mata lada dalam 6 bulan
  4. Mata lada berumur 2 tahun milik Suko Budi Prayogo di Semarang
  5. Bibit biji lada siap tanam

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *