Terbaik Versi Abang Sam 1
Caudill’s Monopoly menjadi BIS hasil penjurian Randy Shumaker

Caudill’s Monopoly menjadi BIS hasil penjurian Randy Shumaker

Pada 2013 anaknya menang. Kini 2014 sang induk menjadi yang terbaik.

Senyum kemenangan menghias wajah Akbari Wahyu Febrika saat Caudill’s Monopoly meraih gelar best in show (BIS) pada kontes kelinci tingkat nasional. Gelar itu tertinggi pada kontes kelinci se-tanahair yang diselenggarakan Indonesia Rabbit Society (IRS). Caudill’s Monopoly memang layak juara. Kelinci jantan itu dalam puncak penampilannya. Menurut juri yang menilai, Randy Shumaker, kepala dan tubuh kelinci berumur 3 tahun itu bagus serta penampilannya mengagumkan.

Akbari mendapatkan Caudill’s dari penangkar jersey wooly beken di Amerika Serikat, Brian Caudill. Ia membeli Caudill’s US$350 setara Rp3-juta pada November 2012. Panitia mendatangkan 2 juri dari American Rabbit Breeder Association (ARBA). Selain Randy, juri lain dari Amerika Serikat adalah Josh Humphries. Setiap juri berhak memilih juara sesuai hasil penilaian masing-masing. Jadi, kontes yang berlangsung pada 1 Juni 2014 itu memilih 2 kelinci peraih BIS.

Ibanez milik Trisno Syafiq juara kategori cavy

Ibanez milik Trisno Syafiq juara kategori cavy

Kelas specialty
Berdasarkan penilaian Josh, Artifact milik Dani Wardana dari Bandung, Jawa Barat, sukses meraih BIS. Kelinci seharga US$1.000 itu memang tampil maksimal. Artifact menjadi kampiun karena, “Postur tubuh bagus. Selain itu antara kepala dan telinga juga seimbang,” kata Josh. Kontes bertajuk Indonesia ARBA Show 2014 itu berlangsung meriah. Total 200 kelinci mengikuti kontes tahunan itu. Peserta berasal dari Tangerang, Jakarta, Bandung, dan Yogyakarta.

Selain kontes kelinci, IRS juga mengadakan adu cantik cavy atau marmut. Acara pada 31 Mei 2014 itu pun tak kalah seru dengan kontes kelinci. Lomba diikuti 38 cavy dari berbagai daerah seperti Bandung, Jakarta, Yogyakarta, dan Kediri. Jenis cavy yang berlomba meliputi teddy, teddy satin, texel, coronet, american, dan silkie. Pada kontes itu Ibanez, cavy hasil ternakan Trisno Syafiq dari Bandung, Jawa Barat, meraih gelar BIS. Ibanez cavy jenis texel berciri khas memiliki rambut panjang dan keriting di seluruh tubuh.

Akabri Wahyu Febrika (kiri) menerima hadiah dari juri

Akabri Wahyu Febrika (kiri) menerima hadiah dari juri

Menurut juri lomba, Randy Shumaker, Ibanez layak juara karena, “Jika dilihat dari atas bentuknya melingkar,” kata Randy. Artinya panjang rambut Marmut berumur 5 bulan itu merata dari kepala sampai ke ekor, keriting spiral, dan tidak gimbal. “Saya sangat senang dengan keberhasilan ini. Perawatan yang saya lakukan selama ini tidak sia-sia,” kata Trisno. Itu gelar dan kontes perdana yang diikuti marmut betina itu.

Baca juga:  Ampas Tahu Pakan Kelinci

Di hari yang sama dengan kontes marmut juga berlangsung Specialty Show Jersey Wooly dan Lionhead. Acara bertujuan mewadahi pehobi kedua jenis marmut itu yang memang semakin banyak. Pada jenis jersey wooly, Rifki’s Noir milik Adrya Faura meraih yang terbaik. Menurut Josh rambut kelinci berumur 3 tahun itu bagus. Sementara Lady Marmalade milik Martina Puspa menjadi kampiun di kelas lionhead. “Saya sangat senang dengan keberhasilan ini,” kata Martina.

Dua gelar
Selain kelinci dan marmut, kontes satwa yang berlangsung hampir bersamaan adalah burung berkicau. Penjurian 25 menit menobatkan Hummer sebagai yang terbaik di kelas Gubernur pada kontes burung berkicau tingkat nasional. Gubernur kelas paling bergengsi pada adu kicau di Bogor, Jawa Barat, yang diikuti 70 muraibatu. Tentu saja Copychus malabaricus terbaik yang bertanding di kelas dengan harga tiket Rp500.000 itu. Delapan juri dari Yayasan BnR Pusat menilai burung itu mulai pukul 14.30.

Artifact sukses meraih target menjadi BIS hasil penilaian Josh Humphries

Artifact sukses meraih target menjadi BIS hasil penilaian Josh Humphries

Pada akhir penjurian, 8 dari 5 juri meletakkan 5 bendera favorit A di tempat muraibatu dengan nomor gantangan 54. Itulah tempat Hummer bertengger. Setiap bendera favorit A bernilai 100. Juri memberikan bendera kepada burung yang tampil maksimal di antara 10 burung nomine. Burung juara mendapat bendera A lebih banyak dibanding yang lain. Pemilik Hummer, Herry TSI pun girang karena target menjadi yang terbaik di kelas utama terpenuhi.

Atas prestasi burung berumur 6 tahun itu, Herry mendapatkan hadiah utama berupa uang tunai Rp15-juta. Sebelumnya Hummer juga menjadi yang terbaik di kelas Walikota dengan hadiah Rp5-juta tunai. Total burung itu meraih 2 kampiun di kontes yang berlangsung pada 8 Juni 2014 itu. Hummer pantas jawara karena irama lagu dahsyat, variasi lagu banyak dan rapat, serta volume suaranya besar.
Boncu pun meraih 2 gelar pada kontes yang berlangsung di Badan Kepegawaian Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Wilayah I Bogor itu. Cucak hijau itu berjaya di kelas Walikota dan BKPP setelah mengalahkan 70 pesaingnya. Burung milik H Sadat dari Tangerang itu memang langganan juara. Pada 18 dan 25 Mei 2014 burung berumur 4 tahun itu meraih 3 gelar pada masing-masing kontes burung Piala Jakarta I 2014 dan Piala Pangdam III Siliwangi.

Hummer sukses meraih 2 gelar karena penampilannya maksimal

Hummer sukses meraih 2 gelar karena penampilannya maksimal

Boncu layak juara karena materi lagu komplet dan durasi kicau yang stabil dari awal hingga akhir penjurian. Penampilan yahud itu karena perawatan rutin. Setiap hari H Sadat memberikan 4 jangkrik pada pagi dan sore. Kemudian pukul 07.00 Sadat memandikan burung, menjemur selama 1 jam, lalu menutup sangkar dengan kain. Menjelang kontes pada H-1 dan hari-H, Sadat memberikan ulat hongkong dan jangkrik sepuasnya. Perawatan itu membuat Boncu tampil maksimal.

Baca juga:  Gabus: Ikan Paling Berfaedah

Ritual mandi
Pada jenis kenari standar besar, Aura Sakti menjadi kampiun di kelas Walikota. Burung milik Atnanda dari Jakarta Timur itu sukses mengalahkan 39 lawannya. Burung seharga Rp20-juta itu menjadi pemenang karena volume suaranya besar dan variasi lagu komplet. Nanda yakin Aura Sakti bakal menjadi jawara karena 2 sesi sebelum lomba burung itu mandi.

Ritual mandi itu kebiasaan burung berumur 2 tahun itu sebelum digantang. “Lazimnya jika burung itu mandi sendiri tanda bakal mendapat juara. Namun, sebaliknya. Jika tidak mandi, tidak menjadi juara,” kata Nanda. Pehobi burung di Rawamangun, Jakarta Timur, itu pun mendapatkan hadiah uang tunai Rp5-juta atas prestasi Aura Sakti. Kontes bertajuk Piala Gubernur Jawa Barat itu berlangsung meriah. (Riefza Vebriansyah)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments