Tepat Pilih Nozel 1
Irigasi di kebun bibit menggunakan pengabut membuat penyiraman lebih efisien.

Irigasi di kebun bibit menggunakan pengabut membuat penyiraman lebih efisien.

Pemilihan tipe nozel menentukan keberhasilan penyiraman, pemupukan, dan penyemprotan pestisida.

Petani di Kertasemaya, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, Solehuddin, masygul saat mendapati puluhan bibit beragam sayuran seperti cabai, tomat, dan terung itu rusak. Daunnya kuning dan layu. Di area perakaran terdapat lubang sedalam 3 cm karena terkikis air. Akibatnya, banyak akar tanaman berumur 10 hari itu yang terekspose dalam kondisi terputus. Itulah penyebab rusaknya bibit akibat salah penyiraman.

Karyawan yang biasa bertugas menyiram bibit tengah sakit. Petugas baru yang belum berpengalaman menggantikannya. Menurut Solehuddin air mengalir deras dan jarak dari tanah cukup jauh. Sejatinya ada cara tertentu agar penyiraman tidak mengganggu pertumbuhan tanaman. Menurut petani di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, Mubin penyiraman bibit baru menggunakan selang dapat dilakukan, tetapi harus hati-hati.

Alat semprot air kecil untuk skala pehobi.

Alat semprot air kecil untuk skala pehobi.

Pemecah aliran air
Mubin mengatakan, “Hindari merusak lapisan tanah, apalagi sampai ada bagian tanah yang hilang akibat kuatnya arus air. Yang penting media tanam dari bagian atas sampai bawah basah. Paling aman menggunakan alat penyiram air yang ujungnya terdapat nozel sehingga butiran air berukuran kecil dan tidak membahayakan pertumbuhan bibit.” Kini penyiraman tanaman menggunakan nosel sudah lazim.

Cairan pengisinya dapat berupa pupuk daun seperti yang dilakukan Yos Sutiyoso untuk merawat anggrek. “Butiran cairan yang menyerupai kabut membuat pupuk daun tidak mudah hilang dari daun. Alat itu cocok untuk pehobi pemula atau pekebun skala kecil,” kata ahli nutrisi tanaman di Tebet, Jakarta Selatan, itu. Untuk memenuhi kebutuhan yang lebih luas, dalam greenhouse, misalnya, pekebun dapat memasang nozel pada saluran air.

Baca juga:  Segarnya Es Krim Sayuran

Ketika memerlukan penyiraman, petani tinggal mengaktifkan keran. Menurut Evi Kurniati, periset di Jurusan Keteknikan Pertanian, Universitas Brawijaya, irigasi curah cara pemberian air paling ideal. Arah air dari bagian atas tanaman dan menyerupai curahan hujan sehingga selain untuk memenuhi kebutuhan air pada tanaman juga dapat menciptakan iklim mikro di sekitar tanaman khususnya kelembapan yang dibutuhkan anggrek.

Kurniati meneliti desain jaringan irigasi pada anggrek–komoditas bernilai ekonomis tinggi dan memerlukan kelembapan tinggi. Ia meriset pada anggrek cattleya berumur 6 bulan di greenhouse berukuran 12 m x 15 m. Kurniati menyimpulkan bahwa alat kontrol otomatis pada jaringan irigasi curah mampu mengendalikan suhu dan kelembapan. Dampaknya meningkatkankan efisiensi dan efektifitas pada budidaya anggrek.

Ukuran droplet
Selain para petani, perancang taman juga memanfaatkan nozel untuk menyiram tanaman. Menurut pakar dekorasi taman dari Jakarta Selatan, Maria Liopisa, kini mulai banyak taman di gedung, padang golf, atau perumahan elite yang memanfaatkan sistem penyiraman moderen itu. Liopisa mengatakan penggunaan nozel, “Sangat efektif untuk menyiram lahan rerumputan di areal yang luas.”

Penggunaan nozel pada budidaya sayuran biasanya pada alat penyemprot pestisida. “Nozel mempunyai fungsi utama memecah atau atomisasi larutan semprot menjadi butiran semprot (droplet) . Fungsi lainnya dari nozel menentukan ukuran butiran semprot, mengatur angka curah (flow rate), dan mengatur distribusi semprotan,” ujar dosen Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Ir Agus Nugroho Setiawan MP.

Menurut manajer pemasaran PT Progress Jaya Nusantara, Wirawan, penyemprot manual umum dipakai mulai dari pehobi sampai petani dengan dengan luasan sedang. “Jenis penyemprot otomatis cocok dipakai untuk pekebun atau petani dengan lahan luas. Adanya motor sebagai penggerak pompa secara otomatis akan menghemat energi tenaga kerja dan menjamin kontinuitas semprotan, sehingga tidak ada bagian yang terlewat.

Penyemprotan pestisida di sawah dengan alat semprot portabel.

Penyemprotan pestisida di sawah dengan alat semprot portabel.

Wirawan mengatakan keberhasilan penyemprotan sangat ditentukan oleh tingkat peliputan atau tingkat penutupan area (coverage). Besar kecilnya droplet tergantung nozel yang dipasang pada ujung alat semprot. Menurut Ir Agus Nugroho Setiawan, MP, tingkat penutupan area atau peliputan dinyatakan dengan angka kepadatan droplet (droplet density), yaitu jumlah droplet yang terdapat pada setiap satuan luas bidang sasaran.

Baca juga:  Bintaro Atasi Rayap

“Untuk aplikasi insektisida, peliputan minimal 20–30 droplet per cm2. Pada herbisida harus memperhitungkan pratumbuh dan pascatumbuh. Untuk pratumbuh peliputan minimal 20–30 droplet, sedangkan pada pascatumbuh 30– 40 droplet per cm2. Tingkat penutupan area untuk fungisida 50–70 droplet per cm2. “Peran nozel ternyata penting untuk memaksimalkan tingkat keberhasilan, efektivitas, dan nilai ekonomis aplikasi penyemprotan dalam usaha budidaya pertanian,” ujar Agus. (Muhammad Hernawan Nugroho)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments