Tepat Kemas Sidat 1
Sidat siap panen berbobot minimal 250 g.

Sidat siap panen berbobot minimal 250 g.

Trik mengemas sidat untuk pengiriman jarak jauh.

Sudiarso meletakkan gumpalan mirip pasta di wadah plastik di tepi kolam. Dalam sekejap sosok-sosok hitam mengilap bertubuh panjang dan licin mengeroyok gumpalan itu sampai ludes dalam hitungan detik. Sudiarso berdiri mengamati di tepi kolam. Ia menaksir bobot sidat-sidat Anguilla sp berumur 7 bulan sejak tebar itu minimal 250 g—pas untuk panen.

Peternak di Suryodiningratan, Kecamatan Mantrijeron, Yogyakarta itu memuasakan sidat agar semua kotoran sidat keluar. Maklum, kotoran itu mengandung amonia yang bersifat racun. Jika sidat membuang kotoran pascapengemasan, mereka bakal mati keracunan kotoran sendiri. Setelah dua hari tanpa makan, ia mengurangi ketinggian air dalam kolam semen berukuran 13 m x 23 m itu untuk memanen. Normalnya kedalaman air 1 m dari dasar.

Sudiarso mengekspor sidat ke Jepang.

Sudiarso mengekspor sidat ke Jepang.

Stirofoam
Saat memanen, ia menurunkan ketinggian air menjadi sepertiga bagian. Cara lain, ia memberi pakan lalu menjaringnya satu-persatu dengan hati-hati agar sidat tidak stres. Sudiarso memanen 6 ton ikan anggota famili Anguillidae itu ketika berumur 6—8 bulan sejak tebar. Saat itu ia menebar 1 ton bibit berbobot 50 g per ekor—biasa disebut fingerling. Pada bulan ketiga, ia mengambil 8 ekor sidat dari 8 titik yang tersebar di kolam sebagai sampel untuk mengamati pertumbuhan. Ia mengulang kegiatan itu 2 pekan sekali sampai panen.

Menurut lelaki asal Yogyakarta itu, bobot satu-satunya parameter sidat siap panen. Tingkat kematian sidat hasil panenan Sudiarso tak sampai 5% lantaran ia menggunakan air mengalir. Seluruh sidat ia ekspor ke Jepang melalui tiga eksportir, masing-masing sebanyak 2 ton. Selama ini ia belum pernah menjual sidat konsumsi ke pasar lokal. Setelah tawar-menawar, ayah 1 anak itu mendapat harga Rp130.000 per kg sehingga omzetnya mencapai Rp780-juta.

Baca juga:  Tiga Tahap Besarkan Sidat

Sudiarso mengirim sidat kepada pembeli dalam kotak stirofoam berukuran 30 cm x 40 cm x 20 cm. Menurut pehobi berburu itu, sebuah kotak menampung 15 kg sidat ukuran konsumsi. “Kotak stirifoam kuat dan ringan sehingga tidak membuat biaya pengiriman membengkak,” ujar Sudiarso. Ia mengisi plastik dengan 4 kg air, memasukkan ikan nokturnal itu, mengalirkan oksigen, lalu mengikat plastik itu.

Es batu bisa membius sidat selama perjalanan untuk mengurangi gerak yang dapat melukai sidat lainnya.

Es batu bisa membius sidat selama perjalanan untuk mengurangi gerak yang dapat melukai sidat lainnya.

Sebelum memasukkan sidat, ia mengisi kotak stirofoam dengan es kering. “Es menidurkan sidat dan membuatnya tidak banyak bergerak sehingga mengurangi susut bobot,” kata Sudiarso. Lelaki kelahiran 21 September 1966 itu kemudian memasukkan stirofoam itu ke dalam kardus lalu melapisi kardus dengan plastik dan mengirimkan ke balai karantina. Setelah lolos uji, sidat masuk bagasi pesawat lalu menempuh 20 jam perjalanan sampai kepada pembeli.

Lokal
Sukirno Budhianto di Kecamatan Sampang, Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah, belum pernah mengekspor sidat. Ia kesulitan untuk memenuhi kuota eksportir yang besar dan kontinuitas produk. “Saya masih mengandalkan tangkapan dari alam, sementara pasokan alam tidak menentu. Akibatnya sulit menjaga kontinuitas produk,” ujarnya. Selain itu menurut Budhi—sapaan akrabnya, eksportir lebih menghendaki sidat hasil budidaya dengan tekstur daging lebih lembut karena kaya lemak.

Untuk memenuhi permintaan pasar dari Surabaya dan Jakarta, Budhi mengandalkan kargo kereta api. “Pernah mengirim ke Bogor, tetapi tidak berlanjut karena transportasi rumit,” ujar pehobi melancong itu. Hal itu karena belum ada jasa pengiriman melalui kereta ke Bogor, sehingga ia harus mencarter mobil.

Budhi hanya menggunakan stirofoam tanpa plastik atau kardus ketika mengemas sidat. “Sidat langsung saya masukkan stirofoam, saya beri es batu sekitar 3 kg, air 10 kg, saya tutup rapat lalu diberi lubang untuk pernapasan ikan,” katanya. Budhi memasukkan 25 kg ikan predator itu per kotak. Jumlah sidat lebih lantaran tak ada ruang yang terbuang. “Kalau pakai plastik dan diisi oksigen, pasti ada ruang karena plastik menggembung,” ujar Budhi.

Pengemasan dengan stirofoam menghemat biaya pengiriman.

Pengemasan dengan stirofoam menghemat biaya pengiriman.

Anak pertama dari dua bersaudara itu mesti datang ke stasiun kereta api Kroya sebelum pukul 22.00. Ia harus melakukan pengecekan barang dan pengecekan kereta yang membawa sidat itu. “Biasanya kereta berangkat pukul 01.00,” kata Budhi. Namun, pengemasan dengan stirofoam langsung tidak selalu ia lakukan. “Tergantung permintaan konsumen,” ujar lelaki kelahiran Cilacap 10 Maret 1984 itu.

Baca juga:  Cabai Suplemen Pleci

Dengan cara pengemasan itu ia menghemat 10 kg ongkos pengiriman per kotak. Menurut Budhi bila kemasan sidat dalam plastik kemudian dimasukkan ke dalam stirofoam dijejalkan sampai 25 kg oksigennya akan habis. Selain itu, penggunaan es batu juga merupakan hal yang penting.

Peneliti sidat dari jurusan Biologi, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Sebelas Maret, Dr Agung Budiharjo, MSi, mengungkapkan hal senada. “Jika pengiriman hidup tanpa diberi es, bisa mati semua sidat,” kata Agung. Menurut pengajar mata kuliah Biosistematika itu, sidat merupakan hewan yang sangat aktif, jika tidak dibius bisa banyak bergerak dan melukai yang lain. Sudiarso dan Budhi membuktikan bahwa penanganan pascapanen salah satu kunci meraup laba budidaya sidat. (Bondan Setyawan)

COVER 1.pdf

  1. Siapkan sidat yang akan dikemas setelah dua hari sebelumnya dipuaskan untuk mengeluarkan kotorannya.
  2. Siapkan peralatan berupa kotak stirofoam, es batu, dan air bersih.
  3. Masukkan air sebanyak 10 kg, es batu 3 kg, dan sidat dengan bobot total 25 kg per kotak.
  4. Tutup rapat dan beri lubang di sekitar penutup untuk pernapasan sidat. Sidat siap kirim via kereta untuk pasar lokal.

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *