Lovebird berdarah pale fallow milik Ayub Setyawan.

Lovebird berdarah pale fallow milik Ayub Setyawan.

 

Inilah teknik hasilkan lovebird unggulan dari burung “biasa”.

Edi KLI Lamongan menjual lovebird seharga Rp60 juta dari indukan Rp19 juta.

Edi KLI Lamongan menjual lovebird seharga Rp60 juta dari indukan Rp19 juta.

Edi Suliyanto girang bukan kepalang karena lovebird miliknya laku Rp60 juta. Keelokan varian baru lovebird parblue berumur 3 bulan itu menjadi pemicu harga tinggi. Edi tak mengira bakal mendapatkan anakan biola dari perkawinan induk nonbiola. Peternak lovebird di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, itu mengandalkan blue split biola jantan dan parblue mouve betina. Blue split biola bukan termasuk lovebird biola karena ciri fisik biola tidak muncul. Namun, ia membawa gen biola.

Kehadiran anakan parblue biola violet bak rezeki nomplok bagi Edi. “Dapat jackpot, istilah peternak lovebird,” ujar pria berumur 39 tahun itu. Wajar bila Edi sangat senang karena ia hanya merogoh kocek sekitar Rp19 juta untuk membeli indukan nonbiola. Harga itu diperolehnya karena indukan dibeli saat berumur 3 bulan. Di dunia penangkaran lovebird cara itu lazim disebut paket hemat.

Menurut penangkar lovebird senior di Pesanggarahan, Jakarta Selatan, Waskito Nagabhirawa, kemunculan jackpot seperti parblue biola violet relatif jarang. “Tidak bisa dipastikan kapan muncul jackpot,” kata Waskito.

Pasangan baru

Hingga kini pasangan induk blue split biola jantan dan parblue mouve betina sudah 3 kali bertelur. Periode pertama pada awal 2018 hadir lovebird parblue biola violet. Periode kedua hanya muncul lovebird biru fischeri. Periode ketiga pada Mei 2018, Edi kembali mendapatkan lovebird parblue biola violet. Rencananya, ia memanfaatkan burung spesial itu sebagai indukan.

Soal induk nonbiola, Edi sudah memilikinya sejak 2016. Lovebird blue split biola jantan dan parblue mouve baru dijodohkan di pengujung 2017. Insipirasi itu datang dari seminar genetika lovebird besutan Komunitas Lovebird Indonesia (KLI) dan saran Waskito.

Trubus Edisi Juli 2018 Highrest.pdf

Pengalaman beternak Waskito Nagabhirawa sering dibagikan kepada Ayub dan Edi.

Ayub Setyawan memanfaatkan teknik paket hemat untuk menghasilkan lovebird berkualitas prima sejak 2012.

Ayub Setyawan memanfaatkan teknik paket hemat untuk menghasilkan lovebird berkualitas prima sejak 2012.

Sebelumnya kedua burung itu memiliki pasangan masing-masing dan telah berproduksi. “Saya tidak mengawinkan kedua lovebird itu sejak awal karena perbedaan umur 6 bulan,” tutur Edi KLI LA, sapaan akrab Edi Suliyanto. Selain itu, bila pasangan ditukar, sifat lovebird betina yang galak dan kerap menyerang pejantan hingga mati, jadi alasan lain tak menjodohkannya. Terlebih parblue mouve lebih tua dibandingkan blue split biola. Anggapan itu pupus sudah karena Edi mampu menjodohkan keduanya, sehingga menetaslah parblue biola violet.

Baca juga:  Inovasi Pertanian

Peternak lain bisa mengadopsi cara Edi mencetak parblue biola violet. Tantangannya, tak mudah mendapatkan pasangan blue split biola dan parblue mouve. Tidak banyak peternak yang mau melepas dua varian lovebird itu. Karenanya, kehadiran parblue biola violet sangat memperkaya dunia kaijaset—sebutan lovebird di Finlandia. Peternak harus rajin mempelajari dan memahami ilmu beternak lovebird untuk menghasilkan varian unggulan, demikian Edi berpesan.

Caranya, peternak harus sering berdiskusi dan meminta saran ke peternak lovebird senior. Nun di Kota Tuban, Jawa Timur, Ayub Setyawan, pun menerapkan teknik paket hemat untuk menghasilkan beragam varian lovebird unggulan seperti varian biola euwing dark blue split dilute. Burung yang terjual seharga Rp35 juta itu hasil perkawinan lovebird non biola, yaitu green series euwing/biola/dilute blue jantan dan parblue dilute betina.

Split

Menurut Waskito, penggunaan paket hemat bertujuan menekan anggaran peternak. Di samping itu, keterbatasan materi burung di pasaran juga menjadi alasan. Dengan upaya itu penangkar diuntungkan karena memperoleh lovebird idaman dengan biaya relatif rendah, seperti pengalaman Edi dan Ayub. Penggunaan lovebird split, demikian penangkar memberi istilah.

Parblue biola violet milik Edi KLI, jackpot perkawinan blue split biola jantan dan parblue mouve betina.

Parblue biola violet milik Edi KLI, jackpot perkawinan blue split biola jantan dan parblue mouve betina.

 

“Jika lovebird splitnya kuat, setiap perkawinan mesti keluar jackpot,” jelas Waskito. Begitu pun sebaliknya. Sayangnya, penangkar sulit menebak burung dengan split kuat atau lemah. Keberuntungan itu hanya mampu dibuktikan melalui penangkaran. Meski demikian cara itu belum tentu berhasil. “Split pasti bisa mengeluarkan jackpot. Namun frekuensi keluarnya jackpot di setiap split tidak bisa ditebak,” ucap Waskito yang telah beternak lovebird warna sejak 2012.

Itulah kelemahan teknik split, membutuhkan waktu lama untuk mendapatkan lovebird sesuai harapan. Kecuali sejak awal penangkar memilih menggunakan induk visual seperti lovebird biola atau pale fallow. Itu berarti penangkar mesti merogoh kocek lebih dalam untuk memiliki induk visual. Di kalangan peternak penggunaan lovebird split untuk menekan biaya bisa menjadi alternatif. Pengalaman Edi dan Ayub bisa menjadi pilihan menghasilkan lovebird berharga mahal. (Riefza Vebriansyah)

Baca juga:  Asap Cair: Sekali Suling Kelas Dua

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d