575_125Di bawah rindang pohon kosambi Schleichera oleosa ritual marapu itu bermula. Itu ritual pewarnaan tenun khas sumba. Lokasi upacara pewarnaan hanya berjarak beberapa puluh meter dari rumah salah satu perajin. Salah satu rangkaian ritual adalah pemotongan ayam lalu tetua adat melihat usus ayam. Jika usus terlihat baik maka proses pewarnaan biru diprediksi akan berjalan baik.

Keindahan kain tenun ikat sumba sohor sejak zaman kolonial.

Keindahan kain tenun ikat sumba sohor sejak zaman kolonial.

Singkat kata proses pewarnaan layaknya mewarnai kehidupan. Perlu keyakinan dan keseriusan sejak awal. Itulah sebabnya perlu rasa hormat dan restu dari sang kuasa agar kehidupan berjalan lebih baik. Proses pewarnaan terdiri atas pewarnaan hitam, biru, dan merah. Pewarnaan hitam menggunakan ramuan lumpur sungai dan tanaman bakau.

Masyarakat meletakkan bahan-bahan itu di sebuah wadah lalu memanaskannya di atas tungku. Selanjutnya mereka mencelupkan benang atau kain beberapa kali hingga berwarna hitam atau abu-abu. Namun, kini masyarakat Sumba, Nusa Tenggara Timur, mulai meninggalkan ritual marapu. Perajin tenun sumba sebagian besar juga meninggalkan pewarnaan hitam secara tradisional. Kini mereka memperoleh warna hitam dengan pencelupan tenun di cairan warna biru dan warna merah. Atau pencelupan warna biru beberapa kali.

Dalam pembuatan tenun ikat ada dua proses yang dilakukan. Pertama adalah pewarnaan benang pakan atau lukamba. Benang yang sudah diwarnai itu selanjutnya diproses menjadi lungsin. Nantinya lungsin akan diberi gambar desain lalu diikat sebelum diwarnai kembali. Kedua adalah pewarnaan lungsin atau benang yang telah diberi gambar desain dan diikat agar pewarna mengenai bagian mana saja dari kain tersebut sesuai warna yang dikehendaki.

Salah satu contoh desain motif pada kain tenun ikat.

Salah satu contoh desain motif pada kain tenun ikat.

Dalam pembuatan tenun ikat di Sumba Timur, pewarnaan salah satu bagian penting selain desain dan proses ikat. Secara tradisi warna utama dalam tenun ikat sumba adalah putih, hitam, merah, dan biru. Warna-warna utama itu memiliki gradasi seperti merah muda, biru muda, cokelat, atau abu-abu. Warna biru pada tenun ikat sumba menggunakan tanaman wora alias nila atau tarum Indigo tinctoria.

Sementara warna merah berasal dari kombu atau akar mengkudu Morinda citrifolia. Pewarnaan tenun terpengaruh musim. Jika musim hujan maka produksi tenun berwarna biru akan lebih banyak daripada warna merah. Sebaliknya saat musim kemarau produksi tenun dominan warna merah. Pewarnaan juga tergantung pada situasi etnobotani wilayah produsen tenun. Kecamatan Kanatang, misalnya, sangat terkenal dengan tenun warna biru. Hal itu karena untuk membuat warna merah mereka harus mencari akar mengkudu dari lokasi yang jauh.

Ramuan utama untuk proses pewarnaan biru adalah daun nila, kapur, dan abu. Namun, ada ramuan lainnya yang dirahasiakan dan menjadi warisan budaya turun-temurun dari nenek ke ibu lalu ke anak perempuan. Mereka membuat kapur dengan cara membakar kerang-kerang laut menggunakan kotoran sapi.

Gulungan benang bahan kain ikat tenun.

Gulungan benang bahan kain ikat tenun.

Proses pewarnaan wora atau nila disebut dengan nggilingu. Adapun orang yang mengerjakannya disebut dengan manggilingu. Dalam pembuatan pasta indigo itu mereka menyusun daun nila dalam wadah kemudian merendamnya dengan air selama beberapa hari. Mereka lantas memasukkan kapur dan mengocoknya berulang-ulangi hingga buih-buih di permukaan wadah berkurang. Pada proses itu akan terjadi perubahan warna air nila dari kuning kecokelatan, hijau, biru kehijauan, hingga menjadi biru.

Baca juga:  Herbal Atasi Kista Koledokal

Bau menyengat dan rasa panas akan timbul dalam proses pewarnaan itu. Karena itu manggilingu menggunakan penutup hidung serta kacamata agar tidak perih. Aroma menusuk, panas, dan mata pedih itu risiko yang harus diterima oleh perempuan Sumba Timur. Hal itu juga sekaligus menunjukkan betapa luar biasanya mereka dalam mewarnai selembar kain. Pewarnaan biru juga membuat tangan mereka itu berubah biru.

Saat ramuan warna biru sudah siap pakai mereka mencelupkan benang pakan atau lungsin. Pencelupan pertama akan menghasilkan warna biru muda. Pencelupan berikutnya akan mendapatkan warna yang lebih tua. Kemudian pencelupan terakhir menghasilkan warna biru yang paling tua mendekati hitam. Untuk pewarnaan merah bahan utama yang digunakan adalah akar mengkudu.

Kerajinan kain tenun ikat mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Kerajinan kain tenun ikat mampu meningkatkan perekonomian masyarakat setempat.

Para perajin menumbuk akar mengkudu, menambahkan kulit dan daun loba Symplocos fasciculate. Pekerjaan memerahkan tenun itu disebut kombu, sedangkan perempuan yang melakukannya disebut dengan makombu. Mereka meletakkan ramuan warna merah ke dalam wadah. Yang menarik pewarnaan merah masih ada proses sebelum mencelup warna yang disebut dengan perminyakan.

Mula-mula mereka merendam benang pakan atau lungsin pada ramuan berupa tepung kemiri, bunga biduri, dan kulit dadap. Mereka menumbuk halus seluruh bahan dan mencampur air. Selanjutnya mereka menjemur benang hingga kering betul. Setelah itu mereka melakukan proses pewarnaan merah. Perminyakan agar benang pakan maupun lungsin mampu mengikat warna merah dan memunculkan warna yang dikehendaki.

Di Sumba, Nusa Tenggara Timur, perempuan yang pandai menenun kain menjadi idaman.

Di Sumba, Nusa Tenggara Timur, perempuan yang pandai menenun kain menjadi idaman.

Untuk memperoleh daun loba Symplocos fasciculate sebagai salah satu pewarna merah terbaik harus didatangkan dari dataran tinggi yaitu dari wilayah hutan Wanggameti. Kerajinan tenun ikat rupanya mampu mempertemukan wilayah-wilayah yang jauh untuk saling membantu dan saling tukar bahan pewarna. Daerah pegunungan akan memberikan daun loba sebagai bagian pewarna merah.

Sementara daerah pesisir akan memberikan bantuan berupa gewang yang digunakan untuk mengikat tali yang menjadi bagian proses utama dari produksi tenun ikat. Begitu pula yang terjadi dengan desa-desa di Kecamatan Kanatang, Kecamatan Pahungalodu, dan Kecamatan Kambera.

Tenun ikat bagi masyarakat Sumba merupakan simbol status sosial pemilik atau pemakainya. Selain itu tenun menjadi alat pertukaran adat yang mengatur hubungan antarkerabat secara sosial budaya melalui upacara-upacara seperti perkawinan dan kematian. Oleh karena itu, kain tenun sumba menampilkan banyak simbol. Seiring dengan perkembangan zaman, kain tenun menjadi komoditas penting bagi perekenomian masyarakat.

Kini proses pembuatan kain tenun melibatkan kaum pria.

Kini proses pembuatan kain tenun melibatkan kaum pria.

Masyarakat juga mulai mengadopsi simbol-simbol baru dan moderen. Kain tenun ikat khas sumba ibarat cermin saat dikenakan. Ketika kain dilipat menjadi dua tepat pada bagian tengah lalu diletakkan pada pundak maka corak motif yang terlihat tampak sama dan sebangun. Prinsip cermin itu ibarat fenomena kehidupan sehari-hari yang saling berpasangan. Sebut saja bulan dan matahari, siang dan malam, serta atas dan bawah.

Baca juga:  Agar Ritus Tak Putus

Keindahan kain tenun sumba sohor sejak masa kolonial. Kepopulerannya bahkan mengalahkan cendana. Kini kain tenun ikat sumba mulai dilirik sebagai kekayaan warisan budaya setempat. Tenun ikat sudah menjadi primadona dalam industri dan perdagangan di Sumba Timur. Badan Pusat Statistik Kabupaten Sumba Timur mencatat 2.740 unit usaha rumah tangga yang memproduksi tenun ikat.

Dari jumlah itu tenaga kerja yang terserap mencapai 4.926 orang di seluruh Sumba Timur. Wilayah produksi kain tenun ikat sumba berada di pesisir seperti wilayah Kanatang, Kambera, Kaliuda, Pahunga Lodu, Rindi, Pau, Umalulu, dan Mangili. Kain tenun terbentuk dari proses menenun yang membutuhkan keterampilan. Yang istimewa, kain tenun asal Nusa Tenggara Timur berbeda dengan tenunan lain yang dijumpai di Indonesia.

Dahulu pembuatan kain tenun identik dengan tugas kaum perempuan.

Dahulu pembuatan kain tenun identik dengan tugas kaum perempuan.

Lazimnya, pengrajin mengikat benang pakan pada mesin tenun lalu memasukkan benang lungsin. Namun, penenun di Nusa Tenggara Timur justru melakukan sebaliknya. Mereka mengikat benang lungsin secara vertikal pada mesin. Selanjutnya, mereka memasukkan benang pakan secara horizontal pada benang lungsin yang sudah diikat itu.

Pemandangan rumah warga yang dihiasi dengan benang dan kain.

Pemandangan rumah warga yang dihiasi dengan benang dan kain.

Kain tenun sumba dibagi menjadi dua jenis yakni hinggi dan lau. Hinggi merupakan kain tenun ikat dengan bentuk empat persegi panjang yang biasanya digunakan pria. Sementara lau merupakan kain tenun berbentuk sarung yang dikenakan perempuan. Ada anggapan bahwa perempuan yang pandai menenun adalah wanita idaman. Perempuan mewarisi kepiawiaian menenun secara turun-temurun.

Proses pewarnaan pada benang yang akan digunakan untuk bahan tenun

Proses pewarnaan pada benang yang akan digunakan untuk bahan tenun

Mereka menganut garis patrilineal. Perempuan yang sudah menikah akan keluar dari rumah mengikuti suaminya. Mereka juga menanggalkan nama keluarga (kabihu) lalu menggantinya dengan nama keluarga suami. Dengan demikian, ilmu menenun diwariskan turun-temurun dari garis perempuan, tetapi yang mendapatkan apresiasi adalah garis keluarga pria. Oleh karena itu, perempuan yang bisa menenun idaman untuk dinikahi.

Warga setempat mengenakan kain tenun ikat khas Sumba.

Warga setempat mengenakan kain tenun ikat khas Sumba.

Begitu juga proses pewarnaan dalam tenun ikat sumba identik dengan pekerjaan perempuan. Pria dianggap tidak pantas melakukan pekerjaan itu, khususnya dalam meramu warna biru sebab bersifat sakral. Misalnya lokasi pewarnaan harus berjarak jauh dari rumah tinggal. Bahkan pada masa lalu harus berada jauh dari perkampungan dan sebisa mungkin jauh dari kegiatan manusia.

Produksi kain tenun ikat masih skala rumah tangga di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Produksi kain tenun ikat masih skala rumah tangga di Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur.

Selain itu pantang bagi pria dan wanita yang sedang hamil atau menstruasi untuk singgah di lokasi pewarnaan biru. Semula seluruh proses penenunan dilakukan perempuan. Namun, saat tenun menjadi komoditas yang mampu meningkatan pendapatan ekononi warga terjadi beberapa perubahan. Kaum pria mulai banyak terlibat dalam kegiatan menenun. Selain itu, masyarakat yang tinggal di pedalaman pun mulai turut serta menemun.

Dahulu bahan dasar benang berasal dari kapas, tetapi lambat laun digantikan dengan benang siap pakai.

Dahulu bahan dasar benang berasal dari kapas, tetapi lambat laun digantikan dengan benang siap pakai.

Padahal, mereka tidak memiliki sejarah pengatahuan mengenai tenun ikat. Contohnya masyarakat Lewa. Proses kawin campur antara orang Lewa dengan pesisir membuat tenun ikat populer. Masyarakat Lewa lantas ikut memproduksi tenun ikat sumba. Produksi tenun ikat sumba pada awalnya dilakukan secara manual dan tradisional dengan penggunaan pewarna alami. Proses pembuatan selembar kain butuh waktu dan ketekunan.

Tanaman indigo atau wora Indigo tinctoria sumber warna biru alami.

Tanaman indigo atau wora Indigo tinctoria sumber warna biru alami.

Bahan dan alat yang digunakan antara lain benang kapas, desain gambar dan ikat, pewarna, dan peralatan tenun. Benang yang akan ditenun sudah diberi warna terlebih dahulu. Warna-warna itu berasal dari dedaunan dan akar pepohonan. (Nora Ekawani, pencinta kain dan budaya)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d