Tentara Dalam Rangkaian 1
Rangkaian bunga karya Novembriati di Jakarta Selatan terinspirasi peristiwa Bandung Lautan Api

Rangkaian bunga karya Novembriati di Jakarta Selatan terinspirasi peristiwa Bandung Lautan Api

Rangkaian unik menyambut hari ulang tahun ke-69 Tentara Nasional Indonesia.

Lusi Ismail ingat betul ketika belia, sang ayah kerap menemaninya berbincang menghabiskan waktu senggang. “Saya senang mendengarkan kisah ayah bersama rekan-rekannya ketika berjuang merebut dan mempertahankan kemerdekaan,” ujarnya. Letnan Jenderal TNI Ismail Saleh, ayah Lusi, berhasil membawa imajinasi menuju suasana perang kala itu. Sayang, mantan menteri kehakiman itu berpulang pada 2008.

Lusi merindukan sepenggal kisah perjuangan yang selalu menjadi bahan cerita sang ayah. “Dunia militer sudah menjadi bagian hidup saya,” ujarnya. Menjelang hari ulang tahun Tentara Nasional Indonesia, Lusi bersama Lucia Raras, Novembriati Semeru, Anastasia Ferwidyasari, dan Irma Satriaji, yang tergabung dalam Ikatan Perangkai Bunga Indonesia (IPBI) cabang Jakarta Selatan mengobati rindu dengan membuat rangkaian bunga bertema militer. Untuk menunjang kesan tentara, mereka memilih Museum Satria Mandala di Jakarta Selatan sebagai stage rangkaian.

Miniatur tank karya Lucia Raras

Miniatur tank karya Lucia Raras

Senjata tiruan
Bagi Lusi, rangkaian bunga salah satu media seni untuk menyampaikan sebuah peristiwa atau era, misalnya peperangan. Oleh sebab itu, ia cermat memperhatikan materi-materi yang akan digunakan agar suasana era perjuangan muncul dalam rangkaian. Sebut saja alat perang yang menjadi barang paling berharga kala itu. Lusi mencoba membuat tiruan barang-barang itu dari sekumpulan materi flora.

Lusi Ismail memilih batang heliconia untuk meniru wujud bambu runcing

Lusi Ismail memilih batang heliconia untuk meniru wujud bambu runcing

“Bambu runcing merupakan senjata yang paling melegenda,” ujar Lusi. Terinspirasi dari senjata sederhana itu, ia membuat rangkaian sederhana tapi unik. Lusi membuat bambu runcing tiruan dari batang heliconia. Ia mengambil 8 batang tanaman ordo Zingiberales itu lalu menancapkan pada sebonggol batang pisang.

Baca juga:  Kopi Katura Titisan Bourbon

Agar barisan heliconia kuat, Lusi mengikat setiap batang heliconia itu menggunakan serat batang pisang dan futoi. Selanjutnya, ia meletakkan bunga plumeria, krisan, dan roncean melati untuk mempermanis rangkaian. Sebagai wujud kekagumannya pada pahlawan bangsa, Lusi menempelkan gambar Jenderal Soedirman berukuran 4 cm x 6 cm di beberapa titik batang heliconia.

Bagi Lusi era perjuangan memberikan ide segar untuk membuat rangkaian. Dengan bantuan sisus, daun hanjuang merah, daun walisongo, dan melati, ia membuat replika dinamit, granat, dan bom. Untuk membuat dinamit, pemilik toko bunga Edelweis Cantiqa Lestari itu menggunakan botol minum yang ditutup dengan daun walisongo. Granat dibuat dengan menggulung kardus bekas lalu ditutup dengan daun hanjuang merah.

Rangkaian pemanis meja karya Lusi Ismail menghias meja kuno

Rangkaian pemanis meja karya Lusi Ismail menghias meja kuno

Sementara bom dibuat dengan membentuk floral foam hingga menyerupai bola tenis lalu dilapisi plastik transparan. Lusi membuat bola tenis itu sebanyak dua buah lalu masing-masing ia tutup dengan bunga seruni alis krisan merah dan putih. Ia meletakkan ketiga senjata tiruan itu pada kawat ayam yang sudah ditutup dengan ratusan helai sisus. Ia menambahkan aksesori berupa topi baja hitam dan bendera yang disematkan pada sebilah bambu. Rangkaian unik itu berpadu apik dengan patung Jenderal Soedirman di dalam museum Satria Mandala.

Rangkaian lain karya Lusi juga tampak apik menghias meja peninggalan Soedirman di dalam museum. Ia mempercantik meja kuno itu dengan bola dari kumpulan aster merah dan batang tifa serut. Di sana, ia juga meletakkan selongsong peluru asli sebagai ornamen. Yang menarik, untuk membuat tiruan daun-daun berguguran, ia tidak memakai dedaunan kering. Lusi justru menggunakan daun segar berupa daun sawo yang sudah direndam dengan cairan pemutih selama setengah hari lalu diwarnai dengan pewarna kimia kuning. Ia juga meletakkan setangkai plumeria merah jambu dan kamboja putih agar rangkaian terkesan cantik.

Rangkaian bertema belantara karya Irma Satriaji

Rangkaian bertema belantara karya Irma Satriaji

Persembahan
Rangkaian karya Lucia Raras bertema serupa juga menarik. Ia membuat miniatur tank dari susunan bunga mawar merah, mawar putih, krisan hijau, heliconia, daun hanjuang, asparagus bintang, ruskus, dan akar kayu yang diletakkan di floral foam sepanjang 1 m. Sebagai moncong meriam, Raras menggulung karton hingga menyerupai terompet. Berikutnya, ia melilitkan sisal merah sampai menutup seluruh permukaan terompet.

Baca juga:  Kisah Cinta Penyebar Kefir

Sementara itu, Novembriati membuat rangkaian jumbo yang terinspirasi dari pertempuran heroik di Bandung atau dikenal “Bandung Lautan Api”. Atiek, sapaannya, menggunakan daun palem kering untuk menggambarkan api yang membakar kota Bandung kala itu. Dalam rangkaian itu, ia meletakkan seluruh materi seperti bunga anthurium merah, anthurium putih, krisan putih, dan asparagus bintang dalam sebuah bingkai baja berbentuk mirip dua gading yang saling berhadapan.

Bom, dinamit, dan granat dari materi flora

Bom, dinamit, dan granat dari materi flora

Perangkai bunga di Jakarta Timur, Irma Satriaji juga antusias membuat rangkaian bertema perjuangan. Ia memanfaatkan alang-alang untuk membuat rangkaian bertema belantara. Mula-mula, Irma meletakkan floral foam dalam wadah berbentuk segi empat yang bagian luarnya dibungkus dengan kain khas tentara.

Di atas floral foam itu, ia meletakkan bunga krisan putih, jengger ayam merah, bromelia, echeveria, dan babys breath. Di bagian belakang susunan bunga itu ia menancapkan sejumlah batang ilalang yang saling dikaitkan dengan daun morea. Terakhir, pemiliki toko bunga Flora Art Maker itu meletakkan velples alias tempat minum yang digunakan para tentara di bagian tengah sebagai pusat rangkaian. “Rangkaian ini kami persembahkan untuk menyambut ulang tahun ke-69 Tentara Nasional Indonesia,” ujar Irma. (Andari Titisari)

Sumber : t r u b u s – o n l i n e . c o . i d

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *